Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Energi Resmi Dibentuk, Target PLTS 100 GWp Jadi Ujian Awal

- Editor

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur INDEF Green Transition Initiative (INDEF GTI), Imaduddin Abdullah, (Ist)

Direktur INDEF Green Transition Initiative (INDEF GTI), Imaduddin Abdullah, (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Pemerintah resmi membentuk Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Energi pada Kamis (1/10/2026). Pembentukan kementerian ini diharapkan mampu mempercepat agenda prioritas transisi energi yang selama ini tertahan akibat tumpang tindih regulasi.

Direktur INDEF Green Transition Initiative (INDEF GTI), Imaduddin Abdullah, menilai pembentukan kementerian koordinator mencerminkan komitmen politik pemerintah untuk mempercepat transisi energi, hilirisasi, dan industrialisasi hijau.

“Terbentuknya kementerian koordinator ini menjadi salah satu peluang untuk Indonesia semakin maju di bidang transisi energi dan hilirisasi,” ujar Imaduddin di Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, kompleksitas regulasi dan persoalan teknis membutuhkan orkestrasi lintas lembaga agar perencanaan hingga implementasi berjalan selaras.

Salah satu agenda yang perlu dipercepat adalah program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp). Program ini mensyaratkan penyelarasan kebijakan industri, perencanaan energi, tata ruang, infrastruktur, dan investasi.

Imaduddin menjelaskan, dengan koordinasi kelembagaan yang baik, pengembangan PLTS 100 GWp dapat dihubungkan dengan kawasan industri sebagai pusat permintaan energi bersih. Berdasarkan kajian INDEF GTI dan Systemiq, delapan kawasan prioritas berpotensi menyerap listrik bersih sebesar 24-31 terawatt-hour (TWh) per tahun.

Potensi tersebut setara dengan kapasitas PLTS sekitar 8-13 GW, atau 8-13 persen dari target nasional 100 GWp. Realisasinya sangat bergantung pada penyelesaian hambatan birokrasi serta kesiapan jaringan, lahan, dan pembiayaan.

Baca Juga:  INDEF GTI Usul Program 100 GWp Tahap Satu Didorong Lewat Kawasan Industri

“Penyelesaian hambatan pengadaan listrik energi terbarukan, kepastian akses jaringan, kesiapan lahan, serta skema investasi dan pembiayaan harus menjadi agenda percepatan,” katanya.

INDEF GTI mendorong kementerian baru segera menetapkan target, tenggat, mekanisme koordinasi, dan penyelesaian ketidakselarasan antarinstansi, termasuk mekanisme eskalasi untuk proyek strategis yang tertahan.

“Kementerian koordinator baru bisa memperluas potensi ini dengan penyederhanaan birokrasi melalui konsep Kawasan Energi Terbarukan atau Renewable Energy Zones (REZs),” ucap Imad.

Sebelumnya, agenda strategis investasi, hilirisasi, dan energi berada dalam koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves). Setelah dibubarkan, urusan tersebut berpindah ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kini, koordinasi tersebut diemban Menteri Koordinator Hilirisasi dan Energi Bahlil Lahadalia.

Imaduddin menambahkan, keberhasilan hilirisasi bergantung pada keputusan banyak kementerian yang harus saling mendukung. Izin investasi, pasokan bahan baku, pembangunan pabrik, ketersediaan energi, dan akses pasar perlu disiapkan sebagai satu rangkaian.

“Investasi sudah ditanamkan, tetapi kapasitas produksi, penerimaan negara, dan penciptaan lapangan kerja belum mencapai harapan. Hilirisasi membutuhkan dukungan lintas kementerian yang terarah, dari perizinan, energi dan akses pasar. Ketika satu mata rantai tertinggal, manfaatnya pun tidak optimal. Oleh sebab itu, peran kementerian koordinator sebagai orkestrator kebijakan menjadi penting,” ujarnya. (Indra)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Rhenald Kasali Soroti Proyek Data Center Jatiluhur: Jangan Abaikan Fungsi Vital Waduk Demi AI
Hotel Tour Aero Astra Akademia Jadi Bekal Siswa Sebelum Masuk Dunia Industri
Rektor Paramadina: Penyegaran Menperin Jadi Momentum Darurat Selamatkan Industri
Rilis Hasil Survei BUMN Dengan Pelayanan Terbaik, PLN Duduki Peringkat Pertama
BPKN RI Dukung dan Kawal Putusan MK soal Label GGL: Konsumen Berhak Tahu Sebelum Membeli
Vape Disebut Lebih Berbahaya dari Rokok, Ini Penjelasan Peneliti BRIN
Ekonomi Heterodoks Mazhab Tebet: Jalan Pembebasan Lewat Ekonomi Konstitusi
Honda Mitra Jaya Bekasi Ajak Konsumen Bernostalgia dengan Motor Klasik di Hari Pelanggan Nasional 2026

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Energi Resmi Dibentuk, Target PLTS 100 GWp Jadi Ujian Awal

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Rhenald Kasali Soroti Proyek Data Center Jatiluhur: Jangan Abaikan Fungsi Vital Waduk Demi AI

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:24 WIB

Hotel Tour Aero Astra Akademia Jadi Bekal Siswa Sebelum Masuk Dunia Industri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:58 WIB

Rektor Paramadina: Penyegaran Menperin Jadi Momentum Darurat Selamatkan Industri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:35 WIB

Rilis Hasil Survei BUMN Dengan Pelayanan Terbaik, PLN Duduki Peringkat Pertama

Berita Terbaru