JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai kenaikan harga beras di pasaran disebabkan oleh berkurangnya ketersediaan beras di tingkat rumah tangga.
Hal tersebut sejalan dengan data inflasi September 2026, di mana beras menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 1,46 persen dengan andil inflasi 0,24 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen tersebut adalah cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan kangkung.
Jika dirinci lebih dalam, harga beras pada September 2026 di tingkat grosir naik 4,93 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara di tingkat eceran naik 3,73 persen (yoy).
“Karena itu pemerintah perlu segera melakukan operasi pasar di berbagai daerah, khususnya daerah-daerah yang minus beras dan mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang cukup panjang,” ujar Tauhid saat dikonfirmasi Mediakarya di Jakarta, Minggu (5/10/2026).
Soal Kelangkaan BBM
Sementara itu terkait kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyebabkan antrean di sejumlah SPBU, Tauhid menilai kondisi tersebut tidak secara langsung menyebabkan harga BBM naik, melainkan meningkatkan biaya untuk memperoleh BBM, seperti waktu tunggu dan biaya transportasi.
“Bisa jadi pada tingkat pedagang eceran ada kenaikan harga namun tidak masif,” katanya.
Meski demikian, BPS mencatat inflasi September juga dipicu oleh kenaikan harga BBM non-subsidi yang berlaku sejak 29 September 2026.
Kenaikan tersebut mengikuti harga minyak dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel.Menurut BPS, komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) pada September 2026 mengalami inflasi yang sangat rendah atau mendekati nol.
“Komoditas bensin memberikan andil inflasi, sedangkan tarif angkutan udara menyumbang andil deflasi,” tutupnya. (Ugy)










