JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif Charta Politika Yunanto Wijaya mengungkap pernah dipanggil Presiden Prabowo Subianto melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan sempat ditawari jabatan.
Hal itu diungkap Yunanto dalam podcast Cafe Febri di kanal YouTube Henry Febri, yang cuplikannya viral di media sosial. “Saya enggak bisa mas pegang Prabowo dengan imajinasi yang berbeda. Diajak sama Mas Teddy ngobrol 4 jam setengah pertama kali pertemuan, yang kedua kali 2 jam. Empat mata dan clear meminta bantuan. Sudah sempat ditawari secara blak-blakan meminta angka,” ujar Yunanto seperti dikutip Mediakarya, Kamis (22/10/2026).
Yunanto mengaku menolak tawaran tersebut. Ia pun menceritakan sisi lain Prabowo yang jauh dari mitos menyeramkan sebagai bekas aktivis.
“Apakah langsung ditolak? Enggak mas. Ngelihat Pak Prabowo saat itu ada sisi lain yang saya lihat. Dulu kan mitos nih bekas aktivis agak menyeramkan lah Pak Prabowo ya. Pada saat ketemu jujur lebih humanis. Beliau banyak baca buku tapi enggak baca koran sama enggak baca medsos,” katanya.
Menurut Yunanto, Prabowo adalah sosok dengan paradigma yang sangat kuat. Hal itu terlihat dari bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya. Apa yang dijalankan selama dua tahun pemerintahannya disebut exactly dengan apa yang diyakininya tentang membangun negara.
“Beliau banyak baca buku tapi enggak baca koran sama enggak baca medsos. Jadi mungkin itu juga ya yang kita rasakan sekarang. Paradigmanya kuat tapi seringkali ketika dibenturkan pada fakta empiris kemampuan untuk beradaptasinya itu kecil,” jelas Yunanto.
“Itu yang menyebabkan orang merasa keras kepala banget sih. Enggak mau terima masukan banget sih. Jauh banget dari realita sih,” lanjutnya.
Namun Yunanto menegaskan paradigmanya tidak buruk. Prabowo sangat konsisten menjalankan apa yang dia percaya karena based on paradigma.
“Beda Pak Jokowi nih. Pak Jokowi base on apa yang dia lihat lalu kemudian dia cari solusinya. Fakta. Kalau mau dilihat agak negatifnya gara-gara Pak Jokowi enggak baca buku kan. Jadi dia menggunakan pendekatan fakta. Pak Prabowo gunakan pendekatan paradigma,” ujarnya.
Yunanto mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya paradigmanya tidak bisa dibantah, bahkan Rocky Gerung membela sebagai konstitusional dan paradigma sosialis yang menjadi jati diri Indonesia.
“Yang dikritik orang bukan paradigmanya. Yang dikritik orang hitung-hitungan teknokratiknya. Pelaksanaannya. Ngapain harus sebanyak itu. Kenapa harus melalui sistem seperti itu dapur besar. Kenapa berbicara mengenai cara penyalurannya seperti itu,” kata Yunanto.
Menut dia, kritik terhadap Prabowo sebenarnya adalah masalah kemampuan teknokratis dan kemampuan teknokratis itu tidak akan pernah terbangun jika orang tidak belajar dari perkembangan fakta empiris yang diketahui sekarang berkembang sangat cepat. (adt)











