SURABAYA, Mediakarya – Penguatan UMKM membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, hingga generasi muda. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Lokafest yang digelar On Point Media di Surabaya.
Mengangkat tema “Membangun Kemandirian Ekonomi melalui Inovasi, Kolaborasi, dan Pemberdayaan Potensi Lokal”, kegiatan tersebut dihadiri sekitar 700 peserta yang terdiri dari mahasiswa, komunitas, dan pelaku UMKM.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Deputi I Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Fahd Pahdepie, S.IP., M.A.; Dr. Abdul Manap Pulungan, SE., ME., dari Center of Macroeconomic and Finance (Macfin) INDEF; Dosen dan Peneliti Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR) Dr. Achsania Hendratmi, SE., M.Si.; serta content creator Kevin Octavian.
Diskusi dipandu oleh jurnalis senior Andi Anggana, S.Sos., M.Ikom.
CEO On Point Media Zulfikar Mufti, M.I.Kom., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pengembangan ekonomi lokal sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan anak muda.
Menurut Zulfikar, mahasiswa tidak hanya perlu melihat peluang kerja, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai pencipta peluang melalui pengembangan ide dan potensi yang ada di lingkungan sekitar.
“Mahasiswa diharapkan dapat menggali potensi di sekitarnya, mengembangkan gagasan kreatif, serta melihat kewirausahaan sebagai peluang untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Zulfikar.
Ia mengatakan interaksi antara mahasiswa, pelaku usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan dapat menjadi ruang untuk bertukar pengetahuan sekaligus membangun kerja sama.
Lokafest Surabaya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah diselenggarakan di Bandung, Semarang, dan Jakarta.
Zulfikar berharap rangkaian tersebut dapat mendorong semakin banyak pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha melalui inovasi produk, pemanfaatan teknologi digital, penguatan pemasaran, serta perluasan jaringan bisnis.
Fahd Pahdepie mengatakan UMKM memiliki posisi penting dalam perekonomian karena berkontribusi terhadap penciptaan nilai tambah, pertumbuhan ekonomi, dan lapangan kerja.
Namun, pengembangan UMKM tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan generasi muda diperlukan agar berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha dapat direspons secara tepat.
“Pemerintah terus memastikan kebijakan UMKM tepat sasaran melalui penyerapan persoalan di lapangan,” kata Fahd.
Menurutnya, kemampuan memecahkan persoalan dan menciptakan nilai tambah menjadi bagian penting yang harus dimiliki seorang entrepreneur.
Pelaku usaha juga perlu memahami kebutuhan masyarakat serta perkembangan pasar agar dapat menghasilkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Dukungan pemerintah terhadap UMKM, lanjut Fahd, antara lain melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), literasi, legalitas, sertifikasi, dan akses pembiayaan.
“UMKM perlu memperkuat legalitas dan sertifikasi agar dapat mengakses pembiayaan serta mampu naik kelas,” ujarnya.
Dari perspektif ekonomi, Dr. Abdul Manap Pulungan mengatakan sebagian UMKM masih menghadapi tingkat kerentanan yang cukup tinggi.
Menurutnya, sebagian pelaku usaha berasal dari masyarakat yang sebelumnya keluar dari sektor formal sehingga membutuhkan dukungan agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
“Tantangan utama adalah mendorong UMKM dari skala mikro menuju usaha menengah dan besar agar berkontribusi pada pertumbuhan,” jelas Abdul Manap.
Ia menilai ketersediaan bahan baku dan rantai pasok merupakan aspek penting yang harus diperhatikan agar kegiatan usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah membutuhkan data UMKM yang akurat untuk menyusun kebijakan dan program yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Akurasi data UMKM diperlukan dalam mendukung kebijakan dan program pemerintah tepat sasaran,” ujarnya.
Sementara itu, Achsania Hendratmi menilai UMKM perlu terus didorong untuk meningkatkan skala usaha.
Menurutnya, UMKM yang berkembang dapat memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja, distribusi produk, dan penerimaan negara.
“Percepatan pengembangan membutuhkan pendanaan, permodalan, perizinan, dan ekosistem usaha yang mendukung,” kata Achsania.
Ia menambahkan bahwa inovasi tidak harus selalu dimulai dengan perubahan besar. Pelaku usaha dapat melakukan penyesuaian secara bertahap melalui produk, pemasaran, maupun kemasan.
Pelaku UMKM juga perlu mengikuti perkembangan tren dan memahami kebutuhan konsumen sebelum menentukan bentuk inovasi.
“Inkubator bisnis UNAIR mendorong pelaku UMKM membaca tren dan menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan konsumen,” ujarnya.
Sementara itu, Kevin Octavian menilai perkembangan teknologi digital memberikan peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar.
Media sosial dan jejaring komunitas dapat digunakan sebagai sarana promosi sekaligus membangun hubungan dengan konsumen.
“Peluang UMKM di era digital terbuka luas melalui pemanfaatan media dan jejaring komunitas,” ujar Kevin.
Ia menilai pelaku UMKM perlu memiliki pembeda agar produk yang ditawarkan tidak mudah tenggelam di tengah persaingan.
Diferensiasi produk, branding, kemasan, dan kreativitas menjadi sejumlah aspek yang dapat diperkuat untuk meningkatkan daya tarik produk.
“Pelaku UMKM harus berani menghadapi persaingan dengan mengembangkan kemasan dan kreativitas produk,” katanya.
Selain media sosial, Kevin menyebut perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai kebutuhan UMKM, mulai dari pengembangan ide kreatif, pemasaran, hingga mendukung pengembangan skala usaha.
Melalui Lokafest, On Point Media mendorong terbentuknya ruang kolaborasi yang mempertemukan potensi generasi muda dengan kebutuhan pengembangan UMKM dan ekonomi lokal. (hab)











