JAKARTA, Mediakarya- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta berkolaborasi dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berkolaborasi mengadakan Talkshow Pena Warna 2025 yang mengusung tema “Perpustakaan Sebagai Ruang Ketiga”.
Talkshow ini menghadirkan narasumber berkompeten yakni, Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin Diki Lukman Hakim; Penggiat Literasi, Maman Suherman; Penulis Buku, Reda Gaudiamo; Aktivis Perpustakaan, Taufik Asmiyanto; dan dimoderatori Yan Sanjaya.
Talkshow ini turut dihadiri Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ DR Aip Badru Jaman, dan Dosen Prodi Perpustakaan Firmansyah Wahid yang pernah menjabat sebagai Kepala Dispusip DKI Jakarta.
Kepala Dispusip DKI Jakarta, Nasrudin Djoko Surjono, mengajak mahasiswa sebagai generasi milenial dan Gen Z untuk terus bersemangat meningkatkan literasi dengan membaca buku di perpustakaan. Terlebih, Perpustakaan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah ada di lima wilayah kota.
“Melalui momen ini saya mengajak mahasiswa untuk aktif datang ke perpustakaan. Bacalah sebanyak- banyaknya buku-buku pengetahuan agar kalian memiliki intelektualitas yang tinggi sebagai modal mewujudkan impian dan masa depan kalian,” ujarnya, di Gedung Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (19/6/2025).
Nasrudin menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta melalui Dispusip membuka pintu seluas-luasnya bagi kalangan perguruan tinggi dalam memanfaatkan fasilitas Perpustakaan, baik untuk diskusi, talk show, seminar, dan lain-lain. Sehingga, fungsi perpustakaan tidak melulu sebagai ruang membaca buku saja.
“Perpustakaan harus bersifat dinamis, dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas pengembangan diri bagi generasi milenial Jakarta. Kami akan terus meningkatkan fasilitas perpustakaan di Jakarta, sehingga di era teknologi digital ini mampu menjadi tempat mengembangkan kemampuan dan minat baca bagi generasi muda kita,” ucapnya.
Menurutnya, Dispusip juga akan terus meningkatkan kualitas para petugas perpustakaan (Pustakawan) agar mereka mampu menjadi pelayan yang baik dengan memiliki pengetahuan yang memadai.
Penggiat Literasi yang sudah menulis 65 judul buku, Maman Suherman menyampaikan apresiasi kepada Pemprov DKI Jakarta melalui Dispusip yang sudah mengaplikasikan pentingnya keberadaan perpustakaan.
“Saat ini bahkan ada daerah, seperti di Jawa Barat yang eniadakan Dinas Perpustakaan, tinggal Dinas Arsip Daerah yang dipertahankan. Ini sangat ironis dan memprihatinkan,” ungkap Maman.
Penulis Buku, Reda Gaudiamo menuturkan pentingnya perpustakaan yang tidak hanya menjadi tempat membaca bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak. Sehingga, budaya membaca bisa diedukasi sejak dini.
“Perpustakaan harus ramah anak sehingga juga menjadi ruang ketiga yang nyaman dan aman bagi semua kalangan usia,” paparnya.
Aktivis Perpustakaan yang juga Dosen di Universitas Indonesia, Taufik Asmiyanto menjelaskan, indeks membaca masyarakat Indonesia masih di bawah jauh dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.
“Banyak sekali generasi muda kita tidak gemar membaca buku. Untuk itu, sosialisasi pentingnya budaya membaca perlu terus dimasifkan, termasuk di kalangan mahasiswa,” imbuhnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ, Aip Badru Jaman menambahkan, mahasiswa sebagai intelektual diminta untuk giat mengunjungi perpustakaan.
“Melalui membaca buku, maka kita akan mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan. Semua ada di buku. Masalah- masalah yang dihadapi mahasiswa dan para pelajar, semua ada di buku,” pungkas Aip. (dri)











