Untuk terkait kasus teroris sendiri, Ibrahim mengatakan memang itu menjadi tugas dan wewenang dari Densus 88, sehingga wajar jika tidak ada koordinasi.
“Itu (teroris) biasanya dalam pengembangan Densus,” ujar Ibrahim, dikutip dari antara.
Sebelumnya, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri kembali menangkap seorang terduga teroris yang merupakan karyawan BUMN berinisial DE di Bekasi, Jawa Barat.
Dikabarkan sejumlah senjata laras pendek dan laras panjang terlihat diamankan petugas, selain itu, terdapat pula sejumlah peluru yang turut didapat dalam penggeledahan.
Petugas juga dikabarkan mengamankan sejumlah buku hingga ponsel milik DE yang diduga terhubung dengan ISIS.
Namun, tidak merinci terkait jumlah barang bukti tersebut, dan polisi masih melakukan penggeledahan, termasuk di rumah pelaku di Baleendah, Kabupaten Bandung. (q2)










