Dirjen Keuangan Daerah Agus Fatoni Dorong Daerah Perkuat Kemandirian Fiskal Lewat Inovasi

- Editor

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dirjen Keuda Kemendagri Ahmad Fatoni (dua dari kiri) saat Regional Financial Discussion bertema “Pengelolaan Keuangan Daerah dan Creative Financing” yang berlangsung di Grand Ballroom Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026).

Dirjen Keuda Kemendagri Ahmad Fatoni (dua dari kiri) saat Regional Financial Discussion bertema “Pengelolaan Keuangan Daerah dan Creative Financing” yang berlangsung di Grand Ballroom Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026).

JAKARTA, Mediakarya – Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah (Keuda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Agus Fatoni, menegaskan bahwa kemandirian fiskal daerah tidak hanya diukur dari besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga ditentukan oleh keberanian pemerintah daerah dalam melakukan inovasi dan terobosan dalam pengelolaan keuangan.

Menurut Fatoni, kondisi fiskal daerah saat ini menghadapi berbagai tantangan yang dipengaruhi dinamika global, nasional, maupun kondisi spesifik di masing-masing wilayah. Karena itu, pemerintah daerah dituntut lebih kreatif dalam memperkuat kapasitas fiskalnya.

Hal tersebut disampaikan Fatoni dalam Regional Financial Discussion bertema “Pengelolaan Keuangan Daerah dan Creative Financing” yang berlangsung di Grand Ballroom Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026).

“Kemandirian fiskal bukan hanya soal angka, tetapi keberanian daerah untuk berinovasi. Daerah harus berani mencari solusi, menciptakan peluang, dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk memperkuat kapasitas fiskalnya,” kata Fatoni.

Ia menjelaskan, hingga saat ini sebagian besar pemerintah daerah masih memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap dana transfer dari pemerintah pusat. Oleh sebab itu, daerah perlu terus meningkatkan kemampuan fiskalnya melalui optimalisasi pendapatan daerah, efisiensi belanja, serta pengelolaan anggaran yang efektif dan tepat sasaran.

Menurut Fatoni, pengelolaan keuangan daerah harus diarahkan untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan, pembangunan berkelanjutan, pelayanan publik semakin berkualitas, serta kesejahteraan masyarakat terus meningkat.

“Kondisi fiskal yang kuat akan memberikan ruang yang lebih besar bagi daerah untuk berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sebaliknya, semakin tinggi ketergantungan terhadap dana transfer, maka ruang fiskal daerah menjadi semakin terbatas,” ujarnya.

Fatoni menambahkan, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi yang dimiliki, tetapi juga kualitas kepemimpinan kepala daerah. Menurutnya, pemimpin yang memiliki visi kuat, kreatif, dan inovatif akan mampu menghadirkan solusi meskipun berada dalam berbagai keterbatasan.

Baca Juga:  Soal Pernyataannya yang Kontroversi, Polri Didesak Segera Periksa Yakut

“Selain potensi daerah, leadership juga sangat penting. Kepala daerah yang inovatif dan kreatif akan mampu menemukan solusi meskipun dalam kondisi yang sulit,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Fatoni juga mengajak pemerintah daerah untuk aktif mempelajari praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan daerah lain. Ia menilai banyak inovasi yang dapat direplikasi dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.

“Daerah yang sukses harus menjadi contoh bagi daerah lain. Kita bisa menerapkan prinsip ATM, yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi. Dengan demikian, inovasi dapat berkembang lebih cepat dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Menurut Fatoni, forum diskusi antardaerah menjadi sarana penting untuk berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas pemerintah daerah, serta mencari solusi bersama dalam menghadapi tantangan pembangunan.

Ia juga menekankan bahwa regulasi saat ini telah memberikan ruang yang luas bagi pemerintah daerah untuk berinovasi dalam pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya pemahaman terhadap aturan, tetapi juga keberanian untuk mengambil langkah-langkah strategis yang tetap akuntabel dan bertanggung jawab.

“Regulasi untuk berinovasi sudah tersedia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk memanfaatkannya. Banyak daerah masih ragu karena tidak paham, dan tidak paham karena tidak belajar,” tegasnya.

Di akhir paparannya, Fatoni mengingatkan pentingnya membangun pola pikir yang adaptif dalam menghadapi perubahan dan tantangan masa depan. Ia mengutip pesan Presiden bahwa hasil yang berbeda hanya dapat dicapai melalui cara-cara yang berbeda.

“Kalau daerah lain bisa, kita harus bisa. Bahkan kalau perlu, daerah lain tidak bisa, kita yang bisa. Semangat inilah yang harus menjadi energi baru dalam membangun kemandirian fiskal daerah,” pungkasnya. (hab)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Tantangan Pengembangan TOD, Butuh Biaya Besar
Pembangunan TOD, AHY; Saya Titip Kepada Pemkot Bekasi Agar Sesuai Peruntukannya
Naniek Sudaryati Deyang Mudur dari Kepala BGN
‎FAKTA Indonesia Siapkan Gugatan Hukum Agar Cukai MBDK Segera Diterapkan
Bawa Nama Presiden Prabowo dalam Perkara Pidana, Hotman Paris Diminta Jaga Etika Profesi
Terima Pemred Award 2026, Nasir Djamil: Pers Harus Kembali ke Rakyat dan Jaga Independensi
Benyamin Davnie Raih Pemred Award 2026, FPRMI Apresiasi Komitmen Komunikasi Publik Tangsel
Sekjen FPRMI: Literasi Jurnalistik Harus Diperkuat agar Masyarakat Tak Mudah Percaya Hoaks

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:22 WIB

Tantangan Pengembangan TOD, Butuh Biaya Besar

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:54 WIB

Pembangunan TOD, AHY; Saya Titip Kepada Pemkot Bekasi Agar Sesuai Peruntukannya

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:11 WIB

Naniek Sudaryati Deyang Mudur dari Kepala BGN

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:00 WIB

‎FAKTA Indonesia Siapkan Gugatan Hukum Agar Cukai MBDK Segera Diterapkan

Selasa, 21 Juli 2026 - 06:59 WIB

Bawa Nama Presiden Prabowo dalam Perkara Pidana, Hotman Paris Diminta Jaga Etika Profesi

Berita Terbaru