Stok Rumah Tangga Menipis Picu Harga Beras Naik, BBM Langka Dongkrak Biaya Perolehan

- Editor

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad. (Ist)

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad. (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai kenaikan harga beras di pasaran disebabkan oleh berkurangnya ketersediaan beras di tingkat rumah tangga.

Hal tersebut sejalan dengan data inflasi September 2026, di mana beras menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 1,46 persen dengan andil inflasi 0,24 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen tersebut adalah cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan kangkung.

Jika dirinci lebih dalam, harga beras pada September 2026 di tingkat grosir naik 4,93 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara di tingkat eceran naik 3,73 persen (yoy).

“Karena itu pemerintah perlu segera melakukan operasi pasar di berbagai daerah, khususnya daerah-daerah yang minus beras dan mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang cukup panjang,” ujar Tauhid saat dikonfirmasi Mediakarya di Jakarta, Minggu (5/10/2026).

Baca Juga:  PNM Gelar Studi Banding Nasabah Tingkatkan Kapasitas UMKM

Soal Kelangkaan BBM

Sementara itu terkait kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyebabkan antrean di sejumlah SPBU, Tauhid menilai kondisi tersebut tidak secara langsung menyebabkan harga BBM naik, melainkan meningkatkan biaya untuk memperoleh BBM, seperti waktu tunggu dan biaya transportasi.

“Bisa jadi pada tingkat pedagang eceran ada kenaikan harga namun tidak masif,” katanya.

Meski demikian, BPS mencatat inflasi September juga dipicu oleh kenaikan harga BBM non-subsidi yang berlaku sejak 29 September 2026.

Kenaikan tersebut mengikuti harga minyak dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel.Menurut BPS, komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) pada September 2026 mengalami inflasi yang sangat rendah atau mendekati nol.

“Komoditas bensin memberikan andil inflasi, sedangkan tarif angkutan udara menyumbang andil deflasi,” tutupnya. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Didik J. Rachbini: Peluang Investasi Data Center Rp360 Triliun Jangan Sampai Seperti Pelanduk Terperosok Dua Kali
On Point Media Sukses Gelar Lokafest Surabaya, Dorong UMKM Manfaatkan Inovasi dan Teknologi
Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Energi Resmi Dibentuk, Target PLTS 100 GWp Jadi Ujian Awal
Rhenald Kasali Soroti Proyek Data Center Jatiluhur: Jangan Abaikan Fungsi Vital Waduk Demi AI
Hotel Tour Aero Astra Akademia Jadi Bekal Siswa Sebelum Masuk Dunia Industri
Rektor Paramadina: Penyegaran Menperin Jadi Momentum Darurat Selamatkan Industri
Rilis Hasil Survei BUMN Dengan Pelayanan Terbaik, PLN Duduki Peringkat Pertama
BPKN RI Dukung dan Kawal Putusan MK soal Label GGL: Konsumen Berhak Tahu Sebelum Membeli

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:33 WIB

Stok Rumah Tangga Menipis Picu Harga Beras Naik, BBM Langka Dongkrak Biaya Perolehan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Didik J. Rachbini: Peluang Investasi Data Center Rp360 Triliun Jangan Sampai Seperti Pelanduk Terperosok Dua Kali

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:49 WIB

On Point Media Sukses Gelar Lokafest Surabaya, Dorong UMKM Manfaatkan Inovasi dan Teknologi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Energi Resmi Dibentuk, Target PLTS 100 GWp Jadi Ujian Awal

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Rhenald Kasali Soroti Proyek Data Center Jatiluhur: Jangan Abaikan Fungsi Vital Waduk Demi AI

Berita Terbaru