KOTA BEKASI, Mediakarya – Transit Oriented Development (TOD) yang akan segera dibangun di kawasan Summarecon Bekasi, akan mempunyai manfaat besar jika berhasil dikembangkan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan bahwa jika TOD berhasil, maka dapat menekan emisi karbon, polusi udara berkurang serta penggunaan energi jadi lebih efisien.
“Dari sisi ekonomi, nilai properti meningkat, investasi bertambah, dan produktivitas masyarakat ikut meningkat,” ujar AHY kepada media, di Kota Bekasi pada Jumat 24 Juli 2026.
Lebih lanjut AHY, peningkatan nilai ekonomi harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).
“Summarecon telah berupaya menjaga keseimbangan tersebut, yaitu memperoleh keuntungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” kata AHY
Selain itu, akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik juga akan menjadi lebih baik.
Belajar dari Kota-Kota Dunia
Konsep Transit Oriented Development (TOD) juga telah diterapkan di beberapa kota maju di dunia seperti Hong Kong, Singapura, dan Tokyo yang telah lebih dahulu menerapkan.
Menurut AHY, Indonesia juga memiliki potensi besar, dan yang dibutuhkan adalah sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pengembang.
Namun tidak semua kawasan yang memiliki stasiun otomatis dapat disebut TOD. TOD memiliki karakteristik khusus, yaitu integrasi antara transportasi, tata ruang, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
“Mudah-mudahan kawasan ini dapat menjadi salah satu role model TOD di Indonesia,” harapnya.
Pada pengembangan TOD ini, mempunyai berbagai tantangan yaitu pengadaan lahan dan pembiayaan infrastruktur yang membutuhkan biaya besar sehingga harus dihitung secara efisien.
Tantangan lainnya adalah potensi gentrifikasi, yaitu ketika harga lahan meningkat sehingga masyarakat berpenghasilan rendah terdorong keluar dari pusat kota menuju wilayah pinggiran.
“Selain itu, diperlukan perubahan perilaku masyarakat agar lebih memilih menggunakan transportasi publik dibanding kendaraan pribadi. Konsep TOD hanya akan berhasil apabila masyarakat memiliki pola pikir untuk menjadikan transportasi umum sebagai pilihan utama,” tambahnya.
AHY kembali menambahkan, Peran utama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur adalah menghadirkan sinergi dan menyelaraskan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, maupun komunitas.
“Semua harus dilibatkan. Komunitas jangan hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga harus didengar aspirasinya,” pungkasnya.
Sering kali, dengan mengadopsi kearifan lokal (local wisdom), sebuah kota justru menjadi lebih otentik, lebih memiliki identitas, dan tidak sekadar meniru wajah kota-kota di negara lain.(Mme)











