JAKARTA, Mediakarya – Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). Kepolisian melalui Tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia dikerahkan untuk membantu proses identifikasi korban.
Hingga berita ini diturunkan, enam orang dinyatakan meninggal dunia. Sebanyak 108 korban selamat telah berhasil dievakuasi dan bersandar di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Sementara itu, Basarnas bersama Tim Medis Kepolisian dan unsur terkait masih melakukan pencarian terhadap 129 korban lainnya yang dilaporkan belum ditemukan.
KM Virgo Transport 8 berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dengan membawa 243 orang. Mereka terdiri atas 30 kru kapal dan 213 penumpang.
Kapal tersebut dilaporkan mengalami kecelakaan setelah dihantam gelombang lebih dari tiga meter di perairan Laut Jawa. Lokasi kejadian berada di sekitar koordinat 4°31’51.82″S 114°2’6.88″E, atau sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.
Kepala Biro Kedokteran Kepolisian Brigjen Pol. Sumy Hastry Purwanti menyampaikan belasungkawa atas musibah tersebut. Ia memastikan kepolisian akan membantu pencarian dan proses identifikasi korban melalui Tim DVI Indonesia.
“Kepolisian akan membantu pencarian bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia. Tim DVI ada di setiap Polda di bawah Kabiddokes. Dan untuk musibah terbaliknya KM Virgo, seluruh anggota siap untuk berkontribusi,” kata Hastry kepada media, Selasa (15/9/2026).
Brigjen Pol. Hastry mengatakan Tim DVI akan bekerja sama dengan Basarnas dan instansi terkait dalam proses identifikasi korban KM Virgo Transport 8.
Menurutnya, tim DVI di Surabaya dan Banjarmasin telah membuka posko Post Mortem untuk mendukung proses identifikasi.
“Teman-teman DVI di Surabaya dan Banjarmasin telah membuka posko Post Mortem,” ujarnya.
Dalam proses identifikasi, Tim DVI juga akan berkoordinasi dengan keluarga korban untuk mengumpulkan data yang diperlukan.
Hastry mengatakan informasi mengenai korban sebelum musibah, termasuk barang atau properti milik korban, dapat membantu tim dalam proses identifikasi.
“Tentunya, bila ada properti korban ataupun data dari keluarga sebelum musibah terjadi akan sangat bermanfaat bagi tim di lapangan untuk identifikasi,” katanya.
Proses identifikasi korban menjadi bagian penting dalam penanganan kecelakaan KM Virgo Transport 8. Karena itu, Tim DVI membutuhkan data dari keluarga korban sebagai bahan pencocokan dengan informasi yang diperoleh dari lapangan.
Brigjen Pol. Hastry juga menjelaskan bahwa korban meninggal dalam kecelakaan di laut tetap dapat menjalani proses identifikasi. Namun, kondisi korban dapat berubah seiring waktu sehingga penanganan perlu dilakukan secepat mungkin.
Ia mengingatkan kondisi di dalam air dapat mempercepat perubahan pada tubuh korban.
“Batasannya proses pembusukan. Di dalam air jasad akan lebih cepat membusuk. Biasanya di atas lima hari sudah mulai ada bagian yang rusak,” katanya.
Karena itu, keluarga korban diharapkan dapat memberikan data dan informasi yang dibutuhkan kepada petugas untuk mendukung proses identifikasi.
Tim DVI Indonesia bersama Basarnas dan instansi terkait selanjutnya akan terus berkoordinasi dalam penanganan kecelakaan KM Virgo Transport 8, termasuk proses pencarian dan identifikasi korban. (Hab)











