Indef: Debat Cawapres Belum Mampu Beri Solusi Jitu untuk Ekonomi RI

- Editor

Kamis, 28 Desember 2023 - 21:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mediakarya – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai debat calon wakil presiden (cawapres) yang diselenggarakan pada Jumat (22/12) belum mampu memberikan solusi jitu untuk perekonomian Indonesia.

“Debat cawapres ternyata belum memberikan suatu solusi yang jitu untuk perekonomian Indonesia, karena pada saat ide-ide dikemukakan oleh pasangan cawapres, itu belum membumi,” kata Esther dalam Diskusi Publik Ekonom Perempuan Indef yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis.

Esther menyoroti visi cawapres yang ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, termasuk dengan memanfaatkan generasi emas karena adanya bonus demografi.

Namun, menurut Esther, visi cawapres tersebut tidak dibekali dengan investasi sumber daya manusia (SDM) yang memadai.

“Malah beberapa programnya dikerahkan ke masalah pembangunan ibu kota baru maupun infrastruktur, yang menurut saya itu bukan menjadi program prioritas,” ujar Esther, dilansir dari antara.

Esther berharap capres dan cawapres dapat menyadari bahwa untuk mewujudkan kekuatan ekonomi yang besar bagi Indonesia dibutuhkan investasi SDM, modal yang besar, dan teknologi.

Baca Juga:  Enam Jenazah Korban Pesawat SAM AIR Diidentifikasi di RS Bhayangkara

Dalam kesempatan terpisah, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyayangkan perdebatan capres mengenai target pertumbuhan ekonomi yang tidak mendalami upaya penguatan daya beli masyarakat.

Padahal, pembentuk produk domestik bruto (PDB) terbesar adalah konsumsi rumah tangga. Namun, ia mengapresiasi cawapres yang membawa pembahasan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ke panggung debat.

ICOR merupakan rasio antara tambahan modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan tambahan keluaran atau output. ICOR yang tinggi menunjukkan bahwa investasi di suatu negara membutuhkan biaya yang besar.

Huda berpendapat memang perlu adanya dorongan ekstra untuk bisa menekan angka ICOR.

“ICOR yang tinggi tadi dibahas dan itu bagus karena ICOR kita menyentuh level 6,7. Perlu dorongan ekstra untuk bisa menekan ICOR ke angka 4-5 poin,” ujar Huda. (sm)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Syarat Domisili dan Satu Periode Kepengurusan Jadi Sorotan, Ranny Fahd Arafiq Terancam Tak Lolos Bursa Ketua Golkar Kota Bekasi
Penonaktifan 5 Pejabat Lapas Cibinong Menguatkan Dugaan Kamar Khusus Berbayar
Bertemu Pakar di Istana, Adi Suparto Sebut Prabowo Tunjukkan Kelas Negarawan
IPPS: Tepuk Tangan Kader PAN untuk Prabowo Sebut ‘Pakar Goblok’ Jadi Bumerang di Mata Anak Muda
Kabar Duka, Politiso PDIP dan Seniman Besar Guruh Soekarnoputra Tutup Usia
Kodam Jaya Gelar Hit & Eat, Berbagi Kebahagiaan Bersama Warga Jakarta
Desak Trah Soeharto Selamatkan Golkar, GNK: Jika Dibiarkan Bisa Jadi Partai Gurem Seperti PPP
Pangdam Jaya/Jayakarta Bersama Insan Media, Jaga Jakarta, Jaga Indonesia

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 15:44 WIB

Syarat Domisili dan Satu Periode Kepengurusan Jadi Sorotan, Ranny Fahd Arafiq Terancam Tak Lolos Bursa Ketua Golkar Kota Bekasi

Minggu, 27 September 2026 - 10:36 WIB

Penonaktifan 5 Pejabat Lapas Cibinong Menguatkan Dugaan Kamar Khusus Berbayar

Minggu, 27 September 2026 - 07:04 WIB

Bertemu Pakar di Istana, Adi Suparto Sebut Prabowo Tunjukkan Kelas Negarawan

Sabtu, 26 September 2026 - 17:24 WIB

IPPS: Tepuk Tangan Kader PAN untuk Prabowo Sebut ‘Pakar Goblok’ Jadi Bumerang di Mata Anak Muda

Sabtu, 26 September 2026 - 08:45 WIB

Kabar Duka, Politiso PDIP dan Seniman Besar Guruh Soekarnoputra Tutup Usia

Berita Terbaru