JAKARTA, Mediakarya – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat mengapresiasi film edukasi toleransi berjudul ‘Ageman’ karya pemuda Lampung. Film yang memotret isu intoleransi dan bullying sebagai akar radikalisme itu dinilai relevan untuk memperkuat persatuan bangsa dan diusulkan diputar bagi ASN, guru, hingga pelajar di DKI Jakarta.
Apresiasi itu disampaikan Asisten Pemerintahan (Aspem) Kota Administrasi Jakarta Barat, Holi Susanto, usai kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film _Ageman_ di Auditorium Yayasan Pangudi Luhur, Jakarta Barat, Minggu (1/11/2026).
“Film _Ageman_ yang diproduseri Ken Setiawan ini sarat akan pesan moral dan refleksi sosial yang relevan dengan dinamika kebangsaan saat ini. Sebelumnya saya sangat penasaran dengan film ini. Setelah menonton, saya puas. Filmnya keren banget dan berani mengangkat isu intoleransi serta bullying yang kerap menjadi akar sikap radikalisme dan aksi terorisme,” ujar Holi.
Menurut Holi, kekuatan film _Ageman_ tidak hanya pada isu toleransi, tetapi juga pada pengangkatan kearifan lokal Lampung, mulai dari lima falsafah hidup masyarakat Lampung hingga tradisi kuliner Seruit yang merepresentasikan kebersamaan dan gotong royong.
Melihat dampak positifnya, Holi merekomendasikan agar film tersebut diputar secara nasional, khususnya di wilayah DKI Jakarta sebagai agenda edukasi bagi aparatur sipil negara (ASN), kepala lembaga pendidikan, guru, dan pelajar.
“Ini strategis untuk menciptakan suasana harmonis di tengah keberagaman latar belakang agama,” katanya.
Produser film _Ageman_ yang juga Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Ken Setiawan, menjelaskan filosofi di balik judul filmnya. Istilah “Ageman” bermakna pakaian, label, identitas, atau pedoman hidup.
“Agama dan nilai kebangsaan semestinya menjadi pedoman kehidupan yang membawa kedamaian. Keduanya tidak boleh dijadikan kedok untuk memecah belah masyarakat, melainkan harus menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang harmonis, saling menghormati, dan menjaga persatuan,” tegas Ken yang juga pendiri NII Crisis Center.
Kegiatan nobar yang dihadiri ratusan peserta itu turut dihadiri perwakilan Kesbangpol Jakarta Barat Zakiyah, unsur Kodim, Polres, FKUB Jakarta Barat, PW Muhammadiyah DKI Jakarta, PCNU Jakarta Barat, GP Ansor dan Banser Jakarta Barat, serta organisasi kemasyarakatan seperti FBR, Jembatan Kemajuan Bangsa (JKB), dan USDEK Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM).
Sesi diskusi menghadirkan Ken Setiawan bersama Jenderal Ahmad Nurwahid. Dalam pemaparannya, Ahmad Nurwahid menilai _Ageman_ sangat bagus karena diangkat dari kisah nyata dan menekankan pentingnya sinergi seluruh lapisan masyarakat untuk membentengi lingkungan dari bahaya laten radikalisme.
Ketua panitia, Yohanes Rudi, berharap kegiatan ini memperkuat wawasan kebangsaan di lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan.
“Kami berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memahami urgensi toleransi dan berperan aktif mencegah paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di lingkungannya masing-masing agar hidup rukun, harmonis, aman, dan damai meski latar belakang agama berbeda-beda,” ujarnya. (Adt)











