Lampu Terang: Mengenang Faisal Basri

- Editor

Kamis, 5 September 2024 - 12:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof.Yudhie Haryono (Foto: Ist)

Prof.Yudhie Haryono (Foto: Ist)

Oleh: Prof.Yudhie Haryono

Sore itu kami janjian di warkop “Kisah Kopi Indonesia” yang berlokasi di Jalan Kendal, Nomor 1, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat. Bang Faisal yang pilih lokasinya. “Agar mudah dijangkau,” katanya beralasan. Ia tahu persis bahwa kami ini “angker.” Anak kereta, begitu biasa kami berseloroh menundukkan kemacetan kota.

Singkatnya kami bertemu. Saya bersama 5 kawan yang ingin mendengar pikiran-pikirannya sekaligus ajak kerja bersama tour kampus mengulang kisah awal 98 saat meruntuhkan rezim Fir’aun Soeharto. Setahun sebelum pilpres 2024 memang kami sudah dalam kesamaan tesis: Telah Hadir Fir’aun Baru di Republik. Orang-orang menyebutnya raja selokan dari Solo.

Dan, pagi ini aku membaca nama Faisal Basri bin Hasan Basri Batubara telah wafat. Pemberitahuannya begitu memedihkan jiwaku, “Telah berpulang ke rahmatullah hari ini, Kamis, 5 September 2024, pukul 03.50 WIB di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta. Mohon dimaafkan segalanya.”

Awalnya, saya bertemu dan berguru saat beliau ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB UI (1995-1998). Lalu sering guyon di Institute for Development of Economics & Finance (INDEF). Juga sering kongkow di kampusnya saat menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta (1999-2003).

Selama hampir 30 tahun kita menulis, meriset, mengajar dan keliling kampus agar Indonesia mengatasi lima masalah besar: penurunan investasi riil, penyehatan neraca transaksi berjalan, penghancuran daya saing, KKN yang makin masif dan pertumbuhan ekonomi yang dimiliki oleh oligarki, ternyata belum ada hasilnya.

Alih-alih ada hasilnya, yang terjadi kemudian adalah deflasi yang menghancurkan kelas menengah. Hasil Susenas BPS Maret 2024, jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada tahun ini. Ini semua karena arsitektur perekonomian kita masih kolonial.

Arsitektur yang tak berubah itu dikuatkan oleh para ekonom dan bangkir yang berlaku sebagai rentenir: jahat bin laknat. Mereka berbaris di istana, kemenkeu, BI dan Bappenas. Kerjanya cuma lima: menumpuk utang, mengimani obral SDA, memalak rakyat, mengagamankan KKN dan menari bahagia di zaman krisis.

Kini, mengingat pikiran, karya dan semangatmu bagai mengingat “nisan kesetiaan.” Ya. Kesetiaan adalah tumpukan batu pondasi yang memeluk waktu menjelma dalam potret, foto, buku, jurnal dan tulisan. Ia mata ajar di kitab suci dan liturgi. Hulu ledaknya tertulis di ngarai langit semesta. Saat jatuh meluruh, trilyunan galon air mata tak cukup menghapusnya. Maka, pada hati dan jiwamu, wirid kecintaan ini tidak tak terhenti.

Baca Juga:  Millen Cyrus Menang di Kontes Miss Queen Indonesia 2021, Jadi Ratu Waria Se Nusantara

Mengingat kritikmu, kami lalu sadar bahwa kurikulum sekolah kita mencetak otak berpikir pinggir, ecek-ecek, melankolis, dramatik dan mengabsenkan hulu. Lahirlah lolosan para pekerja sekelas tukang: tukang kibul, tukang olah, tukang profesor, tukang pejabat, tukang politik, tukang rentenir, dan lain-lain.

Akhirnya, republik ini cukup dipimpin tukang kayu. Semua diukur, dipotong dan diobral murah demi kelaminnya sendiri.

Mengingat perjalananmu, membuatku punya renungan soal pergerakan. Ya, pergerakan kita seperti harap revolusi yang berasal dari guyon, ngobrol, marah dan eksekusi. Jika hanya ada kemarahan tanpa eksekusi, maka tidak akan ada revolusi. Sungguh! Yang tak marah pada rezim rakus selokan adalah mereka yang hatinya tuli, bisu, buta dan mati.

Sambil menumpuk buku-buku karyamu, saya terus khusyuk berdoa. Di ujungnya, saat air mata tak kering, saya tulis ingatan buat anak-anak kelak, “krisis terdalam kita adalah krisis imaji besar yang meraksasa. Kini, untuk bermimpi besar saja, kita sudah takut dan putus asa. Itu terlihat dari pidato, tulisan, rangkuman program para elite yang rerata biasa saja di ruang publik. Tidak tampak “menginspirasi” rakyat. Maka, sambungannya lahir kurikulum yang sangat “harian” sehingga tidak berdentum ribuan tahun.

Di zaman Kalasuba dan Kalabendu ini, kita harus beyond dari krisis kegilaan ini. Yaitu merealisasikan negara pancasila. Seperti nujummu 20 tahun lalu.

Engkau seperti lampu. Yang alif sampai hilir hidupmu begitu bersinar. Ya, engkau menerangi kami untuk terus semangat dan kritis demi terang peradaban rempah ini. Bang Faisal, selamat jalan. Kunyanyikan petik lagu berjudul “Kepada Noor” karya Panji Sakti (2024). “Rindu adalah perjalanan mengurai waktu/Menjelma pertemuan demi pertemuan/Catatannya tertulis di langit malam/Di telaga dan di ujung daun itu”.

Penulis: CEO Nusantara Centre

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Bukan Vonis Profesi, Tapi Teguran Bagi Jiwa yang Masih Menjajah
PDAB Tirtatama DIY Raih Pemred Award 2026 atas Komitmen Hadirkan Layanan Air Bersih Berkualitas
Menteri Transmigrasi Beri Pesan Khusus untuk Azka: “Zero Poverty, Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam”
TPS3R Prabu Recycle, Upaya Warga Kurangi Beban Sampah ke TPA Burangkeng
Dihadapan Haji Ghoni Cs, Gubernur Pramono Berpesan Perkuat Peran Budaya Betawi Menuju Jakarta Kota Global
Menimbang Bioetanol Berbasis Tetes Tebu 
Objektivitas Hakim Dipertaruhkan: Ujian Independensi di Balik Putusan Eksepsi dr Tifa
Di Balik Laba Rp45 Triliun Pertamina Hulu Energi, BPK Ungkap Pinjaman untuk Dividen dan Tantiem yang Berbuah Beban Bunga Rp1,56 Triliun

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 09:16 WIB

Bukan Vonis Profesi, Tapi Teguran Bagi Jiwa yang Masih Menjajah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:58 WIB

PDAB Tirtatama DIY Raih Pemred Award 2026 atas Komitmen Hadirkan Layanan Air Bersih Berkualitas

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:41 WIB

Menteri Transmigrasi Beri Pesan Khusus untuk Azka: “Zero Poverty, Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam”

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:19 WIB

TPS3R Prabu Recycle, Upaya Warga Kurangi Beban Sampah ke TPA Burangkeng

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:17 WIB

Dihadapan Haji Ghoni Cs, Gubernur Pramono Berpesan Perkuat Peran Budaya Betawi Menuju Jakarta Kota Global

Berita Terbaru