Apakah Surga Itu Seperti Cerita Kitab Suci

- Editor

Jumat, 27 September 2024 - 07:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh:  Yudhie Haryono

Mengingat diskusi-diskusi kita soal ilmu psikoanalisis sebagai teori yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dalam menganalisis psikologis manusia, adalah menangisi kepergianmu. Selalu kuingat engkau bilang, sambil mengutip Freud, “tingkah laku manusia itu didominasi oleh alam bawah sadar yang berisi id, ego, dan super ego. Karenanya, psikoanalisis memiliki tiga penerapan sekaligus:

1). Merupakan metode penelitian dari pikiran;

2). Merupakan ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia; 3)Merupakan metode perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.

Kini diskusi-diskusi itu sudah tak ada. Sekitar kupun kini tinggal hewan-hewan tanpa nalar. Mereka mati sebelum mati. Seperti kini sepi sepeninggalmu ke surga. Kenapa begitu? Sebab inilah akhir id dan logos. Inilah kemenangan uang, zaman keuangan yang maha kuasa. Dan, mereka tak sempat melawannya.

Kasih. Engkau sering berkata lantang padaku, “kalau ilmumu tak berfungsi menghancurkan kemiskinan dan kesakitan warga miskin, ilmumu palsu! Jika kekuasaanmu tak berguna memastikan keadilan, kesejahteraan, keadilan sosial dan kemakmuran warga miskin, kekuasaanmu palsu!”

Agar tak palsu, katamu aku harus kritis. Kapanpun dan di manapun. Lalu, engkau mengutip fatwa Acep Iwan Saidi (2017), “Pengkritik adalah orang yang membuatmu ingat, tapi kamu selalu melupakannya. Pemuja adalah orang yang membuatmu lupa, tapi kamu selalu mengingatnya.”

Tetapi, aku terlalu sering di surga. Atau merasa, lebih tepatnya. Kata orang, “surga adalah tempat penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan karena tak ada hukum, dosa, kesedihan dan penyakit bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.”

Tuhan dipersepsikan menciptakan berbagai macam surga dengan tingkatan dan keistimewaan yang berbeda-beda. Surga sendiri berasal dari bahasa Arab al-Jannah. Artinya taman dan kebon keindahan, kesempurnaan, kedamaian.

Jika bacaan diperluas, kata surga (Sanskerta: translit atau svarga. Bahasa kawi: kahyangan atau kayangan) bermakna tempat di alam akhirat yang dipercaya oleh para penganut beberapa agama sebagai tempat berkumpulnya roh-roh manusia yang semasa hidup di dunia berbuat kebajikan sesuai ajaran agamanya.

Baca Juga:  Di Atas Bendera Konstitusi Baru

Bahkan kisah reruntuhan kuil Ekur di Nippur, diyakini oleh orang Mesopotamia kuno sebagai “Dur-an-ki”, “tali penambat” surga dan bumi. Dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia kata suarga diserap menjadi sawarga (Sunda), suruga (Makassar), sorge (Sasak) sarugo (Minangkabau) dan swarga (Jawa). Sedangkan dalam bahasa Hokkian digunakan istilah thian.

Kata para kyai, macam surga itu banyak. Ada firdaus, adn, naim, darussalam, ma’wa, darul muqamah, maqamul amin, dan khuldi. Tetapi semua merujuk pada imaji manusia akan kenikmatan dan keadilan sosial yang tak didapatkan saat hidupnya di dunia.

Lalu, apa itu keadilan sosial? Yaitu kondisi individu dan masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan dan didapatkan oleh semua secara gratis. Tentu ini visi utopis. Karenanya, keadilan sosial selalu ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, melalui pemerataan sumber daya agar kesenjangan sosial ekonomi, kemiskinan struktural dan pengangguran di tengah-tengah masyarakat dapat dihapuskan.

Jika realitas keadilan itu mengejawantah maka nilai-nilainya bisa ditengarai dengan:

a). Tertradisinya perilaku adil pada semua orang sesuai hak dan kewajibannya;

b). Terawatnya keseimbangan hak dan kewajiban diri sendiri;

c). Suburnya sikap saling menghormati hak-hak orang lain;

d). Terjaganya mentalitas memberikan pertolongan pada orang yang membutuhkan secara adil.

Ternyata ini konsep dari ketakberdayaan. Ternyata ini ilusi manusia, kisah, harapan, mimpi-mimpi dan ketiadaan idealitas semesta. Sekedar panacea. Tetapi, di atas segalanya, semoga engkau sudah merasakannya.

Penulis: Rektor Universitas Nusantara 

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Dugaan Surat Pernyataan Eka Hospital Tahun 2022 Beredar, Kuasa Hukum Berharap Putusan MA Dipatuhi
Saatnya Satu Atap – Manyatukan KDMP dan MBG agar Tidak Boros dan Bocor
Sekjen LPKAN: Jangan Sederhanakan Korupsi Jadi Suap, Business Judgment Rule Bukan Tameng Kebal Hukum
Pakar Komunikasi Politik Ungkap Capaian Tinggi Tapi Kepuasan Menurun, Bukti Ada Kesenjangan Komunikasi Pemerintah
Gerakan Rakyat Lebih dari Sekadar Partai Politik
Ekopol Konstitusi Itu Peta Jalan Kedaulatan Kita
Peluang Letkol Teddy Indra Wijaya dan Dinamika Kursi Wakil Presiden
Ahmad Safrudin Desak Alih Fungsi Hutan dan Gambut Dihentikan, Karhutla Ancam Kesehatan dan Iklim

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:17 WIB

Dugaan Surat Pernyataan Eka Hospital Tahun 2022 Beredar, Kuasa Hukum Berharap Putusan MA Dipatuhi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:57 WIB

Saatnya Satu Atap – Manyatukan KDMP dan MBG agar Tidak Boros dan Bocor

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Sekjen LPKAN: Jangan Sederhanakan Korupsi Jadi Suap, Business Judgment Rule Bukan Tameng Kebal Hukum

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:40 WIB

Pakar Komunikasi Politik Ungkap Capaian Tinggi Tapi Kepuasan Menurun, Bukti Ada Kesenjangan Komunikasi Pemerintah

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:35 WIB

Gerakan Rakyat Lebih dari Sekadar Partai Politik

Berita Terbaru