JAKARTA, Mediakarya – Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario Marshal buka suara keras menanggapi kasus dugaan penyadapan yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Hercules mengaku prihatin sekaligus marah. Sebagai Ketua Umum organisasi masyarakat, ia tidak menyangka seorang Kapolri yang diamanahkan negara untuk menjaga Presiden dan rakyat, justru diduga melakukan penyadapan terhadap Presidennya sendiri.
“Menyangkut penyadapan, ya sekarang Pak Sigit dengan beberapa nama lain jadi tersangka. Kalau saya pribadi dan juga sebagai ketua umum ormas, ikut prihatin,” ujar Hercules saat memberikan pernyataan kepada sejumlah awak media kemarin.
Menurut Hercules, Kapolri semestinya menjadi benteng terakhir Presiden. Bukan justru menjadi pihak yang diduga melanggar hukum.
“Bapak ini kan seorang Kapolri yang diamanahkan oleh negara untuk membantu Presiden, untuk menjaga keamanan dan juga menjaga Presiden, juga menjaga rakyat. Semestinya tidak boleh hal itu terjadi, apalagi Kapolri sendiri yang melanggar hukum,” tegasnya.
Hercules juga tidak ragu bqhwa dirinya menyebut dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan para petinggi yang membantu Presiden sebagai bentuk pengkhianatan.
“Khususnya menyadap Pak Presiden dia sendiri dan juga menyadap petinggi-petinggi yang lain yang membantu Pak Presiden. Ini kalau menurut saya, semacam dibilang pengkhianat, ya memang seperti itu,” ujar Hercules.
Ia bahkan menyinggung pernyataan Mensesneg yang menyebut adanya indikasi makar dalam kasus tersebut.
“Yang kemarin saya lihat ada di berita-berita dan juga kalau lihat Mensesneg sudah statement, itu sudah termasuk indikasi ke makar,” katanya.
Di tengah kemarahannya, Hercules mengaku kaget sekaligus bangga setelah mengetahui namanya masuk dalam daftar yang diduga disadap.
“Wah saya juga masuk urusan nomor 25 ya. Wah ini aku makin hebat saja. Aku ikuti sadap juga. Presiden di sana ada, petinggi-petinggi pemerintah di sana ada,” ujar Hercules sambil tertawa.
Ia menegaskan, dirinya bukan pejabat negara, bukan pimpinan perusahaan negara, bukan makelar kasus, dan tidak pernah berurusan dengan plat merah.
“Saya baru tahu kemarin. Saya bukan pejabat negara. Saya bukan mengelola perusahaan negara. Saya bukan cawe-cawe hukum atau cawe-cawe minta-minta proyek ke menteri. Saya tidak pernah berurusan dengan namanya plat merah,” tegasnya.
Karena itu, ia heran mengapa namanya ikut masuk daftar sadap. “Padahal saya biasa-biasa saja. Tapi kalau orang sadap saya itu, itu orang gila itu. Kalau orangnya gila, Mercu… Pejabat bukan, RT bukan, hansip bukan, security bukan, makelar kasus enggak lah,” katanya.
Meski begitu, Hercules justru merasa namanya makin terkenal. “Tapi aku merasa bangga juga sih, makin tambah terkenal saja. Iya kan, penting juga,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Hercules menegaskan loyalitas totalnya kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut Prabowo adalah harga mati baginya, dari kalah sampai menang.
“Kalau untuk Presiden Prabowo, saya harga mati. Jangankan jadi Presiden, kalah saja harga mati, kalah lagi harga mati, kalah lagi harga mati. Kalau sekarang sudah menang, harga hidup lah,” ujar Hercules.
Ia memberi peringatan keras kepada siapa pun yang coba-coba mengganggu Presiden Prabowo.
“Tapi kalau untuk Pak Presiden Prabowo, jangan coba-coba ada yang ganggu, jangan coba-coba ada yang mau memakzulkan, mau menurunkan. Ini Hercules ini ya paling di depan,” pungkasnya tegas. (Edr)











