Atmatsya Beri Solusi Bagi Nelayan Indonesia

- Penulis

Kamis, 7 September 2023 - 13:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof.Ir.Moch Sudjana, Phd.

Prof.Ir.Moch Sudjana, Phd.

MALANG – Meski sebagai negara bahari namun sayangnya tingkat kesejahteraan nelayan Indonesia hingga saat ini kondisinya masih memprihatinkan. Persoalan yang paling mendasar karena hasil tangkapan ikan nelayan tradisional mengalami penurunan kualitas/mutu, sehingga tidak dapat bersaing dengan nelayan yang memiliki alat tangkap ikan modern. Akibatnya, para nelayan harus rela menjual ikan hasil tangkapannya dengan harga murah kepada para tengkulak.

Pakar Perikanan dan Kelautan Prof Ir Moch Sudjana PhD mengungkapkan, problema yang dihadapi para nelayan tak lepas dari permasalahan klasik. Yakni minimnya tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan ikan cold storage. Sebab, saat ini pendingin atau chilling menjadi satu-satunya solusi untuk menjaga kesegaran ikan.

“Namun chilling hanya bisa digunakan oleh kapal-kapal besar. Sedangkan untuk para nelayan kapal kecil chilling masih sulit digunakan, dan sulit dijangkau secara finansial,” ujar pria berdarah Sunda yang akrab disapa kang Jana ini saat bertemu dengan sejumlah nelayan di Pantai Sendang Biru Kabupaten Malang, Rabu (6/9/2023).

Sudjana menilai masalah yang dihadapi para nelayan sangatlah pelik. Padahal, banyak potensi jumlah ikan yang besar ada pulau-pulau kecil, namun tidak dapat dijual ke kota-kota besar lantara turunnya mutu dari ikan tersebut.

“Jangankan chilling, es saja tidak ada dan itu menjadi keluh kesah bagi para nelayan, karena mereka takut ikan hasil tangkapannya membusuk. Seperti di Indonesia wilayah timur, di situ banyak ikan tapi es sangat jarang, bahkan tidak ada. Para nelayan pun resah karena ikan hasil tangkapannya akan membusuk. Bayangkan, ikan puluhan ton dibuang,” terang Kang Jana.

Melihat kondisi itu, Sudjana memberikan solusi dengan menciptakan Atmatsya, yakni pengawet alami yang bisa digunakan para nelayan untuk menjaga mutu ikan hasil tangkapannya.

Baca Juga:  Lodewijk: Indonesia Lebih Siap Hadapi Masalah dengan UU Kesehatan

Menurutnya, Atmatsya ini diiptakan di tengah persoalan nelayan yang selama ini menggunakan bahan pengawet seperti borak dan formalin. Padahal sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Atmatsya berbahan baku murni alami tanpa ada campuran kimia sama sekali. Karena dari buah buahan dan tumbuhan. Atmatsya ini sebagai Bumbu Penyegar. Yang sifatnya menjaga kesegaran ikan dalam waktu yang cukup lama dibandingkan tidak memakai formalin dan boraks,” beber Kang Jana.

Dia pun menjelaskan, dua jam ikan setelah ditangkap akan terjadi penurunan mutu, dan maksimal ikan yang sudah ditangkap hanya bisa bertahan 1 – 2 hari saja.

Dalam sebuah kasus, ketika nelayan usai menangkap ikan di perairan yang jauh dari pelabuhan, dan membutuhkan waktu 1 hari maka itu akan menjadi masalah. Di tengah melakukan perjalanan panjang menuju pelabuhan, pada saat itulah terjadi proses pembusukan pada ikan jika tidak diberi bumbu penyegar.

Menurutnya, dengan Atmasya, ikan bisa bertahan hingga 3 minggu. Dan hal ini tentunya sangat membantu mutu tangkapan ikan, selain itu dapat meningkatkan penghasilan nelayan. Karena dengan 1liter Atmatsya yang dicampur dengan air laut dapat mengawetkan ikan sebanyak 2 kwintal. Di sisi lain, kata dia, para nelayan tidak perlu membawa es sebagai pembeku secara berlebihan.

“Sebenarnya bumbu penyegar ini (Atmatsya) bisa menyegarkan ikan bertahan lebih lama, dibandingkan tidak memakai bumbu ini. Karena jika tidak memakai bumbu ini ikan hanya bisa bertahan selama satu sampai dua hari saja. Sebenarnya dua jam saja ikan setelah ditangkap itu sudah turun mutunya.” katanya.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Salurkan Bantuan Dari Baznas Kepada 344 Penerima Manfaat, Ini Kata Abdul Harris Bobihoe
Wabup Yusuf Nache Instruksikan ASN Pangkas Birokrasi
Polda Metro Jaya Ringkus WNA Asal Brunei Yang Aniaya WNA Lain Hingga Tewas
realme C100i Jadi Pilihan Anak Muda Aktif dengan Baterai 7000mAh
Timwas Haji DPR RI Ungkap Praktik Pungli Tawaf Jamaah Lansia di Mekkah
Tujuan Akhir dari Aturan Monopoli SDA, Reindustrialisasi dan Penerimaan Pajak
Gonjang-ganjing Rupiah: Di Bawah Bayang-bayag Ketidakpastian, Kapan Beakhir?
Gaji Ke-13: Peristiwa yang Selalu Dirindukan
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:14 WIB

Salurkan Bantuan Dari Baznas Kepada 344 Penerima Manfaat, Ini Kata Abdul Harris Bobihoe

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:36 WIB

Wabup Yusuf Nache Instruksikan ASN Pangkas Birokrasi

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:09 WIB

Polda Metro Jaya Ringkus WNA Asal Brunei Yang Aniaya WNA Lain Hingga Tewas

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:07 WIB

realme C100i Jadi Pilihan Anak Muda Aktif dengan Baterai 7000mAh

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:48 WIB

Timwas Haji DPR RI Ungkap Praktik Pungli Tawaf Jamaah Lansia di Mekkah

Berita Terbaru

Daerah

Wabup Yusuf Nache Instruksikan ASN Pangkas Birokrasi

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:36 WIB