Di Tengah Isu Penangkapan Jenderal, GNK Tegaskan Dukung Penuh Kapolri Suyudi Ario Seto Bersihkan Polri

- Editor

Selasa, 3 November 2026 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mabes Polri (Ist)

Mabes Polri (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Bareskrim Polri dikabarkan mengamankan sejumlah perwira tinggi, salah satunya jenderal bintang empat jenderal bintang dua dan seorang Kombes. Jika benar, ini adalah guncangan paling serius dalam sejarah internal Polri dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah kabut informasi itulah, Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid melempar seruan yang tak kalah keras: Presiden Prabowo Subianto harus segera turun tangan.

Desakan Habib Syakur ini bukan tanpa alasan. Ada dua sinyal besar yang terbaca dari peristiwa ini.  Pertama, Ini Bukan Sekadar Kasus Pidana, Ini Perang Kendali Internal. Penangkapan perwira tinggi, apalagi menyentuh level bintang empat, tidak mungkin dilakukan tanpa kalkulasi politik dan komando yang sangat tinggi. Ini bukan operasi reserse biasa. Ini adalah pertaruhan institusi.

Habib Syakur secara jeli membaca bahwa Polri sebagai garda terdepan keamanan negara tidak boleh dibiarkan terbelah oleh kepentingan politik manapun. Pesannya jelas: ada upaya sistematis yang mencoba memanfaatkan dinamika internal Polri untuk kepentingan di luar institusi.

“Polri sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban negara, dibutuhkan organisasi yang solid dan bebas dari kepentingan politik manapun,” tegas Habib Syakur dalam keteranga tertulisnya yang diterima Mediakarya di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menurit Habib Syakur, gejolak di internal Polri itu merupakan peringatan keras bahwa yang terjadi bukan sekadar penegakan hukum, tapi potensi proxy war di tubuh Bhayangkara.

Kedua, Momentum Cuci Gudang dan Ujian Legitimasi Kapolri Suyudi Ario Seto. Inilah bagian paling analitik. GNK secara terbuka menyebut nama Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai figur yang sedang berikhtiar memperbaiki citra Polri yang selama ini distigmakan bobrok.

Baca Juga:  Pangdam XVII/Cenderawasih: Ada Wacana Penambahan Kodam di Tanah Papua

Dukungan ini adalah sebuah legitimasi politik. Di saat isu penangkapan jenderal bintang empat bisa ditafsirkan sebagai serangan balik kepada kepemimpinan Kapolri, GNK justru memposisikan Suyudi Ario Seto sebagai eksekutor bersih-bersih, bukan sebagai target.

Langkah Bareskrim menangkap jenderalnya sendiri hanya bisa terjadi jika Kapolri memberikan lampu hijau penuh. Ini adalah gaya kepemimpinan shock therapy. Jika berhasil, citra Polri akan melesat sebagai institusi yang berani memotong dagingnya sendiri yang busuk. Jika gagal, Polri terancam disintegrasi.

Mengapa Prabowo Harus Turun Tangan?

Habib Syakur paham betul, tanpa backing dari Istana, operasi bersih-bersih setingkat bintang empat akan berbalik menjadi bumerang. Kapolri Suyudi Ario Seto butuh tameng politik setingkat Presiden.

Seruan agar Presiden Prabowo turun tangan adalah seruan untuk memberikan payung kepresidenan kepada Kapolri agar tidak ragu menuntaskan reformasi total. Prabowo sebagai mantan militer dan kini panglima tertinggi sangat paham bahwa soliditas Polri adalah kunci stabilitas nasional.

Ini bukan lagi soal kasus hukum perorangan. Ini adalah soal apakah Polri akan menjadi institusi yang solid, profesional, dan bebas politik di era Prabowo, atau kembali terjebak menjadi alat kepentingan kelompok yang distigma bobrok oleh rakyatnya sendiri.

Bola panas kini ada di tangan Mabes Polri dan Istana. Publik menunggu: siapa jenderal bintang empat itu, dan apakah ini awal dari Polri Baru yang dijanjikan?

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Tuntutan 10 Penjara Dan Pemecatan Dinilai Janggal, Advokat Letjen Widi Prasetijono Bongkar Tujuh Kejanggalan Perkara Kebun Carui
Putusan MA Soal Ijazah Gibran Dinilai Bukan Sekadar Administrasi, Tapi Krisis Konstitusi
Politisi PKS Geram Atas Tindakan Arogansi Jajaran Polda Jateng
Ketua MAKI Bongkar Dugaan Modus Nusron Wahid Hindari KPK, Siapkan Dinas ke Jepang Sebagai Alasan Mangkir
Inisiator GNK Sebut Kapolda Jateng Paling Bertanggung Jawab, Seharusnya Dicopot Duluan
Sekjen LPKAN: Putusan MA Batalkan Penyetaraan SMA Gibran Jadi Momentum Uji Integritas Negara
Komisi III Apresiasi Larangan Vape di Lingkungan Polri, Adang Daradjatun: Langkah Tegas Cegah Narkotika
Gerebek Ponpes di Luar Prosedur, Kapolres Sukoharjo Akhirnya Dicopot

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 16:46 WIB

Tuntutan 10 Penjara Dan Pemecatan Dinilai Janggal, Advokat Letjen Widi Prasetijono Bongkar Tujuh Kejanggalan Perkara Kebun Carui

Selasa, 3 November 2026 - 16:35 WIB

Di Tengah Isu Penangkapan Jenderal, GNK Tegaskan Dukung Penuh Kapolri Suyudi Ario Seto Bersihkan Polri

Selasa, 3 November 2026 - 10:41 WIB

Putusan MA Soal Ijazah Gibran Dinilai Bukan Sekadar Administrasi, Tapi Krisis Konstitusi

Selasa, 3 November 2026 - 09:16 WIB

Politisi PKS Geram Atas Tindakan Arogansi Jajaran Polda Jateng

Selasa, 3 November 2026 - 07:37 WIB

Inisiator GNK Sebut Kapolda Jateng Paling Bertanggung Jawab, Seharusnya Dicopot Duluan

Berita Terbaru