Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres

- Editor

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Logo Partai Solideritas Indonesia (Foto: Ist)

Logo Partai Solideritas Indonesia (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Pergerakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kian masif dinilai menjadi ancaman serius bagi partai-partai besar. Partai berlambang gajah itu diprediksi berpeluang besar mendominasi Pileg dan Pilpres 2029.

Penilaian tajam itu disampaikan Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah. Ia meminta semua pihak untuk tidak pernah meremehkan konsolidasi PSI yang bergerak senyap namun terstruktur hingga ke bawah.

“Pergerakan PSI sangat masif. Kemarin ada Rakerda di Sentul Bogor, lalu persiapan Rakorda di Depok akhir bulan ini merupakan agenda partai yang tidak boleh dianggap remeh,” kata Iskandar dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya, Jumat (30/10/2026).

Menurut Iskandar, hijrahnya sejumlah kader partai besar ke PSI menjadi sinyal bahaya. Fenomena perpindahan kader itu bukan sekadar perpindahan biasa, melainkan daya dorong besar yang akan membuat PSI menjadi partai yang sangat patut diperhitungkan.

“Di belakang PSI itu ada Jokowi, yang selama 10 tahun memimpin bangsa ini. Dan tentunya sudah memiliki logistik yang cukup dibanding partai lain, dalam mempersiapkan untuk bersaing dalam kontestasi politik ke depan,” tegasnya.

Baca Juga:  Raja Juli Antoni, Seteru Anies Baswedan Masuk Radar KPK

Iskandar mengingatkan, jika partai-partai lama kalah bermanuver dan tetap menganggap remeh PSI, bukan tidak mungkin mereka akan tersisih. PSI diprediksi akan dengan mudah menembus Parlementary Threshold (PT) dan melenggang ke Senayan dengan kekuatan besar.

“Jika partai lain kalah bermanuver, tidak menutup kemungkinan mereka akan tersisih oleh PSI dan bisa tembus Parlementary Threshold menuju Senayan,” ujarnya.

Terkait isu ijazah Jokowi dan Gibran yang terus menggelinding dan disuarakan oleh sejumlah kelompok, Iskandar menilai isu tersebut tidak akan berdampak langsung pada stabilitas internal PSI.

Menurutnya, soliditas PSI justru semakin kuat di tengah gempuran isu eksternal. Mesin partai tetap bergerak, konsolidasi tetap jalan.

“Kadang yang sering kita anggap sepele, namun bisa saja menjadi yang terdepan,” pungkas Iskandar, memberikan warning keras kepada partai-partai mapan agar tidak terlena. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ketum PMPRI Joker: PAW Beda Kelas dengan KDM, Satu Kerja Nyata Satu Kerja Buat Algoritma
Dua Kandidat Mendaftar, Hanya Petahana Yang Lolos Verifikasi Balon Ketua Golkar Nias Selatan
Ayah Oet Desak Polemik Legalitas Bendera Bulan Bintang Tuntas Sebelum 4 Desember 2026
Pakar Sebut Gerindra-PDIP Makin Mesra, Jokowi-Gibran Justru Terpinggirkan Menuju 2029
Elektabilitas Dedi Mulyadi Terancam Tergerus, Pramono Anung Jadi Pesaing Utama
Musda ke-XI Golkar Nias Selatan: Pendaftaran Bakal Calon Ketua DPD Masa Bakti 2025–2030 Resmi Dibuka
Sindir Menteri Saling Bertentangan, Guntur Romli: Kabinet Paling Gemuk Tapi Tak Punya Grup WA?
Dua Wajah Kepemimpinan Daerah: Pramono Anung Merajut Kerja, Dedi Mulyadi Membangun Citra

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:57 WIB

Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres

Jumat, 30 Oktober 2026 - 05:52 WIB

Ketum PMPRI Joker: PAW Beda Kelas dengan KDM, Satu Kerja Nyata Satu Kerja Buat Algoritma

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Dua Kandidat Mendaftar, Hanya Petahana Yang Lolos Verifikasi Balon Ketua Golkar Nias Selatan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:55 WIB

Ayah Oet Desak Polemik Legalitas Bendera Bulan Bintang Tuntas Sebelum 4 Desember 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Pakar Sebut Gerindra-PDIP Makin Mesra, Jokowi-Gibran Justru Terpinggirkan Menuju 2029

Berita Terbaru