Dipeluk, Bukan Dipukul

- Penulis

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rismon Sianipar menyerahkan buku terkait dengan keaslian ijazah Jokowi (Foto: Ist)

Rismon Sianipar menyerahkan buku terkait dengan keaslian ijazah Jokowi (Foto: Ist)

Oleh: Adi Suparto

Di negeri ini, isu tidak selalu dibantah, kadang justru dipeluk. Ketika Joko Widodo menandatangani buku “Otentikasi Ijazah Joko Widodo” karya Rismon Sianipar, publik tidak sedang menyaksikan klarifikasi. Mereka sedang melihat bagaimana sebuah kontroversi diambil alih, dirapikan, lalu dikembalikan ke ruang publik dalam bentuk yang lebih “terkendali”.

Isu ijazah itu bukan cerita baru. Ia sudah beredar, diperdebatkan, bahkan masuk jalur hukum. Berkali-kali dibantah, berkali-kali pula muncul kembali. Artinya sederhana: isu ini tidak pernah benar-benar mati.

Tapi kali ini ada yang berbeda

Isu itu tidak lagi datang sebagai serangan. Ia hadir sebagai buku. Sebagai “kajian”. Sebagai sesuatu yang terdengar ilmiah, tenang, dan yang paling penting, layak dibicarakan.
Di sinilah permainan dimulai.

Mengubah bentuk berarti mengubah persepsi

Ketika sebuah tuduhan dibungkus menjadi kajian, ia kehilangan kesan liar. Ketika diberi istilah seperti “otentikasi”, ia terdengar teknis, objektif, bahkan netral. Padahal, substansinya tetap sama: sesuatu yang dulu dipersoalkan, kini dibicarakan ulang.

Dan publik, perlahan, diajak untuk menerima perubahan itu tanpa banyak bertanya. Dari “ini harus dibuktikan”
menjadi “ini menarik untuk didiskusikan”

Perubahan kecil dalam bahasa, tapi besar dalam dampaknya

Lalu datanglah tanda tangan itu.
Bukan bantahan. Bukan juga penegasan. Tapi cukup untuk memberi sinyal: isu ini tidak lagi di luar pagar. Ia sudah masuk ke dalam ruang yang lebih sah.

Baca Juga:  KPK Sebut Sudah Berkoordinasi Dengan BPK Soal Kasus Formula E

Dalam politik, ini langkah yang rapi.
Tidak perlu melawan. Tidak perlu menjelaskan panjang. Cukup sentuh, dan biarkan narasi bekerja sendiri.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi soal benar atau salah. Melainkan: siapa yang mengendalikan arah pembicaraan?

Karena ketika sebuah isu tidak lagi terasa sebagai ancaman, melainkan sebagai wacana biasa, maka daya kritis publik ikut tergerus. Yang tadinya dipertanyakan, kini sekadar diperbincangkan. Yang dulu menuntut jawaban, sekarang cukup diperdebatkan.

Dan di situlah posisi berubah

Bukan lagi defensif, tapi ofensif, mengatur tempo, mengatur konteks, mengatur cara orang melihat.

Kita mungkin tidak sedang menyaksikan penyelesaian sebuah isu.
Kita sedang menyaksikan bagaimana isu itu dijinakkan. Dipoles, ditata, lalu dilepas kembali ke publik dalam bentuk yang lebih bisa diterima. Lebih tenang. Lebih sulit ditolak, karena kini ia datang dengan wajah “ilmiah”.

Dan ketika publik mulai terbiasa dengan itu, satu hal perlu diwaspadai:
bahwa yang sedang berubah bukan hanya narasi, tetapi juga standar kita dalam menilai kebenaran.

Jika semua bisa diubah menjadi wacana, maka apa yang masih layak disebut masalah? Jika semua cukup dibahas, lalu kapan sesuatu benar-benar harus dijawab?

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dari Habibie hingga Prabowo, Nannie Hadi Tjahjanto Wujudkan Pendidikan Berkualitas di SMA Pradita Dirgantara
Kapolri Diminta Evaluasi Kinerja Kapolda Riau, Dugaan Praktik Judi di Pekanbaru Disebut Masih Marak
Warga Jatikarya Kembali Lakukan Aksi Di PN Bekasi
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Monel: Setiap Kader Miliki Kesempatan Sama untuk Mengabdi
Kasus Blueray Bea Cukai: IAW Soroti 20 Forwarder yang Belum Naik Penyidikan
Kukuhkan Fondasi Indonesia Emas 2045, Haidar Alwi: Polri Semakin Profesional, dan Dipercaya Rakyat
Tanggapi Pernyataan Mantan Ketua BEM UGM, Idrus Marham “Dirujak” Netizen
Inilah Kabid Humas Polda Terbaik 2026 Berdasarkan Survei ETOS Institute
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:42 WIB

Dipeluk, Bukan Dipukul

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:00 WIB

Dari Habibie hingga Prabowo, Nannie Hadi Tjahjanto Wujudkan Pendidikan Berkualitas di SMA Pradita Dirgantara

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:37 WIB

Kapolri Diminta Evaluasi Kinerja Kapolda Riau, Dugaan Praktik Judi di Pekanbaru Disebut Masih Marak

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:48 WIB

Warga Jatikarya Kembali Lakukan Aksi Di PN Bekasi

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:43 WIB

Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Monel: Setiap Kader Miliki Kesempatan Sama untuk Mengabdi

Berita Terbaru

Rismon Sianipar menyerahkan buku terkait dengan keaslian ijazah Jokowi (Foto: Ist)

Headline

Dipeluk, Bukan Dipukul

Jumat, 19 Jun 2026 - 07:42 WIB