IPPS Indonesia: Masyarakat Jabar Butuh Lapangan Kerja Bukan Kepala Daerah Penuh Citra

- Editor

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dedi Mulyadi bersama Joko Widodo (Foto: Istimewa)

Dedi Mulyadi bersama Joko Widodo (Foto: Istimewa)

BANDUNG, Mediakarya – Direktur eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia, Yusuf Blegur, mengimbau masyarakat agar tidak terjebak dengan politik pencitraan yang dilakukan oleh kepala daerah dengan menjual gimik memakai trik media sosial, sandiwara, atau simbol-simbol dramatis agar terlihat seperti pahlawan.

Pernyataan tersebut dikatakan Yusuf menanggapi manuver politik pencitraan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, yang akhir-akhir ini memicu pro dan kontra ruang publik.

Dia menilai, gaya kepemimpinan populis, aksi spontan, serta wacana kebijakan KDM yang disampaikan secara terbuka di media sosial sebelum melalui kajian matang dapat menciptakan masalah baru.

Yusuf mengungkapkan, saat sidak ke sejumlah tempat, KDM kerap mengunggah aktivitas kegiatannya ke platform digital. Meski hal itu dinilai sebagai bentuk transparansi, tetapi tak jarang menuai kritik, karena publik menilainya hal itu bagian dari strategi investasi politik atau pencitraan semata.

“Kami menilai bahwa KDM tengah memainkan pencitraan emosional untuk menarik simpati publik, namun kebijakan tersebut dikhawatirkan mengabaikan penyelesaian akar masalah struktural yang sistematis,” ujar Yusuf kepada Mediakarya di Bandung, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, kebijakan yang belum matang ke ruang publik berisiko memicu kegaduhan serta polarisasi digital. “Seperti belum lama ini KDM melakukan penertiban bangunan liar di bantaran Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) sebagai upaya normalisasi fungsi aliran sungai dan perbaikan tanggul,” kata dia.

Namun, lanjut Yusuf, sejumlah masyarakat terdampak penggusuran Kali CBL tersebut harus kehilangan lapangan kerja. Bahkan di antara mereka beralih menjadi pekerja serabutan.  Seharusnya pemerintah memberikan solusi dan ganti kerugian yang layak kepada warga terdampak sebelum melakukan penggusuran demi kepentingan umum.

Baca Juga:  Moeldoko-Dubes Arab Saudi Bahas Peningkatan Kerja Sama Dua Negara

“Berdasarkan aturan hukum di Indonesia dan instrumen internasional, penggusuran tanpa musyawarah, kompensasi, atau rencana relokasi yang jelas dinilai sebagai bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM),” tegas Yusuf.

Yusuf juga menyinggung bahwa KDM sering dinilai identik dengan Joko Widodo, karena kesamaan gaya politik populisme, aksi blusukan turun langsung ke lapangan, dan kemahiran dalam memanfaatkan media sosial atau konten visual untuk membangun kedekatan dengan masyarakat.

“KDM dikenal sering mendatangi warga secara langsung, bahkan melakukan aksi simbolis di ruang publik yang mirip seperti gaya kepemimpinan awal Joko Widodo. jadi masyarakat jangan lagi terperdaya dengan pencitraan figur yang orientasinya hanya ingin meraih kekuasaan. Jangan ada lagi Jokowi reborn kembali memimpin negeri ini,” tegasnya.

Mantan aktivis 98 ini menilai, baik KDM maupun Joko Widodo (pada masa awal melejitnya) sama-sama menggunakan publikasi media dan digital untuk membentuk citra pemimpin yang merakyat.

Kendati demikian, banyak analis memandang gaya interaksi Jokowi maupun KDM memiliki cara yang sama dalam upayanya menggunakan strategi pencitraan untuk membangun dukungan instan, sementara pihak lain melihatnya sebagai bentuk transparansi dan kerja nyata.

“Kami menyarankan agar publik melihat hasil kerja nyata dan penurunan angka kemiskinan di Jawa Barat secara objektif, bukan sekadar terpaku pada konten media sosial yang dilakukan oleh KDM,” pungkasnya. (Sep)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka
Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto
Buntut Temuan Hunian Mewah di Lapas, Kemenimipas Pecat Kalapas Cibinong dan Sanksi 16 Pegawai
Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA
Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031
GNK Apresiasi Kapolri Suyudi Kedepankan Integritas, Ingatkan Bahaya Oknum Jual Nama Kapolri Berjubah Agama

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:04 WIB

GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:26 WIB

Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Buntut Temuan Hunian Mewah di Lapas, Kemenimipas Pecat Kalapas Cibinong dan Sanksi 16 Pegawai

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA

Berita Terbaru

Presiden Prabowo Subianto

Nasional

Prabowo Jokowi Makan Malam Bersama Saat Putusan Sidang MK

Rabu, 7 Okt 2026 - 01:56 WIB