JAKARTA, Mediakarya – Sinetron Lorong Waktu kembali menyapa para pemirsa SCTV selama bulan Ramadan 2025, yang tayang setiap hari pukul 04.20 WIB, serial ini tetap menempatkan Deddy Mizwar (karakter Haji Husin) sebagai tokoh utama.
Serial menjaga eksistensinya dengan menggabungkan unsur fiksi ilmiah dan elemen religi yang kental, memberikan berbagai pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Deddy Mizwar menjelaskan bahwa inspirasi cerita dalam Lorong Waktu selalu berangkat dari fenomena atau kejadian yang tengah terjadi di masyarakat.
“Pertama kita buat program seperti apa kontennya, dari konten ini membutuhkan tokoh-tokoh seperti apa dan nanti tokoh kita kembangkan sendiri, kita masukkan ke sana melalui tokoh-tokoh yang tepat, untuk berbicara apa saja yang terjadi fenomena di masyarakat,” ujar Deddy Mizwar, dalam wawancara virtual, Kamis (6/3/2025).
Pada Lorong Waktu 7 tahun, pesan moral yang dihadirkan dalam setiap episodenya pun berbeda-beda, mengangkat tema-tema yang sangat dekat dengan kehidupan penonton.
Menurut Deddy, tema-tema yang diangkat dalam Lorong Waktu sangat relevan dengan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
“Banyak sekali (pesan moralnya), masalah bohong, masalah amanah, menghargai teman. Tema-temanya episodik. Secara episodik, ada tema sesuai dalam kehidupan sehari-hari kita, peristiwa yang dekat dengan diri kita,” ungkap Deddy.
Sinetron Lorong Waktu tidak hanya sukses dalam hal cerita, tetapi juga mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya percakapan yang terjadi di media sosial terkait tayangan ini
“Artinya, sebetulnya kalau program cerita menarik, penonton akan menerima. Sudah saatnya kita memberikan yang terbaik, bukan asal tontonan, tapi ada value yang bisa diterima masyarakat,” jelas Deddy Mizwar.
Hal yang menarik, menurut Deddy, adalah bagaimana tayangan ini memunculkan diskusi yang mendalam di media sosial, bahkan melibatkan kalangan intelektual.
“Saya lihat perdebatan di medsos itu cukup menarik, bahkan ada komen yang langsung ke saya dari kalangan intelektual bahas soal itu. Antara tontonan dengan penontonnya terjadi dialog, nah ini yang membuat (sinetron Lorong Waktu) ini punya nilai, punya arti dan bukan hanya sekadar dilihat dan dilupakan,” jelas Deddy. (adt)










