Dorong Non Kader Maju Sebagai Kepala Daerah, PDIP Bakal Kembali Dikhianati?

- Penulis

Kamis, 18 Juli 2024 - 11:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ist

Foto: Ist

JAKARTA, Mediakarya – Direktur eksekutif Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah menilai, meski DPP PDI Perjuangan telah mengeluarkan Surat Tugas kepada bakal calon Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, namun belum bisa dipastikan ketua DPC PDI Perjuangan itu mendapatkan tiket maju pada kontestasi politik Pilkada Kota Bekasi mendatang.

Menurut Iskandar, pemberian Surat Tugas itu merupakan hak prerogatif DPP PDIP. Namun perlu dicatat bahwa Surat Tugas diberikan kepada bakal calon wali kota hanya sebatas untuk melakukan konsolidasi di internal partai dan membangun koalisi untuk menentukan bakal calon wakil wali kota.

Jika melihat realita di lapangan, internal partai banteng PDIP di Kota Bekasi itu tengah terjadi perpecahan. Di mana ada faksi Mochtar Muhamad dan faksi Tri Adhianto sendiri, keduanya sama-sama memiliki ambisi untuk maju pada Pilkada mendatang. Oleh karenanya posisi Tri belum aman.

“Bagaimana dia (Tri) akan mampu merangkul partai lain sebagai syarat untuk mendaftarkan calon wali kota dan calon wakil wali kota, sedangkan di internalnya saja terjadi perpecahan. Nah, melihat konstelasi yang ada kami melihatnya Tri akan sulit mendapatkan tiket maju di pilkada kota Bekasi. Jika pun mendapat rekomendasi dari DPP namun kami menilai sulit mendapatkan mitra koalisi,” ungkap Iskandar kepada wartawan di Jakarta, Kamis (18/7/2024).

Selanjutnya, Iskandar juga meragukan kemampuan Tri Adhianto dalam melakukan lobi-lobi terhadap partai politik untuk bergabung dalam koalisi bersama PDIP. Bahkan, berdasarkan informasi yang berkembang bahwa sejumlah ketua parpol ogah bergabung bersama Tri Adhianto.

Terlebih, kata Iskandar, Tri dikenal sebagai politisi kutu loncat. Dengan mudahnya berpindah partai semudah pindah kontrakan. Politisi seperti itu lanjut dia, dapat membahayakan partai. Sebab tidak memiliki ideologi partai yang jelas.

“Seperti PAN, partai ini tentunya tidak akan mau jika bergabung dengan Tri Adhianto. Sebab merasa dikhianati. Kemudian partai Demokrat pun tentu mengalami hal yang sama. Dan yang fatal lagi Tri Adhianto itu memiliki sejarah kelam dengan Golkar. Masyarakat Kota Bekasi tentu tahu bagaimana Rahmat Effendi dapat terjerat kasus hukum. Banyak asumsi yang berkembang bahwa hal itu tak lepas ada konflik kepentingan antara wali kota dan wakil wali kota pada saat itu,” ungkap Iskandar.

Baca Juga:  40.867.993 Warga Indonesia Peroleh Vaksin COVID-19 Dosis Lengkap

Sementara, jika Tri menggandeng Gerindra, partai besutan Prabowo Subianto ini tentu lebih memilih untuk bergabung dengan koalisi yang terbangun di tingkat pusat yakni Koalisi Indonesia Maju yang di dalamnya terdiri dari Golkar, Gerindra, Nasdem, PAN, PSI dan Demokrat.

“Jika Tri gandeng PKB sepertinya sulit menang. Terlebih partai ini di Kota Bekasi minim ketokohan. Bisa jadi gerbong kosong. Atas dasar analisa itu keberadaan Tri semakin terjepit. Belum lagi persoalan sejumlah kasus dugaan korupsi yang tengah dilaporkan ke KPK. Jika prosesnya berlanjut maka akan menjadi resistensi bagi PDIP. Dan tidak menutup kemungkinan KPK segera memanggilnya guna mempertanggungjawabkan terkait kasus dugaan korupsinya,” pungkas Iskandar.

Nekat Usung Tri Adhianto Bukti PDIP Kota Bekasi Krisis Kader

Pendapat yang sama diungkapkan Direktur Poros Aliansi Politik Jabodetabek (PAPJ) Muholadun, dia menyebut bahwa akan menjadi sejarah yang memalukan bila PDIP nekat mengusung Tri Adhianto (TA) untuk calon Wali Kota Bekasi.

“Bila bicara internal PDIP, Tri bukanlah kader partai, sebenarnya PDIP mempunyai catatan buruk, tertulis dalam sejarah politik Indonesia bagaimana PDIP dikhianati oleh kader yang bukan terlahir dari rahim PDIP, baru saja PDIP di telanjangi di Pilpres 2024,” ungkap Muholadun dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/7/2024).

Ia juga mempertanyakan terbitnya Surat Tugas kepada Tri Adhianto hingga DPP tidak kapok memperjuangkan orang yang bukan kader aslinya untuk diusung.

Menurut dia, TA akan menjadi momok memalukan untuk partai sebesar PDIP bila tetap nekat diusung untuk calon Wali Kota Bekasi, PDIP seperti tidak bisa membaca peta politik secara baik, atau ada yang sengaja ingin PDIP makin hancur.

“Di luar Isu dugaan korupsi atau tidak ada prestasi saat Tri Adhianto memimpin Kota Bekasi, pastinya sangat disayangkan sekelas partai PDIP mengusung kader yang tidak terkaderisasi dengan baik, bila masih nekat mengusung TA, akan membuat partai partai lain menilai adanya fatality krisis kader di internal Partai PDIP,” pungkasnya. (Hb)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

SMPN 4 Tambun Selatan Gelar “Temu Kangen Putih Biru 27 tahun SMPN Tambun Selatan 1999-2026”
Gandeng BPJPH, Delana dan Kain Halal Hadirkan Inovasi dari Hulu hingga Hilir
Andika Wisnuadji Jalankan Instruksi AHY, Demokrat Bantu Warga Lewat Kurban
Layanan BJB Syariah Terganggu, Ketua BPKN RI Minta Transparansi dan Perlindungan Nasabah
Polisi Amankan 8 Orang Saat Operasi Cipkon Di Jakpus
Balkoters Tebar Kepedulian saat Idul Adha, 2 Sapi dan 4 Kambing Disalurkan untuk Sesama
Prabu Peduli Lingkungan Apresiasi Fortala yang Soroti Persoalan TPA Burangkeng
Kepongahan AS Meredup, Kekuasaan Tak Lagi Mutlak
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 06:31 WIB

SMPN 4 Tambun Selatan Gelar “Temu Kangen Putih Biru 27 tahun SMPN Tambun Selatan 1999-2026”

Sabtu, 30 Mei 2026 - 22:29 WIB

Gandeng BPJPH, Delana dan Kain Halal Hadirkan Inovasi dari Hulu hingga Hilir

Sabtu, 30 Mei 2026 - 16:02 WIB

Andika Wisnuadji Jalankan Instruksi AHY, Demokrat Bantu Warga Lewat Kurban

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:14 WIB

Layanan BJB Syariah Terganggu, Ketua BPKN RI Minta Transparansi dan Perlindungan Nasabah

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:30 WIB

Polisi Amankan 8 Orang Saat Operasi Cipkon Di Jakpus

Berita Terbaru