JOMBANG, Mediakarya – Menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, 27–31 Agustus 2026, angin pondok pesantren seakan membawa kembali pada suasana masa lalu. Dari serambi masjid terdengar santri mengaji, dari warung kopi santri dan warga berbaur dan berdiskusi.
Sementara dari ruang organisasi terdengar suara yang lebih beragam. Ada yang berdoa, berdalil, bermusyawarah, berhitung, bahkan mungkin diam-diam menghitung siapa yang paling banyak pendukung.
Pemerhati Kebijakan Publik, Pendidikan, dan Kebudayaan, Abdul Rasyid mengungkapkan bahwa di pesantren, perbedaan pendapat dibedah dengan kitab. Di warung kopi, perbedaan dibedah dengan diskusi sambil ngopi-ngopi. Sementara di media sosial, perbedaan kadang cukup dengan screenshoot (tangkapan layar).
“Nah, pada momentum Muktamar NU, semuanya bertemu. Dalil, tradisi, aspirasi, strategi, idealisme, dan kalau boleh jujur, sedikit ambisi,” ujar Abdul Rasyid dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Selanjutnya, kader senior NU ini juga memberikan tanggapan bahwa senyum dan tertawa sebagai ungkapkan ekspresi, karena NU memang memiliki selera humor khas santri. Tetapi humor yang sehat kadang justru lebih jujur daripada melalui mimbar pidato yang terlalu resmi.
Di Jombang, santri membuka kitab, kandidat membuka peta dukungan, panitia membuka daftar peserta. Semua sama-sama serius. Bedanya sederhana. “Santri mencari dalil, Kandidat mencari suara, Panitia memverifikasi data peserta”.
NU Memang Unik
Namun di balik itu semuanya, tersimpan pertanyaan besar, untuk apa NU didirikan? Apakah untuk jabatan, posisi, pengaruh, atau kendaraan kepentingan? Ataukah untuk menjaga umat agar tetap memiliki arah ketika zaman kehilangan kompas?
rasyid mengungkapkan, NU bukan sekadar organisasi yang pandai membuat forum dan menyelenggarakan musyawarah. namun NU adalah rumah besar yang dibangun dari ijtihad para ulama, kesabaran para kiai, ketekunan santri, serta pengabdian jutaan warga yang bekerja tanpa terlebih dahulu bertanya, “Saya mendapat jabatan apa?”.
“Rivalitas dalam momentum Muktamar adalah sesuatu yang wajar. Demokrasi organisasi membutuhkan kompetisi. Tetapi kompetisi harus berjalan bersamaan dengan kompetensi, etika, musyawarah, dan akhlak,” jelasnya.
“Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan berbeda adab. Boleh bersaing, tetapi jangan saling meniadakan. Boleh mencari dukungan, tetapi jangan menggadaikan marwah organisasi,” imbuhnya.
Sebab, kata Rasyid, jabatan di NU bukan hadiah, melainkan amanah. Kursi kepemimpinan bukan tempat meninggikan diri, melainkan tempat meletakkan beban pengabdian. Semakin tinggi kursinya, semestinya semakin rendah hati pemiliknya.
Rasyid pun berharap agar Muktamar NU ke-35 dijadikan sarana refleksi dan muhasabah. NU perlu membaca kembali perjalanan organisasinya: dinamika internal, perbedaan pandangan, dari Munas ke Munas, Konbes ke Konbes, Muktamar ke Muktamar, serta berbagai peristiwa dan dinamikanya, kadang menguras energi dan perhatian publik.
“Jangan sampai NU terlalu sibuk menghitung siapa menang dan siapa kalah, tetapi lupa menghitung berapa banyak persoalan umat yang belum selesai,” katanya.
Rasyid berpandangan, bahwa abad kedua NU membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya populer, tetapi kompeten dan berintegritas; berilmu tetapi tidak merasa paling tahu. Kuat secara kelembagaan tetapi tidak alergi terhadap kritik.
”Mandiri secara ekonomi tetapi tetap berpihak kepada umat serta mampu mempertemukan agama, kebangsaan, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, kebudayaan, dan perubahan zaman,” harapnya.
Diirnya berharap agar kepemimpinan NU ke depan mampu menghidupkan kembali semangat Para Muassis NU: khidmah, keikhlasan, kemandirian, tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.
Menurut dia, tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan, sementara modernitas juga tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan akar.
“Dari Jombang, mari kita lantunkan doa sederhana, semoga yang menang tidak mabuk kemenangan, yang kalah tidak patah pengabdian, dan yang terpilih tidak lupa, bahwa jabatan hanyalah sementara. Semoga al-ukhwah dan al-ittihad menjadi perekat setelah kompetisi berakhir,” ungkap Rasyid.
“Karena Muktamar bukan arena untuk mencari musuh baru, melainkan forum untuk menemukan jalan baru,” sambung dia.
Rasyid juga menyebut bahwa NU terlalu besar jika hanya diperebutkan sebagai alat politik untuk meraih kekuasaan. NU harus tetap menjadi khidmah yang menghidupkan umat, ilmu yang mencerdaskan bangsa, tradisi yang menjaga akar, sekaligus kekuatan moral yang menuntun peradaban.
Lebih lanjut Rasid mengungkapakn, bahwa Muktamar NU ke-35, bukan sekadar tentang siapa yang duduk di depan dan siapa yang berdiri di belakang. Lebih dari itu, Muktamar adalah tentang ke mana NU akan melangkah memasuki abad keduanya.
“tulah kemenangan yang sesungguhnya: bukan ketika seseorang berhasil mendapatkan kursi, melainkan ketika NU berhasil menjaga marwah, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” kata Rasyid mengakhiri perbincangannya. (Fal)











