Fenomena Bohir Dadakan Jelang Pilkada, Banyak Kontestan Tertipu

- Editor

Sabtu, 24 Agustus 2024 - 18:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, Mediakarya – Setiap lima tahun sekali, pesta demokrasi di Indonesia, baik itu pemilihan presiden (pilpres) atau pemilihan kepala daerah (pilkada), selalu berlomba untuk mendapatkan rekomendasi kendaraan partai agar bisa tampil menjadi kontestan.

Biaya untuk rekomendasi itu sangat mahal dan beragam sebagai wujud beli uang kursi dan tergantung jumlah kursi yang ada di wilayah tertentu atau yang dikenal “mahar politik”, belum lagi untuk biaya kampanye,

Namun yang menarik untuk dicermati bersama dalam pemilu kali ini, banyaknya kontestan tidak memiliki logistik yang memadai. Akibatnya harus mencari pendana atau sponsor (bohir).

Berbagai cara para kontestan itu mendapatkan bohir. Di antaranya dengan berhutang, menggadaikan asetnya, serta mencari pemodal atau founder kepada makelar bohir yang menyesatkan.

Melihat fenomena tersebut, Ketua Dewan Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Wibisono menilai munculnya founder-founder dadakan ini selalu ada di setiap momen pemilu.

Di antaranya dengan berbagai macam cara. Seperti ada calon ditawarkan dana besar namun harus mengeluarkan dana di depan. Karena untuk proses pencairan harus melalui instrumen Bank (Bank garansi) yang nilai nominalnya sangat fantastis di beberapa bank asing.

“Ada juga calon yang ditawari dana besar dengan cara membayar operasional untuk biaya bank (provisi) dengan cara mencairkan dana uang terblokir di bank, deposito dan sebagainya,” ujar Wibi dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan di Jakarta, (23/8/2024).

Baca Juga:  Dinilai Terlalu Gemuk, Kabinet Prabowo Ancam Fiskal APBN

Selain itu, lanjut dia, ada juga yang memberikan iming-iming dana besar untuk ikut rolling program atau Private placement program (PPP) yang bisa me-rolling instrumen bank (BG) untuk mendapatkan keuntungan (interest) yang sampai 1000% pertahun.

Selanjutnya, kata dia, ada yang bermain instrumen bank atas nama orang tua (harta amanah bung Karno) yang konon ada di Bank UBS Swiss dan sebagainya.

“Saya sendiri mengenal permainan ini sejak tahun 2004, dan awalnya saya percaya aja proses finansial engineering ini, tapi saya belum pernah berhasil dan gagal, semua skema yang saya tulis di atas sudah saya pernah jalani, ternyata semua hanya tipu tipu belaka,” ungkap Wibi.

Oleh karenanya, ia mengimbau kepada para calon kepala daerah yang sekarang berjuang untuk mendapatkan dana dalam berkompetisi pilkada harus merubah pola pikirnya.

“Jangan memakai pola pikirnya “penasaran” tapi pola pikirnya harus pakai logika, mana ada founder atau orang kaya mengedarkan instrumen bank sifatnya rahasia dengan nilai yang fantastis ke publik?, ga masuk akal,” imbaunya.

Dirinya juga berharap para calon kepala daerah tetap bisa berjuang untuk mendapatkan posisinya tanpa mengorbankan harta yang barokah ke cara yang tidak masuk akal ini.

“Selamat berjuang para pemimpin daerah, semoga negara ini tidak dipimpin oleh orang yang menghalalkan segala cara dalam memenangkan pertandingan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Tata Kelola Tambag Kian Amburadul, GNK Desak Prabowo Pecat Bahlil
Diduga Belum Ada Pelunasan, Pengalihan Saham Pendiri PT ACT Group Berujung Proses Hukum
Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar
Jadikan Ruang Terbuka Hijau, Pol PP Bongkar Puluhan Bangunan Liar di Puncak
Fahd Dicokok KPK, Loyalis Ranny Fahd Arafiq Galang Dukungan Maju  pada Musda Golkar Kota Bekasi
Bupati Bolmut Sulawesi Utara Kena Ciduk OTT KPK
Prabowo Kerap Berkata Kasar Hingga Disarankan Dijauhkan dari Mikropon, Begini kata Pengamat
Rektor Universitas Paramadina Tanggapi Usulan Pendidikan Gratis Hingga Perguruan Tinggi

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 14:08 WIB

Tata Kelola Tambag Kian Amburadul, GNK Desak Prabowo Pecat Bahlil

Rabu, 23 September 2026 - 12:38 WIB

Diduga Belum Ada Pelunasan, Pengalihan Saham Pendiri PT ACT Group Berujung Proses Hukum

Rabu, 23 September 2026 - 07:50 WIB

Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar

Selasa, 22 September 2026 - 22:48 WIB

Jadikan Ruang Terbuka Hijau, Pol PP Bongkar Puluhan Bangunan Liar di Puncak

Selasa, 22 September 2026 - 11:27 WIB

Fahd Dicokok KPK, Loyalis Ranny Fahd Arafiq Galang Dukungan Maju  pada Musda Golkar Kota Bekasi

Berita Terbaru

Proses penambangan (Foto: Ist)

Ekonomi & Bisnis

Tata Kelola Tambag Kian Amburadul, GNK Desak Prabowo Pecat Bahlil

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:08 WIB

Presiden Iran Masoud Pezeshkian

Internasional

Iran Tetap Teguh Melawan Amerika dan Israel di PBB

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:23 WIB