JAKARTA, Mediakarya – Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) secara resmi menganugerahkan penghargaan tertinggi kepada sejumlah tokoh yang dinilai berperan aktif dalam memeraangi gerakan radikalisme di Indonesia. Salah satunya diberikan kepada Ketua Umum Yayasan Prabu Foundation, Asep Muhargono.
Penghargaan yang diserahkan dalam bingkai Rakernis Densus 88 AT Polri Tahun Anggaran 2026 ini bukan sekadar seremoni formal. Melalui dokumen resmi bernomor B/1517/V/LIT.5./2026/Densus, negara secara institusional memvalidasi efektivitas model deradikalisasi berbasis komunitas yang dipelopori oleh Asep Muhargono.
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Kadensus 88 Irjen Pol Sentot Prasetyo, serta perwakilan dari Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC), menegaskan bahwa metode yang diterapkan Asep memiliki relevansi global.
Indonesia sukses menunjukkan kepada dunia internasional bahwa pendekatan humanis yang mengedepankan rekonsiliasi, reintegrasi sosial, dan pemberdayaan ekonomi mampu menjadi benteng pertahanan ideologi yang lebih kokoh dibandingkan pendekatan kinetik murni.
Dalam seremoni tersebut, Asep dinilai berhasil dalam melakukan pendekatan kepada sejumlah faksi NII, dan megelaborasiatas tiga pilar utama, yakni kepeloporan dalam strategi kolaboratif, peran sebagai pilar stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), serta statusnya sebagai mitra strategis utama Densus 88 AT Polri.
Rekam jejak Asep Muhargono yang sebagai mantan tokoh penting atau “pentolan” di struktur Negara Islam Indonesia (NII) dengan kapasitas sebelumnya sebagai Panglima Komandemen NII Wilayah Jawa Barat tidak bisa dipandang sebelah mata. Asep Muhargono memiliki strategi yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh lembaga leinnya dalam melakukan pendekatan terhadap kelompok yang telah terdoktrinasi dengan faham radikal.
Transformasi ideologisnya dari seorang penggerak gerakan bawah tanah menjadi pembela NKRI adalah sebuah proses desisistensi yang kini menjadi model bagi ratusan ribu pengikutnya. Melalui Yayasan Prabu Foundation, Asep kini berperan sebagai “penerjemah” kebijakan pemerintah ke dalam bahasa yang dapat diterima oleh komunitas mantan aktivis radikal. Kepemimpinannya yang inklusif berhasil merangkul mereka yang masih dalam posisi “abu-abu” untuk segera berikrar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Jangkauan Masif Prabu Foundation
Hingga saat ini, Prabu Foundation telah menunjukkan pertumbuhan organisasi yang luar biasa. Dibina langsung oleh aparat keamanan melalui Kasatgaswil Densus 88 Jawa Barat, yayasan ini telah memiliki 12 cabang regional di wilayah Jawa Barat.
Data menunjukkan bahwa organisasi ini menaungi hampir 1.080.000 mantan aktivis NII, menjadikannya salah satu organisasi deradikalisasi berbasis komunitas terbesar di Indonesia. Keberhasilan yayasan ini dalam mengembalikan sekitar 80 persen dari total anggota tersebut ke pangkuan NKRI merupakan prestasi yang sangat signifikan dalam sejarah penanggulangan terorisme domestik.
Salah satu faktor kunci yang membawa Asep meraih penghargaan ini adalah keberhasilannya menyelaraskan program deradikalisasi dengan visi Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Terutama pada poin peningkatan lapangan kerja dan penguatan ideologi Pancasila.
Deradikalisasi di tangan Asep tidak berhenti pada diskusi teologis. Melalui kolaborasi dengan sektor swasta, seperti pelatihan teknisi bagi mitra deradikalisasi, Prabu Foundation memberikan pembekalan kompetensi nyata. Dengan kemandirian ekonomi, risiko para mantan aktivis untuk direkrut kembali oleh jaringan terorisme karena faktor finansial dapat ditekan secara signifikan.
Tantangan Masa Depan dan Literasi Politik
Meskipun telah meraih apresiasi tertinggi, Asep Muhargono mengaku tetap mempertahankan sikap kritis yang konstruktif. Menjelang dinamika politik seperti Pilkada Serentak, ia aktif menyuarakan pentingnya para calon pemimpin daerah untuk memasukkan isu pencegahan radikalisme ke dalam visi-misi mereka.
Selain itu, Prabu Foundation bertransformasi menjadi agen literasi digital. Asep konsisten mengajak anggotanya untuk melakukan tabayyun (cek ulang) informasi guna menangkal hoaks dan propaganda radikal di media sosial.
Penghargaan dari Kapolri pada Mei 2026 ini menjadi pengakuan bahwa keamanan nasional bukan hanya tugas polisi dan tentara, tetapi membutuhkan partisipasi aktif dari figur masyarakat yang memiliki kompetensi dan dedikasi. Di bawah kepemimpinan Asep Muhargono, Prabu Foundation telah menetapkan “standar emas” dalam upaya deradikalisasi abad ke-21 di Indonesia.











