Framing Jahat Xpose Uncensored Trans7, Kebebasan Pers Kehilangan Adab dan Kebenaran Menjadi Korban Rating

- Editor

Rabu, 15 Oktober 2025 - 09:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abdul Rasyid

Tayangan Xpose Uncensored Trans7, edisi 13 Oktober 2025, menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Program yang seharusnya menegakkan prinsip jurnalisme investigatif justru berubah menjadi alat pembunuhan karakter terhadap KH. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sekaligus Rois Syuriah PWNU Jawa Timur.

Potongan narasi dan visual yang dipilih secara tidak proporsional menimbulkan persepsi publik yang menyesatkan, melecehkan marwah ulama, dan menodai lembaga pondok pesantren sebagai benteng moral bangsa.

Framing Jahat dan Manipulasi Opini Publik

Menurut Robert Entman (1993), framing adalah proses seleksi aspek realitas untuk menonjolkan elemen tertentu sehingga membentuk pemaknaan publik. Dalam tayangan Xpose Uncensored, framing diarahkan untuk:

  1. Mendefinisikan masalah melalui penggambaran tokoh sebagai sumber konflik;
  2.  Menentukan penyebab dengan mempersonalisasi isu tanpa konteks kelembagaan;
  3. Memberi penilaian moral dengan insinuasi visual dan narasi negatif;
  4. Mengarahkan solusi melalui provokasi opini publik terhadap figur dan lembaga pondok pesantren.

Bentuk framing seperti ini dikenal sebagai _delegitimizing frame_, yaitu; upaya sistematis untuk meruntuhkan otoritas moral seseorang.

Dalam konteks komunikasi massa, praktik ini masuk kategori _abuse of media power_ (penyalahgunaan kekuatan media) untuk kepentingan sensasi dan rating.

Pelanggaran Etika Jurnalistik

Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang ditetapkan Dewan Pers mengatur kewajiban wartawan, sebagai berikut :

  1. Menyajikan berita akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk (Pasal 1);
  2. Melakukan verifikasi dan klarifikasi terhadap sumber (Pasal 3);
  3. Menghindari fitnah, diskriminasi, serta prasangka (Pasal 8).

Sayangnya, tayangan tersebut memperlihatkan pelanggaran serius terhadap ketiga prinsip di atas.

Tidak ditemukan bukti klarifikasi dari pihak KH. Anwar Manshur atau perwakilan Pondok Lirboyo. Narasi disajikan dengan nada menghakimi, tanpa verifikasi faktual yang memadai. Hal tersebut menunjukkan adanya bias redaksional yang disengaja, bukan kesalahan teknis.

Dalam terminologi etika media, tindakan demikian termasuk _framing with malice intent_ (penyajian berita dengan niat buruk) untuk menggiring opini publik.

Melecehkan Ulama, Merusak Tatanan Sosial Pondok Pesantren

Baca Juga:  Kasus Korupsi Jilid II, Pepen Diprediksi Bakal Seret Sejumlah Pejabat Pemkot dan Mantan Walkot Bekasi

Pondok Pesantren seperti Lirboyo bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan pilar kebudayaan Islam Nusantara yang melahirkan ulama, guru bangsa, dan penjaga moral publik.

Serangan terhadap pengasuh pondok pesantren berarti serangan terhadap kultur keilmuan, spiritualitas, dan kohesi sosial umat Islam. Framing negatif terhadap ulama menimbulkan disinformasi dan polarisasi sosial. Ia berpotensi mengikis kepercayaan umat terhadap institusi keagamaan dan melahirkan sikap sinis terhadap tradisi Islam tradisional yang selama ini menjadi penopang moderasi beragama di Indonesia.

Kebebasan Pers Tidak Boleh Kehilangan Adab

Kebebasan pers adalah hak konstitusional, tetapi kebebasan tanpa etika hanya akan melahirkan kekacauan informasi. Media yang kehilangan adab akan berubah dari penyalur kebenaran menjadi penyebar kebencian.

Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 jelas memberi hak jawab kepada pihak yang dirugikan, dan publik juga berhak untuk menuntut akuntabilitas media.

Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu segera menindaklanjuti atas kasus tayangan Xpose Uncensored Trans7, edisi 13 Oktober 2025, dengan malakukan investigasi etik dan pemanggilan kepada redaksi Trans7, sebagai bentuk pengawasan dan pertanggungjawaban terhadap media yang telah melakukan tindakan dan perbuatan melanggar Etika Jurnalistik.

Menegakkan Marwah Ulama dan Moral Publik

KH. Anwar Manshur adalah sosok alim, bijak, dan rendah hati. Beliau telah mengabdikan hidupnya untuk mendidik santri, membangun bangsa, dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Melecehkan beliau berarti mencederai nilai-nilai keilmuan dan keadaban bangsa.

Media seharusnya menjadi jembatan pemahaman, bukan alat penghancur reputasi. Dalam masyarakat beradab, ulama adalah sumber hikmah, bukan bahan sensasi. Kebebasan pers tanpa tanggung jawab adalah bentuk lain dari penyimpangan moral.

“Kebenaran adalah cahaya, dan etika adalah cahayanya kebenaran. Ketika media kehilangan keduanya, bangsa akan hidup dalam kegelapan informasi.”

Penulis adalah Aktivis, Kader NU, pemerhati kebijakan publik, pendidikan, dan kebudayaan digital. Aktif menulis isu-isu politik, sosial, kepemimpinan, dan budaya di berbagai media nasional.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Anatomi Pembangunan Jakarta, Menyoroti Kesenjangan Kebijakan Makro dan Isu Perlindungan Struktural Warga.
Korps Alumni KNPI Jaktim Ajak Elemen Bangsa Lawan Oligarki
Bendera Bulan Bintang di Aceh: 21 Tahun Damai, Legalitas Masih Menjadi Tanda Tanya
Rontoknya Kewibawaan Hukum: KPK dan Panggilan yang Diabaikan
MBG, KDKMP dan Kedaulatan Ekonomi: Bukan Sekadar Soal Piring Makan
PT NSHE Bangun Jembatan Arboreal Jaga Habitat Satwa Batang Toru
Dosa Besar Rezim Penguasa dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Indonesia
Membangkitkan Fondasi Perekonomian: Dari KDKMP, UMKM, dan MBG Menuju Ekonomi Berkeadilan

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:36 WIB

Anatomi Pembangunan Jakarta, Menyoroti Kesenjangan Kebijakan Makro dan Isu Perlindungan Struktural Warga.

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Korps Alumni KNPI Jaktim Ajak Elemen Bangsa Lawan Oligarki

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:22 WIB

Bendera Bulan Bintang di Aceh: 21 Tahun Damai, Legalitas Masih Menjadi Tanda Tanya

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:11 WIB

Rontoknya Kewibawaan Hukum: KPK dan Panggilan yang Diabaikan

Senin, 26 Oktober 2026 - 05:51 WIB

MBG, KDKMP dan Kedaulatan Ekonomi: Bukan Sekadar Soal Piring Makan

Berita Terbaru

Para siswi SMP Negeri 5 Kota Bekasi saat berbelanja di Pasar Tradisional Seroja

Daerah

Mulai Tergerus Jaman, Pasar Tradisional Kini Adaptasi

Rabu, 28 Okt 2026 - 10:09 WIB