JAKARTA, Mediakarya – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengungkap temuan mengejutkan terkait bahaya penggunaan rokok elektrik atau vape di kalangan masyarakat.
Dalam keterangannya, Arif menyebutkan bahwa berdasarkan kajian yang dilakukan, pengguna vape memiliki risiko kesehatan yang sangat tinggi, yakni 100 persen terkena diabetes dan 92 persen terkena gangguan paru-paru.
“Dari data yang kami himpun, pengguna vape 100 persen terkena diabetes dan 92 persen terkena paru-paru,” ujar Arif Satria dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (30/9/2026).
Menurut Arif, kandungan cairan kimia dalam vape seperti nikotin, propilen glikol, dan perasa buatan memiliki dampak sistemik terhadap metabolisme tubuh. Zat tersebut dinilai dapat mengganggu sensitivitas insulin yang memicu diabetes, serta menyebabkan peradangan kronis pada jaringan paru-paru.
Ia menambahkan, anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional adalah keliru. Bahkan, vape disebut memiliki risiko tambahan karena uapnya mengandung partikel ultrafine yang lebih mudah masuk ke dalam alveoli paru.
“Jangan sampai generasi muda kita merasa aman menggunakan vape. Bahayanya nyata dan risikonya hampir pasti terjadi pada pengguna aktif dalam jangka panjang,” tegasnya.
Arif pun mendorong pemerintah untuk memperketat regulasi peredaran vape, termasuk pembatasan penjualan kepada anak di bawah umur dan pengawasan terhadap kandungan liquid vape yang beredar di pasaran.
Hingga berita ini diturunkan, temuan tersebut masih berupa pernyataan peneliti dan diperlukan kajian ilmiah lanjutan serta publikasi jurnal resmi untuk memvalidasi angka persentase risiko yang disebutkan. (Ugy)











