Cerita Dibalik Petugas TPU Padurenan

- Editor

Minggu, 3 Oktober 2021 - 10:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas pemakaman jenazah Covid-19 di TPU Pedurenan, Kota Bekasi, yang harus rela tertidur menunggu kedatangan jenazah

Petugas pemakaman jenazah Covid-19 di TPU Pedurenan, Kota Bekasi, yang harus rela tertidur menunggu kedatangan jenazah

KOTA BEKASI, Mediakarya – Pandemi virus Covid-19 membawa kisahnya tersendiri bagi dunia. Miris dan pilu menjadi cerita tersendiri yang paling menempel untuk menggambarkan keadaan serta situasi mereka yang terdampak virus berbahaya ini. Yaitu para ‘pahlawan’ petugas pemakaman yang harus berhadapan langsung dengan virus Covid-19 saat memulasarakan penyintas yang telah terpeti putih.

Sirine ambulance pembawa jenazah bersuara hampir setiap hari di jalan yang memiliki julukan Kota Patriot Ini. Hal itu sebagai tanda petugas pemulasaran tak henti bekerja keras untuk memberikan hak terakhir para korban, yaitu hak untuk dimakamkan. Beragam kisah pun lahir dari petugas pemakaman jenazah pasien Covid-19 di kota tersebut.

Salah satu cerita berasal dari rekan kerja di TPU Padurenan, Mustikajaya, Kota Bekasi. Ia bernama Warsim, yang telah bekerja tanpa batas waktu.

Malam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Suara Warsim masih terdengar begitu semangat di ujung telepon.

“Sebentar ya, ada telepon dari rumah sakit, biasanya mau ada jenazah untuk dimakamkan,” kata Warsim yang langsung menutup teleponnya.

Warsim, awalnya sehari-hari bertugas sebagai pemakam jenazah di TPU Perwira, Bekasi Utara. Semenjak virus Covid-19 mewabah, para petugas di TPU Padurenan, tempat pemakaman khusus jenazah Covid-19 di Kota Bekasi kewalahan. Sejak saat itu, dirinya ditugaskan piket di lokasi tersebut selama dua hari sekali.

Warsim mengaku, saat pertama diperbantukan piket di TPU Padurenan, selalu merasa ada kekhawatiran saat memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal. Bahkan, setiap kali hendak berangkat kerja, ia menjadi takut lantaran virus mematikan ini mudah tertular. Apalagi, usianya yang telah menyentuh setengah abad.

Meski begitu, pada akhirnya Warsim tetap berangkat dan terus bertugas hingga saat ini. Bapak lima anak tersebut kembali sadar bahwa semuanya telah menjadi tugasnya. Manusiawi jika ada rasa takut, khawatir tertular dan sebagainya.

Baca Juga:  Enam Jenazah Korban Pesawat SAM AIR Diidentifikasi di RS Bhayangkara

Sesampainya ketika di tempat kerja, Warsim saling bersapa bersama 74 petugas lainnya. Mereka semua adalah anggota pemulasaran dari petugas gabungan di tiga pemakaman, yaitu TPU Padurenan, TPU Perwira dan TPU Jatisari, dibantu 10 orang tenaga bantuan dari BPBD Kota Bekasi.

Saat bekerja, mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang tiapnya terdiri dari enam orang. Di antaranya ditugaskan dengan masing-masing tanggungjawab, mulai dari mengangkat peti jenazah, menggali, mengubur, hingga merapikan tanah setelah pemakaman. Dalam 24 jam, para tim bekerja dengan tiga shift, yaitu pagi hingga sore, sore sampai malam serta malam hingga matahari hampir mencapai ufuknya.

Di lokasi pemakaman, proses penguburan jenazah harus berjalan sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan. Petugas diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) mulai pengantaran hingga proses pemakaman selesai.

Selain itu, demi meringankan beban kerja karena tingginya angka kematian, mereka diperbantukan dengan dioperasikannya 2 beko atau ekscavator, alat berat sebagai mesin penggali lahan kubur dan perata tanah.

Setiap harinya, kata Warsim, ia dan tim terbiasa memakamkan puluhan hingga lebih jenazah. Bahkan, jenazah datang tidak dengan waktu yang dapat ditentukan. Tak hanya saat panggilan menuju rumah duka, tetapi juga hingga pemakaman.

Manalagi, saat larut malam, jika rasa kantuk tidak tertahan dan jenazah belum datang, ia merebahkan diri disela-sela pusara makam untuk tidur sebentar.

Kini, dukungan keluarga yang diterima jadi motivasi terkuatnya untuk bertahan. Warsim hanya bisa memohon kepada Allah SWT untuk selalu diberikan kesehatan kepada dirinya dan keluarga. Sembari ia beraktivitas menjalankan protokol kesehatan yang ketat dan mengonsumsi vitamin untuk tubuhnya yang tak lagi muda. (apl)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kompak Teriakkan “Lanjutkan”, Ratusan Warga Cijengkol Antar H.A. Saepuloh Daftar Calon Kades
Usai Insiden Kecelakaan Di Jalan Raya Narogong, Kapolres Kunjungi TPST Bantargebang
DOB Bogor Selatan Mencuat, 3 Kecamatan di Sukabumi Ingin Bergabung
Etos Indonesia Institute dan Tri Nusa Bekasi Raya Desak Plt. Bupati Bekasi Copot Dirum Tirta Bhagasasi
Menpora Buka Kejurnas Muaythai 2026, Yakin Muaythai Indonesia Akan Maju
BPD Bekukan Panitia Pilkades Burangkeng usai Didemo Warga
Aliran Kali Yang Jadi Sumber Air Baku Tirta Patriot Tercemar Dan Berbau
Diskominfostandi Kota Bekasi Diminta Buka Data Anggaran Kerja Sama Media

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:56 WIB

Kompak Teriakkan “Lanjutkan”, Ratusan Warga Cijengkol Antar H.A. Saepuloh Daftar Calon Kades

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:28 WIB

Usai Insiden Kecelakaan Di Jalan Raya Narogong, Kapolres Kunjungi TPST Bantargebang

Kamis, 6 Agustus 2026 - 10:05 WIB

DOB Bogor Selatan Mencuat, 3 Kecamatan di Sukabumi Ingin Bergabung

Kamis, 6 Agustus 2026 - 09:01 WIB

Etos Indonesia Institute dan Tri Nusa Bekasi Raya Desak Plt. Bupati Bekasi Copot Dirum Tirta Bhagasasi

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:39 WIB

Menpora Buka Kejurnas Muaythai 2026, Yakin Muaythai Indonesia Akan Maju

Berita Terbaru