BKKBN: Stunting Dapat Terjadi Sebelum Hamil

- Editor

Sabtu, 20 November 2021 - 21:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mediakarya – Pemerintah Indonesia berupaya maksimal mengatasi stunting yang merupakan masalah kesehatan. Pemerintah ingin masa depan anak Indonesia terjamin jauh dari stunting.

Dikutip dari republika, berdasarkan Perpres 72 tahun 2021, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang dan tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang kesehatan.

Dari data Global Nutrition Report, jumlah anak stunting secara global pada 2019 sebanyak 21,9 persen atau 149 juta. Dari jumlah itu, sebanyak 34,4 persennya ada di Benua Asia, termasuk di Indonesia, Singapura, Malaysia.

Atas temuan itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus meningkatkan pemahaman masyarakat akan bahaya stunting. Tujuannya guna mencegah potensi stunting sedari seorang perempuan belum hamil.

“Stunting terjadi dimulai dari pra-konsepsi atau sebelum kelahiran si bayi,” kata Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp OG (K) dalam paparannya, Selasa (16/11).

BKKBN menekankan pentingnya menjaga kesehatan perempuan sebelum periode kehamilan agar mencegah bayi stunting. Sebab data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 36,3 persen remaja putri usia 15-19 tahun kondisinya beresiko kurang energi kronik.

Baca Juga:  Peringati Hari Kartini, Kemendukbangga/BKKBN Pecahkan Rekor MURI Lewat Pelayanan KB Vasektomi Serentak Se-Indonesia

Lalu 33,5 persen wanita usia subur 15-49 tahun mengalami hamil dengan resiko kurang energi kronik. Sebanyak 37,1 persen wanita usia subur 15-49 tahun juga menderita anemia.

“Bayi dapat lahir dalam kondisi stunting bila seorang remaja calon ibu mengalami kurang gizi dan anemia. Kemudian saat hamil, seorang ibu tidak mendapatkan asupan gizi yang mencukupi dan ibu hidup di lingkungan dengan sanitasi kurang memadai,” ujar  dokter Hasto Wardoyo.

BKKBN menyampaikan salah satu intervensi yang dilakukan dalam percepatan penurunan stunting adalah memastikan setiap calon pengantin berada dalam kondisi ideal untuk menikah dah hamil. Sebab berdasarkan hasil kajian dan penelitian menunjukkan kondisi ibu saat hamil dan melahirkan menjadi faktor determinan pada kejadian stunting.

“Usia ibu saat hamil dan melahirkan, anemia, indeks masa tubuh rendah, serta perilaku merokok dan keterpaparan terhadap asap rokok dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin yang mengakibatkan bayi lahir stunting,” imbau dokter Hasto Wardoyo. (qq)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Komisi III DPR RI Pastikan RUU Perampasan Aset Rampung Pada Desember 2026
Melalui Kemensos, OT Peduli Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa NTT
Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM
Haidar Alwi Sebut Kapolri Bawa Penegakan Hukum Karhutla Naik Kelas
Ketika Republik Makin Lupa Warisan Konstitusi
Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci
IPPS: Jangan Harap Kondisi Ekonomi dan Hukum Membaik Jika Menteri Warisan Joko Masih Bercokol di KMP
Kasus OTT Rektor Unsoed: Pemerintah Diminta Segera Lakukan Transformasi dan Audit Investigasi Jalur Mandiri PMB-PTN
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 15:57 WIB

Komisi III DPR RI Pastikan RUU Perampasan Aset Rampung Pada Desember 2026

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:05 WIB

Melalui Kemensos, OT Peduli Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa NTT

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:49 WIB

Maki-maki PKL di Muka Umum, Tri Adhianto Dituding Tengah Mengadopsi Gaya Kepemimpinan KDM

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:51 WIB

Haidar Alwi Sebut Kapolri Bawa Penegakan Hukum Karhutla Naik Kelas

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:24 WIB

Indonesia Perlu Perkuat Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan, Teknologi Satelit dan Analitik Data Jadi Kunci

Berita Terbaru

Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik, Dr. Adi Suparto

Opini

Karpet Merah Bukan untuk Anak Petani

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:53 WIB

Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (kiri) bersama dengan Direktur OT Group, Dr. Yosua Jap, (kanan)

Ekonomi & Bisnis

Melalui Kemensos, OT Peduli Serahkan Bantuan Kepada Korban Gempa NTT

Selasa, 25 Agu 2026 - 12:05 WIB