JAKARTA, Mediakarya – Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Rhenald Kasali Ph.D menyoroti polemik rencana penggunaan air dari Waduk Jatiluhur untuk kebutuhan pendinginan data center, termasuk AI data center.
Rhenald menilai proyek tersebut menuai sorotan karena proses perizinan yang dinilai belum rampung namun pembangunan sudah berjalan, sehingga memicu penghentian dan penyegelan sementara oleh pihak terkait.
“Proyek data center di Jatiluhur disorot karena masalah perizinan yang belum tuntas, tetapi proyeknya sudah dimulai,” ujar Rhenald seperti dikutip Mediakarya dari akun TikTok Rhenald Kasali, Jumat (2/10/2026).
Menurut Rhenald, persoalan utama terletak pada besarnya konsumsi air untuk sistem pendingin data center. Ia menyebut, data center berbasis kecerdasan buatan (AI) membutuhkan air dalam jumlah sangat besar.
Sementara itu, peruntukan awal Waduk Jatiluhur adalah untuk irigasi pertanian, pemenuhan air baku dan konsumsi warga, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), kebutuhan industri, dan perikanan.
Ia menjelaskan, konsumsi air data center di Jatiluhur diperkirakan mencapai sekitar 12 juta meter kubik per tahun. Angka tersebut memang hanya sebagian kecil dari total kapasitas waduk yang sekitar 2 hingga 3 miliar meter kubik. Namun, tetap berisiko mengingat debit air waduk bersifat fluktuatif dan sering surut saat musim kering atau kemarau.
Rhenald mencontohkan kasus di luar negeri, seperti proyek data center Microsoft di Belanda dan beberapa wilayah di Amerika Serikat seperti Oregon, Memphis, dan South Carolina. Di wilayah tersebut, konsumsi air data center jauh melebihi estimasi awal hingga 4 sampai 7 kali lipat, bahkan menyedot air tanah hingga memicu kekeringan dan penolakan dari masyarakat serta parlemen setempat.
Oleh karena itu, ia mengimbau pemangku kebijakan untuk lebih teliti, transparan, dan terintegrasi dalam memberikan izin, serta tidak terburu-buru melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking.
Menurutnya, penggunaan teknologi sistem pendingin lingkar tertutup (close loop) memang dapat mengurangi konsumsi air secara signifikan, namun biayanya mahal dan kerap dihindari oleh investor.
“Pembangunan teknologi AI memang dibutuhkan, tetapi tidak boleh mengorbankan sumber daya vital masyarakat setempat,” tutup Rhenald. (Ag)











