Menteri Transmigrasi Beri Pesan Khusus untuk Azka: “Zero Poverty, Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam”

- Editor

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penerima Beasiswa Garuda LPDP Azka Abdul Malik Albayroni menemui Menteri Transmigrasi sebelum kuliah di University van Amsterdam.

Penerima Beasiswa Garuda LPDP Azka Abdul Malik Albayroni menemui Menteri Transmigrasi sebelum kuliah di University van Amsterdam.

JAKARTA, Mediakarya – Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menerima Penerima Beasiswa Garuda LPDP Azka Abdul Malik Albayroni di Gedung Makarti, Kalibata. Pertemuan itu berlangsung hangat, Kamis (24/7). Azka akan berangkat ke Belanda menempuh studi Human Geography and Planning di University of Amsterdam. Siswa SMA Pradita Dirgantara dengan 30 LoA dari universitas dunia itu ingin ilmunya menjawab persoalan Indonesia.

“Belajarlah dengan teknik dan penuh kerendahan hati. Pelajari tentang Transmigrasi selama di sana. Saya yakin Azka akan membuat ilmu yang berguna untuk masa depan yang lebih baik: Zero Poverty,” tulis Menteri dalam pesan khusus untuk Azka.

Menteri menyambut antusias. “Azka, sebelum belajar tentang ruang dan manusia di Belanda, ubah pola pikirmu. Jangan jadi kuda pacuan yang berlari tanpa arah. Jadilah kuda perang. Tahu kapan maju, kapan mundur. Tidak takut diam, tidak takut omongan orang,” pesannya.

Iftitah memperkenalkan Transmigrasi Patriot sebagai solusi terintegrasi. Indonesia memiliki 17 ribu pulau dengan kepadatan penduduk timpang. Potensi setiap pulau berbeda. Tidak ada resep pembangunan seragam. Transmigran bukan sekadar perpindahan penduduk. Mereka adalah arsitek pembangunan. Mereka menyusun tempat tinggal dan tempat usaha sekaligus. Usaha harus berjalan end-to-end, dari produksi hingga pemasaran.

“Jika hanya diberi rumah dan ladang, setelah panen mau ke mana? Pembangunan harus sesuai karakter daerah. Kamu harus mempelajari pendekatan itu di Belanda. Itu yang harus kamu pahami dalam perencanaan wilayah,” ujarnya.

Menteri mendorong pembangunan Kampus Patriot di kawasan transmigrasi. Konsep ini digagas Kementerian Transmigrasi untuk memindahkan pengetahuan dan teknologi ke wilayah 3T. “Perguruan tinggi harus dekat dengan solusi. SDM unggul harus hadir di mana pun, tidak hanya di Jawa. Kampus satelit akan mempercepat transfer ilmu ke daerah terpencil,” jelasnya.

Ia juga berbicara tentang strategi perang kilat. Waktu dan sumber daya terbatas. Indonesia harus berada di terdepan. Namun strategi itu tak bisa langsung diterapkan. “Di Jerman tidak bisa langsung diinstal di Indonesia. SDM yang punya inisiatif berbeda. Kita butuh waktu membangun kapasitas,” jelasnya.

Iftitah meminta Azka mempelajari sejarah transmigrasi di perpustakaan Universitas Leiden. “Program kolonisasi pertama dimulai November 1905. Sebanyak 155 KK dari Kedu dipindahkan ke Gedong Tataan, Lampung. Pelajari mengapa Belanda memilih daerah itu,” pesannya.

Menariknya, ayah Menteri Iftitah adalah alumni University of Amsterdam. Ia berharap Azka mengikuti jejak ayahnya dengan misi lebih besar: membawa pulang solusi untuk Indonesia. “Ayah saya belajar di UvA. Sekarang giliran kamu. Bawa pulang ilmu yang membawa perubahan,” katanya.

Baca Juga:  LSM Tri Nusa Laporkan Sejumlah Kadis dan Mantan Bupati Bekasi ke KPK

Iftitah mengingatkan tentang peacekeeping mission dalam diri. Jangan terpengaruh pujian. Jangan takut kritik. Jujur pada diri sendiri. “Jika berbuat baik karena ingin dipuji, satu kritik menghancurkan. Jika berbuat baik karena benar, pujian atau kritik tak menggoyahkan,” katanya.

Ia menutup dengan pesan mendalam. “Azka, kamu akan melihat bagaimana negara maju mengelola ruang dan manusia. Tapi Indonesia punya 17 ribu pulau dan ribuan budaya. Tugasmu pulang membangun dari akar. Belajarlah dari kesalahan kami. Perbaiki. Jangan ulangi. Negeri ini menunggu solusi, bukan sekadar kembali.”

Azka mencatat setiap arahan. “Saya tidak ingin kembali hanya membawa gelar, tetapi solusi nyata,” ujarnya. Ia memahami transmigrasi bukan sekadar memindahkan orang, tetapi menata kepadatan dan memberdayakan potensi daerah. “Ini bekal berharga saat saya mempelajari perencanaan kota dan wilayah di Belanda,” katanya.

Rachma Fitriati, dosen FIA UI dan ibu Azka, mengapresiasi kesediaan Menteri berdiskusi. “Pejabat negara memberi arah, bukan sekadar izin. Pemimpin membimbing, bukan sekadar memerintah,” katanya.

Tahun 2025, Rachma memimpin Tim Ekspedisi Patriot UI di Pulau Morotai, Maluku Utara. Timnya meraih Mandaya Awards 2025 kategori “Penggerak Pembangunan Daerah Terpencil, Patriot Pemberdayaan Masyarakat”. Penghargaan dari Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat itu menjadi pengakuan atas kontribusi nyata UI dalam pembangunan kewilayahan. Kabupaten Morotai masuk daftar prioritas pembangunan 100 gudang beras BULOG di wilayah 3T. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026 tentang Percepatan Penyediaan Infrastruktur Pascapanen menjadi landasan kebijakan pembangunan gudang BULOG di Morotai. Pulau medan perang itu kini bertransformasi menjadi lumbung pangan nasional, berkat Program Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi.

“Morotai mengajarkan bahwa kehadiran negara di daerah terpencil sangat menentukan,” ujar Rachma. Pengalaman itu menguatkan keyakinannya mendorong Azka mendalami Human Geography Urban Planning di UvA. Selaku pengajar tata kelola dan kebijakan di FIA UI, Rachma percaya pembangunan kewilayahan adalah kunci kemajuan Indonesia. Azka akan belajar hubungan manusia, ruang, dan kebijakan. Azka akan mempelajari perencanaan wilayah yang berpihak pada manusia. Suatu hari, Azka kembali dengan jawaban: bagaimana membangun Indonesia yang adil dari akarnya, termasuk pembangunan Transmigrasi Patriot.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

TPS3R Prabu Recycle, Upaya Warga Kurangi Beban Sampah ke TPA Burangkeng
Dihadapan Haji Ghoni Cs, Gubernur Pramono Berpesan Perkuat Peran Budaya Betawi Menuju Jakarta Kota Global
Di Balik Laba Rp45 Triliun Pertamina Hulu Energi, BPK Ungkap Pinjaman untuk Dividen dan Tantiem yang Berbuah Beban Bunga Rp1,56 Triliun
Etos Indonesia Ingatkan KPK Agar Tak Terjebak Penggiringan Opini dan Politisasi Hukum
Bawa Nama Presiden Prabowo dalam Perkara Pidana, Hotman Paris Diminta Jaga Etika Profesi
JUP Lakukan Perbaikan IPA Hutan Kota, PAM JAYA Berikan Bantuan Air melalui Emergency Mobil Tangki Selama Periode Gangguan
Benyamin Davnie Raih Pemred Award 2026, FPRMI Apresiasi Komitmen Komunikasi Publik Tangsel
Bank Jakarta Resmikan New Look Branch KCP Kebayoran Park, Hadirkan Wajah Baru yang Lebih Modern

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:41 WIB

Menteri Transmigrasi Beri Pesan Khusus untuk Azka: “Zero Poverty, Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam”

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:19 WIB

TPS3R Prabu Recycle, Upaya Warga Kurangi Beban Sampah ke TPA Burangkeng

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:17 WIB

Dihadapan Haji Ghoni Cs, Gubernur Pramono Berpesan Perkuat Peran Budaya Betawi Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:08 WIB

Di Balik Laba Rp45 Triliun Pertamina Hulu Energi, BPK Ungkap Pinjaman untuk Dividen dan Tantiem yang Berbuah Beban Bunga Rp1,56 Triliun

Selasa, 21 Juli 2026 - 13:42 WIB

Etos Indonesia Ingatkan KPK Agar Tak Terjebak Penggiringan Opini dan Politisasi Hukum

Berita Terbaru

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono

Daerah

Tantangan Pengembangan TOD, Butuh Biaya Besar

Jumat, 24 Jul 2026 - 20:22 WIB