KOTA BEKASI, Mediakarya – Dampak kenaikan kurs Dollar AS dan melemahnya rupiah dirasakan di Indonesia, tidak terkecuali di Kota Bekasi. Salah satu dampaknya ialah pada sektor industri yang masih mengandalkan bahan baku impor.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Bekasi mulai mengeluhkan hal tersebut, Pasalnya, hingga Senin (18/05) kemarin nilai tukar rupiah mencetak rekor terendah dengan ditutup di level Rp 17.667 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan.
Ketua APINDO Kota Bekasi Farid Elhakamy mengatakan, saat ini dampak melemahnya Nilai Kurs Rupiah terhadap Dollar AS mulai terasa dampaknya terhadap industri di Kota Bekasi, terutama terkait bahan baku.
“Bagi perusahaan dengan bahan baku import, mulai mengeluhkan kenaikan harga bahan baku terhadap produknya,” ucap dia melalui keterangannya, Selasa (19/05/2026).
Ia menyatakan, adapun opsional yang dilakukan oleh para pelaku usaha, adalah mereka mencoba menaikkan harga jual secara penjualan.
“Lantaran secara dampak yang mulai terasa, dikarenakan mungkin ada customernya yang bisa memahami dan ada juga yang tidak bisa memahami,” sambungnya.
Farid menyebut, bahwa dampak naiknya kura Dollar AS sendiri para pelaku usaha sudah mulai putar otak, dalam mengurangi volume di Purchase Order (PO) dan ada juga yang beralih ke kompetitor.
“Meskipun proses efisiensi sendiri juga suda dilakukan secara maksimal. Tetapi mengenai kenaikan harga bahan baku ini mulai terasa sekarang, terutama produk otomatis yang kebanyakan bahan bakunya impor,” jelasnya.(Mme)










