Setahun Rezim Prabowo, Perbaikan atau Kerusakan Menahun?

- Editor

Jumat, 24 Oktober 2025 - 13:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yusuf Blegur, Analis Politik dari IPPS Indonesia (Foto:  dok. Mediakarya)

Yusuf Blegur, Analis Politik dari IPPS Indonesia (Foto: dok. Mediakarya)

Oleh: Yusuf Blegur

Ada yang bilang mustahil berujung kebenaran jika dimulai dengan kejahatan.  Entah suasana batin yang muncul terpaksa atau dengan kesadaran. Menghalalkan segala cara demi kekuasaan, lalu pidato soal keadilan dan kemakmuran?

Terpilihnya Prabowo Subiyanto sebagai presiden dalam pilpres 2024 masih dibayangi oleh fakta dan keyakinan politik dualisme yang menyimutinya hingga sekarang. Akankah Prabowo menjadi pahlawan yang meletakkan dasar-dasar keselamatan dan kesinambungan NKRI. Atau Prabowo tak ubahnya meneruskan jejak hitam apa yang disebut dengan “state organized crime.

Menarik untuk menelisik Prabowo Subiyanto dalam tatanan rekam jejak, rekam karya dan rekam prestasi. Figurnya tak pernah lepas dari catatan buruk dan miris yang tak pernah terhapus dari sejarah. Publik terpaksa dan akan selalu menilai hitam putih Prabowo. Tak luput saat menjadi seorang presiden begitu kentara  tak mampu menutupi compang-camping riwayatnya.

Pertama, legalitas dan legitimasi yang rusak dari tinjauan demokrasi dan konstitusi. Meskipun melewati aspek-aspek formal dan  prosedural, penyelenggaraan pilpres yang menghasilkan Prabowo-Gibran sebagai presiden dan wakil presiden.   Dalam proses dan pelaksanaannya kental dengan praktik-praktik KKN, politik dinasti dan cacat moral.

Kedua, Meskipun menyimpan beban dan dosa politik teramat berat dari pilpres 2024, kepemimpinan Prabowo khususnya tetap membawa ekspektasi yang tinggi dari rakyat, utamanya terhadap agenda perubahan Indonesia yang lebih baik. Seperti pasrah dan tak ada pilihan lagi saat kehadiran presiden terpilih namun sarat rekayasa, presiden yang  lahir dari proses  ketidakjujuran dan ketidakadilan, berangkat dari politik kekuasaan tanpa etika dan moral. Rakyat  berharap-harap cemas, antara yakin dan tidak yakin, bahkan hanya mampu untuk sekedar “wait and see” mengamati kinerja Prabowo sebagai presiden.

Dalam hal ini dan berangkat dari dualisme gaya  kepemimpinan itu, Prabowo terjebak pada agenda konspirasi kelam dan jahat yang berhasil mengusungnya menjadi presiden. Atau mengabaikannya untuk kemudian fokus menjadi pemimpin visioner yang mampu mendekonstruksi dan merekonstruksi Indonesia?.

Ambivalensi Kebijakan

Harus diakui dan sebagian  publik mulai mengamininya. Ada banyak gebrakan dalam langkah-langkah politik pemerintahan Prabowo yang menunjukkan indikasi pro rakyat. Namun seiring itu, Prabowo juga terlihat tak berdaya terhadap realitas dan upaya  melepaskan diri dari sandera politik rezim lama (Jokowi) dan anasirnya.

Baca Juga:  Bargaining Politik Jokowi-Mega Jegal Anies

Publik disuguhkan pada kebijakan populis yang terasa meringankan beban hidup masyarakat di satu sisi. Namun terus memelihara jika tak mau disebut melanjutkan kebijakan yang berorientasi sentris pada kemiskinan dan kebodohan struktural, juga sistemik di lain sisi.

Prabowo seperti sedang  asyik bermain politik dua muka. Satu wajah menampilkan perbaikan dan  pesonanya, wajah yang lain tetap terlihat muram dan kusam dibiarkan terpapar debu dan polusi beracun kemunafikan bernegara.

Prabowo bahkan tak berdaya hanya untuk sekedar melakukan reshuffle  menterinya dan pejabat tinggi lainnya secara substansial yang nyata  inkompetensi dan merusak, sesuai kehendak rakyat. Prabowo juga tak mampu memberantas korupsi secara holistik dan komprehensif, sekedar tebang pilih dan gradual menggunakan bahasa halus.

Utang negara dan pajak rakyat tetap menjadi primadona. Pun, soal pengelolaan sumber daya alam masih terjadi pembiaran eksploitasi berujung perampokan kekayaan negara dari bangsa asing dan segelintir elit politik.

Apa yang dilakukan Prabowo dalam kapasitasnya sebagai presiden untuk perbaikan bangsa ini, terus berlangsung seiring sejalan dengan distorsi dan kemunduran bangsa ini juga. Salah satu penyebabnya adalah penyimpangan juga dilakukan oleh orang di sekelilingnya dan yang menjadi supporting sistem yang menyokongnya menjadi presiden.

Kontradiktif, ambivalensi dan ambigu melekat pada seorang Prabowo sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Semua kebingungan, keraguan dan ketakutan menyatu.

Prabowo kerap abai dan terkesan  tak pernah berani mengambil sikap tegas dan mengambil pil pahit untuk kebaikan negara ini. Prabowo lebih takut kehilangan jabatannya, ketimbang bertarung mengambil resiko melawan oligarki dan manusia ternak kroniknya demi keselamatan rakyat, negara dan bangsa Indonesia. Demi kemanusiaan dan Ketuhanan serta demi keadilan, kejujuran dan kebenaran dalam hidup dan kepemimpinannya. Mampukah ia?.

Rakyat hanya bisa menanti, berinteraksi dan intim dengan waktu. Setelah setahun, apalagi yang bisa dilakukan Prabowo?, tercatat sejarah sebagai pahlawan atau penjahat. Perbaikan atau lebih dari sekedar kerusakan dan kehancuran republik ini.

Penulis: Institute for Public Policy Studies (IPPS) Indonesia

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Komjen Pol (Purn) Oegroseno Telah Beri Teladan: Datang, Jelaskan Fakta, dan Percaya pada Kebenaran
Kekacauan Aturan Menteri ESDM: Tambang Rakyat Terancam Bayar Reklamasi Berkali-kali
IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria
Tiga Sebab Utama Runtuhnya Legitimasi Kekuasaan: Perspektif Lokal & Teori Global
Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku
Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang
Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil
Nasionalisme Bung Karno: Perspektif Sosiologi Politik

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Komjen Pol (Purn) Oegroseno Telah Beri Teladan: Datang, Jelaskan Fakta, dan Percaya pada Kebenaran

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:21 WIB

IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:25 WIB

Tiga Sebab Utama Runtuhnya Legitimasi Kekuasaan: Perspektif Lokal & Teori Global

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:05 WIB

Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:37 WIB

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

Berita Terbaru