JAKARTA, Mediakarya – Analis politik Institute for Public Policy Strategic (IPPS), Nurul Julyana, menanggapi polemik jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Bekasi. Dia menilai dinamika yang berkembang di internal partai beringin itu saat ini sudah tidak produktif.
Menurut Nurul, gesekan keras antarkubu Ade Puspitasari yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bekasi, dengan kelompok Ranny Fahd Arafiq yang dimotori oleh barisan sakit hati terkait kebijakan Ade, terus bermanuver ke sejumlah pengurus PK dan kader potensial.
Bahkan baru-baru ini sejumlah PK mengundurkan diri dari kepengurusan Ade. Hal ini diduga dipicu adanya manuver politik internal DPD Golkar yang dinilai tak sejalan dengan Ade.
Nurul menilai manuver kampanye hitam (black campaign) yang dilakukan oleh sesama kader menjelang Musda Partai Golkar sangat berisiko memicu perpecahan internal.
“Fenomena ini mencerminkan dinamika persaingan yang tidak sehat, di mana perebutan kursi kepemimpinan daerah mengorbankan soliditas dan citra institusi partai itu sendiri,” ungkap Nurul kepada Mediakarya di Jakarta, Selasa (30/9/2026).
Alih-alih berfokus pada adu gagasan dan strategi pemenangan partai di pemilu daerah, serangan yang bersifat personal dan menjatuhkan justru memicu polarisasi tajam antarkelompok pendukung kandidat.
Menurut Nurul, konflik internal yang mencuat ke ranah publik akibat kampanye hitam dapat menurunkan citra positif Partai Golkar di mata masyarakat, yang pada akhirnya bisa merugikan elektabilitas partai dalam agenda politik elektoral.
Untuk itu, Nurul menyarankan agar kedua kubu fokus pada gagasan yang strategis, bukan teralih pada isu-isu hukum atau serangan personal.
“Kedua kubu seharusnya memunculkan diskursus yang sehat mengenai kapasitas, strategi, dan visi wajah baru kepemimpinan yang dibutuhkan daerah,” tegasnya.
Redam Konflik, Perlu Calon Kuda Hitam
Menurut dia, munculnya calon kuda hitam dalam Musda Golkar sering kali menjadi strategi krusial untuk meredam konflik internal akibat polarisasi tajam antara faksi-faksi utama.
“Ketika dua kubu Ade dan Ranny saling berhadapan, tensi politik yang tinggi berpotensi memecah belah soliditas partai di tingkat daerah,” ujar dia.
Nurul berpandangan, saat faksi-faksi dominan terjebak dalam kebuntuan (deadlock) dan menolak untuk saling mengalah, calon kuda hitam hadir sebagai jalan tengah.
“Kami menilai calon kuda hitam dalam Musda Kota Bekasi ini diperlukan di tengah memanasnya suhu politik di internal Golkar. Tentunya calon tersebut tidak memiliki resistensi politik yang tinggi dari kubu manapun, sehingga dapat diterima oleh semua pihak demi menjaga keharmonisan partai,” saran Nurul.
Dia mengkhawatirkan jika persaingan head-to-head antara kubu Ade dan Ranny dipaksakan bakal meninggalkan “luka politik” yang berkepanjangan pasca-Musda.
“Setidaknya calon kuda hitam dapat mendinginkan atmosfer kompetisi dan mengalihkan fokus dari benturan ego faksi menjadi konsolidasi ide,” katanya.
Nurul mengungkapkan, kuda hitam umumnya merupakan kader senior yang dihormati atau figur profesional partai yang selama ini menjaga jarak dari konflik faksi.
“Netralitas ini memberikan jaminan kepada seluruh kader di daerah bahwa kepemimpinan baru akan bertindak adil dan tidak memihak salah satu kelompok saja,” jelasnya.
Lebih lanjut, Partai Golkar selalu berorientasi pada pemenangan pemilu, baik Pileg, Pilpres, maupun Pilkada. Jika energi partai habis untuk konflik internal di Musda, mesin partai di daerah akan lumpuh.
“Figur alternatif memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus sehingga partai bisa langsung fokus pada kerja-kerja elektoral,” pungkasnya. (Ugy)











