JAKARTA, Mediakarya – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang kerap disapa KDM bukan saja penggila citra. Namun mantan Bupati Purwakarta itu saat ini dinilai telah menjelma menjadi pejabat yang memiliki krisis moral serta miskin adab dan akhlak, lantaran selorohnya yang dinilai merendahkan dan melecehkan kaum perempuan dan janda.
Direktur eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia, Yusuf Blegur menyayangkan perilaku dan ucapan yang tak pantas terlontar dari seorang kepala daerah. Menurut dia, tak seharusnya kata-kata yang tak senonoh keluar dari mulut pejabat seperti KDM.
Alih-alih menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat, KDM justru mengumbar celoteh sampah yang tak bermartabat.
“Kami menilai Dedi Mulyadi mengabaikan etika, moral, dan keluhuran budi pekerti yang sudah menjadi standar siapapun pemimpin terutama di hadapan publik. Ungkapan nyeleneh yang seharusnya tidak penting dan urghens dalam sebuah kegiatan pemerintahan,” ujar Yusuf saat dimintai tanggapan Mediakarya, Sabtu (5/9/2029), terkait dengan pernyataan KDM yang dinilai tidak etis tersebut.
Sebelumnya, tepatnya pada 23 Juli 2026, bertempat di Puskesmas Sinar Jaya Kabupaten Bekasi-Jawa Barat. Dalan forum resmi dan formal Kunjungan Kerja (Kunker) Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, KDM berseloroh dengan narasi bermuatan eksploitasi tubuh perempuan yang sangat sensitif, vulgar, tanpa sensor dan penghalusan kata sedikitpun.
KDM dituding telah merendahkan dan melecehkan perempuan pada umumnya dan status janda khususnya tanpa sedikitpun rasa sungkan, malu, dan keragu-raguan.
Yusuf menilai KDM telah kehilangan kesadaran sopan santun, adab,dan akhlak bahkan di hadapan rakyatnya sendiri. Di atas panggung dan di depan podium yang disaksikan masyarakat secara offline dan rakyat Indonesia dan bahkan mungkin saja warga dunia secara online.
“KDM begitu memalukan, cenderung membully organ intim perempuan (m***k) dan status janda dengan nada mengolok-olok dan sebagai bahan tertawaan. Sungguh konyol dan kelewat memalukan juga berkelakuan cabul dengan mulut kotornya sebagai pejabat,” tandas Yusuf.
Seperti dilansir dari sejumlah media, saat berada di lokasi acara, KDM melemparkan candaan spontan (guyonan) yang dinilai bernada seksis kepada ibu-ibu penerima bantuan. Potongan ucapan tersebut kemudian memicu kritik luas di media sosial serta mendapatkan teguran dan imbauan keras dari Komnas Perempuan.
Komnas Perempuan menilai humor semacam itu merendahkan tubuh dan pengalaman perempuan serta berpotensi dikategorikan sebagai kekerasan seksual nonfisik yang termaktub dalam UU TPKS. Tak ayal lagi dan tanpa menunggu waktu lama, publik merespon keras blunder etik dan moral KDM tersebut.
Atas ucapannya yang dinilai mengundang kontroversi itu, KDM kemudian memberikan klarifikasi bahwa ucapan tersebut murni bagian dari lawakan atau tradisi candaan lokal (seperti budaya cawokah dalam lawakan Sunda), serta sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan derajat atau melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan.
Yusuf menyinggung bahwa insiden ini bukan lagi sekadar masalah etika, tetapi telah masuk ke ranah hukum. Untuk itu, Komnas Perempuan diminta untuk menghentikan humor KDM yang dilakukan dengan cara seksis maupun bentuk kekerasan seksual non fisik.
“Jadi peristiwa tersebut telah nyata dan menegaskan betapa seorang KDM itu bukan saja sebagai pejabat yang yang kerap berdandan sosial dan mengandalkan pencitraan untuk membungkus realitas dan fakta diri yang sesungguhnya,” kata Yusuf.
Yusuf menyebutkan bahwa KDM juga sudah semestinya menyandang pejabat dengan kemiskinan akhlak, setidaknya dalam tata-cara bertutur atau menggunakan lisannya dalam melakukan banyak komunikasi publik.
“KDM pada akhirnya menelanjangi dirinya sendiri dan membentuk sosok pejabat yang bukan saja tidak pantas memimpin Jawa Barat, apalagi nasional,” ujarnya.
Dia menambahkan, sebagai pejabat yang terus memadati struktur sosialnya sebagai gubernur konten dan haus citra, KDM kini harus ditelanjangi dihadapan publik akibat kelakuannya sendiri dan dalam tayangan antiklimaks akrobatik audio visual yang selama ini menjadi andalannya. (Ugy)











