JAKARTA, Mediakarya – Seruan publik agar Presiden Prabowo Subianto dijauhkan dari mikrofon mengemuka sebagai bentuk kritik dan plesetan sarkastik “Prabowo No Mics” terhadap sejumlah pernyataannya saat berpidato. Istilah ini viral di media sosial, terutama setelah insiden penyataan sensitif terkait nuklir dan uranium dalam forum resmi hingga menyebut upah kupas bawang Rp700 ribu per kilo, yang menuai sorotan luas.
Direktur eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia, Yusuf Blegur, menilai bahwa saat ini publik terus dipaksa bereaksi keras terhadap kebanyakan pidato Prabowo. Berulang kali narasi yang disampaikan seorang presiden menuai banyak respon negatif rakyatnya.
“Mulai dari halusinasi, kebohongan, dan dianggap melakukan fitnah. Hingga yang relatif lebih lunak menganggapnya pikun. Prabowo seperti sedang berada dalam pusaran penghakiman dirinya terutama di media sosial akibat lemahnya pengendalian kata-katanya sendiri,” ujar Yusuf kepada Mediakarya di Jakarta, Ahad (16/8/2026).
Kemudian Yusuf membandingkan kualitas orasi maupun pidato dua presiden yakni Prabowo dengan Bung Karno, baik dalam acara kenegaraan maupun rapat dengan pembantunnya. “Pidato Bung Karno membakar semangat rakyat, pidato Bung Bowo membakar emosi rakyat. Begitu seloroh netizen,” katanya.
Seperti dalam pidato kenegaraan Prabowo di gedung DPR/MPR RI pada Jumat 14 Agustus 2026, kembali memunculkan kehebohan di kalangan netizen. “Prabowo menyebut Ibu Susana sebagai tukang pengupas bawang dengan upah 700 ribu per kilo. Padahal ibu Susana yang terdaftar sebagai penerima program PKH dan program sembako yang dihadirkan pada momen itu, hanyalah penjahit kain majun, yakni kain perca atau potongan kain sisa bahan yang dimanfaatkan sebagai lap pembersih,” katanya.
Penelusuran netizen atas pernyataan Prabowo tersebut begitu dalam dan detail. Sampai menemukan sosok ibu Susana hanya mendapatkan upah sebesar 700 rupiah untuk setiap kilogram kain majun yang selesai dijahit.
“Bukan sebagai tukang kupas bawang yang yang umumnya menerima upah sebesar 30-40 ribu/kilo,” ujar dia.
Yusuf menilai fakta yang berbanding terbalik dengan pernyataan Prabowo itu bukan hoaks karena dilansir oleh komdigi.co.id sebuah situs resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI. Ketidaksesuaian ucapan dan fakta yang kerap terjadi saat Prabowo pidato, jika tidak mau disebut kebohongan yang menerus.
Beragam komentar terus membanjiri pernyataan Prabowo tak terbatas hanya pada pidatonya semata. Saking seringnya salah ucap, tak sepantasnya dilontarkan, dan dipenuhi kontroversi hingga tidak berdasarkan fakta.
“Jadi, lambat-laun setiap pidato kenegaraan prabowo menimbulkan asumsi bahkan konklusi publik yang miring, skeptis, dan apriori terhadap pemerintahannya,” jelasnya.
Yusuf juga menyinggung telah ada penilaian kritis pada sosok presiden yang sarat beban sejarah dan dosa masa lalu itu. Mulai dari faktor umur yang kian uzur, penyakit yang terus menjangkit, hingga kondisi miris psikis akibat bertumpuknya masalah demi masalah dalam pengelolaan negara yang dipimpinnya.
“Bahkan penilaian khalayak ramai berkembang bahwasanya kehadiran dan keberadaan Prabowo itu sendiri juga sudah menjadi problem krusial dan kronis bagi rakyat, negara dan bangsa Indonesia,” tegs Yusuf.
Dia juga menila ada sedikit pembenaran atau upaya pemakluman terutama dari kalangan abdi dalem, penjilat, dan buzzer pengerat berbayar. Namun banyak yang tak lagi bisa menerima kebiasaan buruk pada pidato dan perilaku Prabowo sebagai presiden.
“Mimik ngenye, gimik joget dan meledek menjulurkan lidah serta gestur disertai aksi marah-marah sembari mengancam siapa saja di atas podium dan door stop. Membuat Prabowo sudah terlihat tak sepantasnya dan tak selayaknya lagi sebagai presiden yang sejatinya harus dipenuhi kehormatan, kewibawaan, dan lebih substansi memiliki kepercayaan dan dukungan rakyat,” beber dia.
Lanjut Yusuf, saat ini publik dibuat mengelus dada dan netizen pun menggerutu. Entah harus tantrum atau menjadikan presidennya sebagai badut yang penuh lelucon. Mimpi apa rakyat sebelumnya sampai harus menanggung penderitaan karena memiliki pemimpin yang malah menjadi beban dan sumber masalah.
“Yang jelas rakyat harus menerima apa adanya, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, selamat menikmati negara dengan presiden seperti itu oleh pilihannya sendiri,” kata Yusuf.
Menurut dia, pernyataan Prabowo yang dinilai sangat fatal itu sebagai bentuk bahwa pimpinan negara yang ada saat ini ternyata tidak memahami dinamika yang terjadi di bawah, namun dia sekedar menyampaikan informasi yag diterima dari bawahannya.
Maklum saja Prabowo dari dari lahir tidak pernah merasa susah. Seperti pernyataan Prabowo dari penjahit kain majun ke pengupas bawang. Entah kepeleset lidah, entah saking piawainya pidato tanpa teks hingga sekata-katanya.
“Begitulah hobi presiden yang tak bisa jauh dari mik atau podium. Bebas saja mau ngomong dan bertingkah apapun. Toh sudah jadi presiden,” pungkas Yusuf. (Hab)











