JAKARTA, Mediakarya – Dai dan pendakwah Ustadz Felix Siauw mengecam keras penggerebekan pondok pesantren putri di Sukoharjo, Jawa Tengah, oleh tim gabungan Polri. Ia menyebut aksi tersebut biadab, serampangan, dan menunjukkan kegagalan total intelijen hingga keadilan.
“Enggak semua, tapi aku harus katakan kali ini polisi yang melakukan ini memang benar-benar biadab,” tegas Felix Siauw dalam video pernyataan yang viral di media sosial, Senin (2/11/2026).
Kasus ini bermula dari pembakaran sebuah warung mi babi di Sukoharjo pada 20 Oktober 2026 lalu. Pelaku diduga eks napiter yang kini buron. Untuk mengejar pelaku, Polda Jawa Tengah kemudian menggerebek sebuah pondok pesantren putri di wilayah tersebut.
Gerebek Jam 2 Malam, Santriwati Ditodong Senjata dan Disuruh Buka Jilbab
Felix membeberkan kronologi penggerebekan yang menurutnya tidak berperikemanusiaan. “Kamu mendapati satu warung mi babi dibakar terus kemudian kamu membuat tim gabungan untuk nyerbu dan merangsek masuk ke pesantren yang isinya adalah anak-anak muda perempuan di malam hari jam tiga atau jam dua katanya dengan senjata lengkap, senjata serbu melakukan tindakan terorisme,” ujar Felix.
Ia menyebut para santriwati diperlakukan tidak pantas. “Nyeretin orang keluar, bahkan ada yang katanya yang sudah kerudungan terus kemudian disuruh memperlihatkan rambutnya. Orang-orang yang dikeluarkan dibolak-balik terus kemudian dibawa ke kantor untuk ditanyain tanpa ada pendamping yang memang berhak dan pendamping dari hukum,” kata Ustadz Felix.
Setelah digeledah, tidak ada pelaku yang ditemukan. Polisi kemudian berdalih menemukan benda tajam, yang ternyata hanya alat olahraga panahan, dan menyebut pesantren tidak berizin.
“Lalu setelah dicari-cari enggak terbukti lalu dibebaskan. Setelah itu ngomong terus kemudian ini ada benda tajam yang ditemukan padahal cuma barang-barang olahraga kayak panah doang. Terus kemudian bilang lagi setelah itu ini pesantren enggak punya izin. Biadab sih menurutku,” kecamnya.
Felix Bongkar 5 Kebobrokan, Bad Intel hingga Bad Justice
Dalam analisanya, Felix Siauw merinci 5 kegagalan fatal aparat dalam kasus ini. Pertama, bad intel (Intel Gagal). “Polisi kan punya intel nih apa intelnya enggak kerja. Bad intel artinya anda tidak melakukan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin. Mereka datang ke situ enggak tahu siapa yang disergap, nyari-nyari juga dan enggak pasti dan itu tempat cewek,” ungkapnya.
Kedua bad execution atau eksekusi buruk. “Datang ke sana bawa tim gabungan cuma untuk ngegerebek satu tempat pesantren isinya orang-orang yang belajar tahfiz perempuan, remaja-remaja itu cewek-cewek itu. Bad execution,” kata Ustadz Felix.
Ketifa Bad Sistem, ata sistem buruk. “Karena anda enggak bisa ngukur menggunakan apa untuk aksi apa,” tanya ustad Felix.
Keempat bad communication atau Komunikasi Buruk. “Sudah gitu membela diri keterlaluan, sudah enggak terbukti membela dirinya pakai perkara-perkara yang dibuat-buat. Bad communication,” ulasnya.
Dan yang kelima, press & bad justice.”Apapun yang mau anda bela nih polisi-polisi yang melakukan ini sampai Kapolres-nya ikut ya enggak bisa untuk menutupi bahwasanya orang-orang tuh muak melihat kalian. Opini bahwa anda itu serampangan, anda itu biadab dan anda melakukan sesuatu yang enggak seharusnya. Dan yang terakhir adalah keadilan yang buruk,” terangnya.
Felix juga menyoroti ketidakadilan dan standar ganda penegakan hukum. “Satu warung mi babi dibakar. Aku enggak setuju jelas. Tapi bagaimana dengan hutan yang kebakaran tuh siapa yang kalian gerebek? Siapa yang kalian cari? Siapa yang kalian tangkap? Nih satu negara repot, tuh negara orang lain repot, tuh Indonesia jadi kacau,” sindirnya.
“Siapa yang kalian tangkap? Satu warung mi babi kebakar, Kapolres cuma ngurusin satu warung mi babi kebakar. Enggak ada guna tuh Kapolresnya,” tambah Felix.
Tantang Kapolri baru untuk menindak tegas
“Kalau aku jadi Kapolri nih saatnya nih Kapolri baru yang ditunjuk untuk nunjukin bener enggak kalian tuh memang mau negakin keadilan atau kalian tuh cuma mau menunjukkan kesewenang-wenangan, sok gitu karena memang pegang senjata? Ini harus diusut tuntas sih, karena ini jelas-jelas ketidakadilan yang nyata,” pungkasnya.
Sebelumnya, Mabes Polri akhirnya buka suara resmi terkait penggeledahan kontroversial di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, Mojolaban, Sukoharjo, yang viral dan memicu kecaman publik.
Melalui Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, Polri menyampaikan keprihatinan mendalam dan permohonan empati kepada keluarga besar pesantren.
“Polri menyampaikan keprihatinan atas keresahan yang dirasakan oleh para santri, orang tua, pengasuh dan keluarga besar Pesantren Hamalatul Quran setelah pelaksanaan penggeledahan di Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar pada tanggal 27 Oktober 2026,” ungkap Johnny dalam konferensi persnya, Ahad (1/11/2026).
Jenderal bintang dua itu mengakui bahwa operasi dini hari yang dilakukan jajarannya itu menimbulkan rasa takut, terutama bagi santriwati. (Edr)











