Rhenald Kasali Soroti Proyek Data Center Jatiluhur: Jangan Abaikan Fungsi Vital Waduk Demi AI

- Editor

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Rhenald Kasali Ph.D

Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Rhenald Kasali Ph.D

JAKARTA, Mediakarya – Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Rhenald Kasali Ph.D menyoroti polemik rencana penggunaan air dari Waduk Jatiluhur untuk kebutuhan pendinginan data center, termasuk AI data center.

Rhenald menilai proyek tersebut menuai sorotan karena proses perizinan yang dinilai belum rampung namun pembangunan sudah berjalan, sehingga memicu penghentian dan penyegelan sementara oleh pihak terkait.

“Proyek data center di Jatiluhur disorot karena masalah perizinan yang belum tuntas, tetapi proyeknya sudah dimulai,” ujar Rhenald seperti dikutip Mediakarya dari akun TikTok Rhenald Kasali, Jumat (2/10/2026).

Menurut Rhenald, persoalan utama terletak pada besarnya konsumsi air untuk sistem pendingin data center. Ia menyebut, data center berbasis kecerdasan buatan (AI) membutuhkan air dalam jumlah sangat besar.

Sementara itu, peruntukan awal Waduk Jatiluhur adalah untuk irigasi pertanian, pemenuhan air baku dan konsumsi warga, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), kebutuhan industri, dan perikanan.

Ia menjelaskan, konsumsi air data center di Jatiluhur diperkirakan mencapai sekitar 12 juta meter kubik per tahun. Angka tersebut memang hanya sebagian kecil dari total kapasitas waduk yang sekitar 2 hingga 3 miliar meter kubik. Namun, tetap berisiko mengingat debit air waduk bersifat fluktuatif dan sering surut saat musim kering atau kemarau.

Baca Juga:  Midea Cetak Rekor Global Semester I-2025, Perkuat Strategi Pertumbuhan di Indonesia

Rhenald mencontohkan kasus di luar negeri, seperti proyek data center Microsoft di Belanda dan beberapa wilayah di Amerika Serikat seperti Oregon, Memphis, dan South Carolina. Di wilayah tersebut, konsumsi air data center jauh melebihi estimasi awal hingga 4 sampai 7 kali lipat, bahkan menyedot air tanah hingga memicu kekeringan dan penolakan dari masyarakat serta parlemen setempat.

Oleh karena itu, ia mengimbau pemangku kebijakan untuk lebih teliti, transparan, dan terintegrasi dalam memberikan izin, serta tidak terburu-buru melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking.

Menurutnya, penggunaan teknologi sistem pendingin lingkar tertutup (close loop) memang dapat mengurangi konsumsi air secara signifikan, namun biayanya mahal dan kerap dihindari oleh investor.

“Pembangunan teknologi AI memang dibutuhkan, tetapi tidak boleh mengorbankan sumber daya vital masyarakat setempat,” tutup Rhenald. (Ag)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Hotel Tour Aero Astra Akademia Jadi Bekal Siswa Sebelum Masuk Dunia Industri
Rektor Paramadina: Penyegaran Menperin Jadi Momentum Darurat Selamatkan Industri
Rilis Hasil Survei BUMN Dengan Pelayanan Terbaik, PLN Duduki Peringkat Pertama
BPKN RI Dukung dan Kawal Putusan MK soal Label GGL: Konsumen Berhak Tahu Sebelum Membeli
Vape Disebut Lebih Berbahaya dari Rokok, Ini Penjelasan Peneliti BRIN
Ekonomi Heterodoks Mazhab Tebet: Jalan Pembebasan Lewat Ekonomi Konstitusi
Honda Mitra Jaya Bekasi Ajak Konsumen Bernostalgia dengan Motor Klasik di Hari Pelanggan Nasional 2026
Ribuan Anthurium Terbang ke Philipina Tiap Bulan, Stok Petani Tanaman Hias Karanganyar Menipis

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Rhenald Kasali Soroti Proyek Data Center Jatiluhur: Jangan Abaikan Fungsi Vital Waduk Demi AI

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:58 WIB

Rektor Paramadina: Penyegaran Menperin Jadi Momentum Darurat Selamatkan Industri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:35 WIB

Rilis Hasil Survei BUMN Dengan Pelayanan Terbaik, PLN Duduki Peringkat Pertama

Kamis, 1 Oktober 2026 - 06:36 WIB

BPKN RI Dukung dan Kawal Putusan MK soal Label GGL: Konsumen Berhak Tahu Sebelum Membeli

Rabu, 30 September 2026 - 16:23 WIB

Vape Disebut Lebih Berbahaya dari Rokok, Ini Penjelasan Peneliti BRIN

Berita Terbaru