JAKARTA, Mediakarya – Pergerakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kian masif dinilai menjadi ancaman serius bagi partai-partai besar. Partai berlambang gajah itu diprediksi berpeluang besar mendominasi Pileg dan Pilpres 2029.
Penilaian tajam itu disampaikan Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah. Ia meminta semua pihak untuk tidak pernah meremehkan konsolidasi PSI yang bergerak senyap namun terstruktur hingga ke bawah.
“Pergerakan PSI sangat masif. Kemarin ada Rakerda di Sentul Bogor, lalu persiapan Rakorda di Depok akhir bulan ini merupakan agenda partai yang tidak boleh dianggap remeh,” kata Iskandar dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya, Jumat (30/10/2026).
Menurut Iskandar, hijrahnya sejumlah kader partai besar ke PSI menjadi sinyal bahaya. Fenomena perpindahan kader itu bukan sekadar perpindahan biasa, melainkan daya dorong besar yang akan membuat PSI menjadi partai yang sangat patut diperhitungkan.
“Di belakang PSI itu ada Jokowi, yang selama 10 tahun memimpin bangsa ini. Dan tentunya sudah memiliki logistik yang cukup dibanding partai lain, dalam mempersiapkan untuk bersaing dalam kontestasi politik ke depan,” tegasnya.
Iskandar mengingatkan, jika partai-partai lama kalah bermanuver dan tetap menganggap remeh PSI, bukan tidak mungkin mereka akan tersisih. PSI diprediksi akan dengan mudah menembus Parlementary Threshold (PT) dan melenggang ke Senayan dengan kekuatan besar.
“Jika partai lain kalah bermanuver, tidak menutup kemungkinan mereka akan tersisih oleh PSI dan bisa tembus Parlementary Threshold menuju Senayan,” ujarnya.
Terkait isu ijazah Jokowi dan Gibran yang terus menggelinding dan disuarakan oleh sejumlah kelompok, Iskandar menilai isu tersebut tidak akan berdampak langsung pada stabilitas internal PSI.
Menurutnya, soliditas PSI justru semakin kuat di tengah gempuran isu eksternal. Mesin partai tetap bergerak, konsolidasi tetap jalan.
“Kadang yang sering kita anggap sepele, namun bisa saja menjadi yang terdepan,” pungkas Iskandar, memberikan warning keras kepada partai-partai mapan agar tidak terlena. (Ugy)









