Miliki Basis Massa Akar Rumput, Partai Gerakan Rakyat Kini tak Lagi Dipandang Sebelah Mata

- Editor

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

rakernas I partai Gerakan Rakyat (PGR) Foto: Istimewa

rakernas I partai Gerakan Rakyat (PGR) Foto: Istimewa

JAKARTA, Mediakarya – Analis politik dari institute for public Policy strategic (IPPS) Indonesia, Yusuf Blegur menilai Partai Gerakan Rakyat (PGR) tidak bisa dipandang sebelah mata. Organisasi yang kini bertransformasi menjadi partai politik pada Januari 2026 itu, menjadikan konsolidasi massa bawah sebagai fokus utama perjuangannya.

Terlahir dari basis relawan akar rumput dan menargetkan pemilu 2029, dengan pimpinan utama Sahrin Hamid serta dukungan kuat bagi Anies Baswedan, partai tersebut memiliki kekuatan yang berpijak pada loyalitas massa dan jejaring relawan yang masif.

Menurutnya, PGR lahir di tengah tsunami sikap skeptis dan apriori publik pada hampir semua partai politik. Kata Tom Lembong, akankah Partai Gerakan Rakyat menjadi anomali atau sebaliknya, “sama saja”?

“Dalam kurun waktu 6 bulan sejak dideklarasikan, PGR berproses mengukuhkan gerakan massa mengusung tema perubahan dan perbaikan Indonesia tersebut. Menggeliat menjadi kekuatan politik berbadan hukum,” ujar Yusuf dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Kamis (30/7/2026).

Yusuf menyebutkan bahwa entitas struktural dan kultural yang tak bisa lepas dari gagasan, nilai-nilai, dan visi seorang Anies Baswedan itu. Bukan hanya menunjukkan kemampuan melakukan pengorganisasian, konsolidasi, dan internalisasi basis massa politik.

“PGR juga menjadi sistem kesadaran kolektif mewujud upaya reflektif, evaluatif, dan solutif terhadap problematik sekaligus krisis konstusi dan demokrasi yang erat irisannya dengan kedaulatan rakyat yang sesungguhnya, yang diidam-idamkan selama ini,” jelasnya.

PGR telah melewati kerja-kerja ideologis membentuk struktur dan jejaring partai mulai dari pengurus pusat, provinsi, kota/kabupaten hingga kecamatan, kelurahan/desa dan RT/RW pelosok nusantara. Melewati penelusuran kedalaman waktu dan tempat seantero Indonesia.

Dari ujung timur ke ujung barat, dari siang ke malam yang terus berulang. PGR memuai kerja keras dan cerdas, pikiran dan keringat mengucur deras, serta menggali intuisi dan realisasi mesin politik yang potensial dan prospektif.

Baca Juga:  CBA Minta Jangan Sampai Sumbangan Rp1.000 per Hari ala KDM Berbau Pemerasan Sosial 

“Daya juang dan semangat progresif yang mereduksi keterlibatan keluarga, politik dinasti dan oligarki. PGR berhasil memadukan budaya kemandirian, gotong royong, dan suasana batin yang terus menghidupkan kesadaran krisis serta kesadaran makna yang menyeluruh pada setiap pengurus, anggota, dan kadernya,” ungkap Yusuf.

Yusuf menegaskan, sebagai partai politik yang lahir dari rahim akar rumput, PGR tidaklah hidup dalam ruang hampa. Entitas politik yang tersemai dari kegelisahan dan ketidakpuasan pada capaian negara dalam menghadirkan keadilan dan kemakmuran bangsa.

“PGR pastinya akan tetap dan selalu berada dalam pusaran konstelasi dan konfigurasi dari maraknya manipulasi konstitusi dan kapitalisme demokrasi,” sebut Yusuf.

Yusuf juga menilai, industrialisasi yang transaksional dari produksi pemilu, menjadi hambatan dan tantangan tersendiri bagi keberlangsungan proses administrasi, verifikasi, dan validasi PGR ke depannya.

“Dari Kemenkum ke KPU hingga terdaftar sebagai peserta pemilu, menjadi sesuatu yang terus hidup dan dinamis, hingga dapat meyakinkan publik dan memegang mandat kepercayaan rakyat. Tak cukup militansi dan loyalitas semata, ia harus tumbuh dan berkembang menjadi dedikasi yang tak pernah mati,” bebernya.

Lebih lanjut, di tengah badai dan angin topan pragmatisme dari status quo kekuasaan, PGR hadir menyeruak dari celah sempit idealisme dan realisme. Berada di antara sumirnya kesadaran ideal spiritual dan kesadaran rasional material.

“Mampukah PGR bertahan, menyusuri jejak-jejak rapuh yang perlahan samar dan redup dari cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia dan keinginan para pendiri bangsa?. Menjadi partai politik sesungguhnya dalam menyuarakan denyut nadi penderitaan rakyat dan kenistaan sebuah bangsa,” pungkasnya. (Adt)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dinilai Politisi Prematur, Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq Maju Ketua Golkar Kota Bekasi Dipertanyakan
Pasca Suami Dicokok KPK, Posisi Ranny Fahd Arafiq di Panggung Politik Melemah
Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar
Fahd Dicokok KPK, Loyalis Ranny Fahd Arafiq Galang Dukungan Maju  pada Musda Golkar Kota Bekasi
GNK Sebut Kasus Hukum Fahd Arafiq Tamparan Keras bagi DPP Golkar
Pencopotan Purbaya dari Jabatan Menkeu Langgar Etika Bernegara
Kasus OTT KPK Mengubur Wacana Sandingkan Tri Adhianto-Ranny Fahd Arafiq pada Pilkada Mendatang
Koalisi Partai Pendukung Pemerintah Sepakat Dukung Batas Parlemen 5 Persen

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 16:53 WIB

Dinilai Politisi Prematur, Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq Maju Ketua Golkar Kota Bekasi Dipertanyakan

Kamis, 24 September 2026 - 15:31 WIB

Pasca Suami Dicokok KPK, Posisi Ranny Fahd Arafiq di Panggung Politik Melemah

Rabu, 23 September 2026 - 07:50 WIB

Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar

Selasa, 22 September 2026 - 11:27 WIB

Fahd Dicokok KPK, Loyalis Ranny Fahd Arafiq Galang Dukungan Maju  pada Musda Golkar Kota Bekasi

Jumat, 18 September 2026 - 07:39 WIB

GNK Sebut Kasus Hukum Fahd Arafiq Tamparan Keras bagi DPP Golkar

Berita Terbaru