ACEH UTARA, Mediakarya — Sebanyak 80 pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Aceh Utara mendapat pendampingan intensif melalui program Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif pada 22–23 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Utara itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha kreatif yang terdampak bencana.
Mengusung tema “Ekraf Peduli: Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku ekraf agar mampu mengembangkan bahan baku dan potensi lokal menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah serta mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Program ini sekaligus menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut pembangunan infrastruktur, tetapi juga pemulihan sumber penghidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kegiatan dibuka Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Aceh Utara, Zulkifli, bersama Kepala Bagian Perencanaan dan Keuangan Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Indri.
Zulkifli menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap pelaku ekonomi kreatif di Aceh Utara.
Ia berharap Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih dapat menjadi wadah untuk membantu proses pemulihan dan rehabilitasi usaha sekaligus membuka kembali peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Saya berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah pemulihan dan rehabilitasi usaha serta membuka kembali peluang usaha bagi pelaku ekraf khususnya di Kabupaten Aceh Utara,” ujar Zulkifli.
Sementara itu, Indri menekankan pentingnya pemulihan ekonomi masyarakat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Menurutnya, pembangunan kembali wilayah terdampak tidak cukup hanya dengan memperbaiki sarana dan prasarana fisik, tetapi juga harus memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan kegiatan ekonomi.
“Wujud nyata percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, pemulihan tidak hanya difokuskan pada perbaikan infrastruktur fisik, tetapi juga pada kebangkitan ekonomi warganya,” kata Indri.
Dalam kegiatan tersebut, praktisi ekonomi kreatif Khairul Fajri Yahya turut memberikan materi kepada peserta. Fashion designer sekaligus pemilik brand Ija Kroeng dan peraih Serambi Ekraf Award itu membagikan pengalaman dalam membangun usaha yang mengangkat kearifan lokal.
Materi yang diberikan mencakup penguatan branding, menentukan segmen pasar, perlindungan merek melalui legalitas, hingga strategi pengembangan produk.
Para peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan usaha, termasuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), menentukan harga jual, melakukan analisis SWOT serta membangun tata kelola keuangan yang lebih tertib dan akuntabel.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku ekraf memahami bahwa kreativitas perlu didukung dengan kemampuan mengelola bisnis secara profesional agar usaha dapat bertahan dan berkembang.
Salah seorang peserta, Cut Putriani, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan dalam menjalankan usahanya.
“Saya mendapatkan ilmu baru dan siap menerapkan seluruh materi yang telah diberikan. Harapannya, program EKRAF Peduli ini dapat menjangkau masyarakat hingga ke pelosok desa,” ujar Cut Putriani.
Apresiasi juga disampaikan Ruli Safianur, warga Desa Sawang yang termasuk wilayah terdampak bencana. Ia berharap pendampingan pemerintah tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan dukungan konkret terhadap kebutuhan produksi pelaku usaha.
“Kami berharap ke depannya Kementerian EKRAF tidak hanya menggelar pelatihan, tetapi juga memberikan bantuan alat produksi,” tutur Ruli.
Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih di Aceh Utara diharapkan menjadi bagian dari pendampingan berkelanjutan bagi pelaku ekonomi kreatif.
Dengan penguatan kapasitas, tata kelola usaha dan pemanfaatan potensi lokal, pelaku ekraf diharapkan mampu memulihkan usaha sekaligus menciptakan produk unggulan yang memiliki daya saing di tingkat nasional hingga pasar global. (Zulmalik)











