BEM Nusantara DKI Jakarta: Merdeka Untuk Siapa?

- Editor

Senin, 18 Agustus 2025 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mediakarya – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara DKI Jakarta menegaskan bahwa meski delapan dekade sudah bangsa ini merdeka, namun realitas sosial dinilai masih jauh dari cita-cita kemerdekaan.

Koordinator Daerah BEM Nusantara DKI Jakarta, Piere Lailossa, menyoroti soal politik masih dikuasai elit, demokrasi terjebak dalam transaksionalisme.

Kemudian, sosial dan budaya dipenuhi intoleransi dan diskriminasi. “Agama sering dipolitisasi. Ekonomi hanya menguntungkan oligarki, sementara rakyat kecil tetap terpinggirkan,” kata Pier dalam keterangan tertulisnya, Ahad (17/8/2025).

Pihkanya juga menyoroti soal lingkungan dirusak oleh investasi, rakyat kehilangan sumber hidup. Bahkan, hukum tetap timpang: tajam ke bawah, tumpul ke atas.

“Untuk itu, RKUHAP harus dibahas dengan partisipasi bermakna dari berbagai elemen, terutama mahasiswa; RUU Perampasan Aset tak kunjung disahkan; dan RUU Masyarakat Adat hanya tinggal kenangan,” ungkap Pier.

Baca Juga:  DPR RI Tunggu Surat Presiden Soal UU Cipta Kerja

Selain itu, HAM masih dilanggar, penyelesaian kasus masa lalu terbengkalai, aktivis dibungkam.

“Represivitas negara masih jadi wajah sehari-hari lewat pentungan, gas air mata, dan jeruji besi,” ungkap Pier.

Piere menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh hanya dipahami sebagai seremoni tahunan atau simbol pengibaran bendera.

“Kemerdekaan sejati berarti bebas dari penindasan, kemiskinan, ketidakadilan, dan pelanggaran HAM. Jika rakyat masih tertindas, maka pertanyaannya: Merdeka untuk siapa?” ujarnya.

Melalui pernyataan sikapnya, BEM Nusantara DKI Jakarta menuntut negara untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu, memperluas partisipasi publik dalam pembahasan RKUHAP, segera mengesahkan RUU Perampasan Aset dan RUU Masyarakat Adat, serta menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Aksi simbolik ini ditutup dengan pembacaan puisi, orasi-orasi perlawanan, dan pernyataan sikap mahasiswa yang menggema di jalanan ibu kota dengan satu pertanyaan mendasar: **

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Jangan Alergi Kritik, Pengamat UI Minta Pejabat Bekasi Hormati Fungsi Wartawan dan Aktivis
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Analis IPPS Ingatkan Bahaya Pemburu Rente Manfaatkan Calon Ketua
Pasca Putusan MK Desakan Pemakzulan Gibran Mengalir Deras, Pakar Ingatkan Jalur Konstitusi Panjang dan Ketat
Pengamat Ini Duga Polemik Ijazah Gibran Sengaja Digoreng untuk Alihkan Isu MBG dan Kopdes
Pendiri NII Crisis Center: Yayasan Tahfidz dan Panti Asuhan Rentan Terpapar Paham Radikalisme
Tanpa Jokowi Mustahil Jadi Ketum Golkar, Tapi Saat Ijazah Gibran Disoal Bahlil Bungkam
DNIKS Dorong Anak Disabilitas Tunjukkan Potensi Lewat Gerak Inklusif 2026
Agus Wahid: Bahlil Bukan Figur Arus Bawah, Golkar Terancam Kehilangan Marwah dan Elektoral

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Jangan Alergi Kritik, Pengamat UI Minta Pejabat Bekasi Hormati Fungsi Wartawan dan Aktivis

Senin, 12 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Analis IPPS Ingatkan Bahaya Pemburu Rente Manfaatkan Calon Ketua

Senin, 12 Oktober 2026 - 05:29 WIB

Pengamat Ini Duga Polemik Ijazah Gibran Sengaja Digoreng untuk Alihkan Isu MBG dan Kopdes

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:05 WIB

Pendiri NII Crisis Center: Yayasan Tahfidz dan Panti Asuhan Rentan Terpapar Paham Radikalisme

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Tanpa Jokowi Mustahil Jadi Ketum Golkar, Tapi Saat Ijazah Gibran Disoal Bahlil Bungkam

Berita Terbaru

Siswa SMK Tinta Emas Indonesia sedang antri MBG Prasmanan

Daerah

MBG Dengan Sistem Prasmanan, Terobosan Atau Pemborosan?

Senin, 12 Okt 2026 - 15:37 WIB

Ketua Bidang Advokasi F-SPGI, Purijan Karismandely

Ekonomi & Bisnis

F-SPGI Adukan Dugaan PHK Sepihak 11 Pekerja PT Indonesia Epson Industry

Senin, 12 Okt 2026 - 14:21 WIB