GNK: Kebesaran NU Dibangun dari Kedekatan dengan Umat, Bukan Penguasa

- Editor

Selasa, 29 September 2026 - 08:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera Nahdlatul Ulama (Foto: Istimewa)

Bendera Nahdlatul Ulama (Foto: Istimewa)

JAKARTA, Mediakarya – Dinamika yang berkembang di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sorotan Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Syakur Ali Mahdi Al Hamid.

Dalam catatannya berjudul NU di Persimpangan: Kembali ke Khittah atau Terjebak Panggung Kuasa,  ia menilai NU yang dulu tumbuh sebagai ormas religius kini menghadapi tantangan pragmatisme.

Menurut Syakur, NU dulu tumbuh besar sebagai jam’iyah diniyah yang lahir dari surau-surau dan pesantren, dari doa-doa kiai kampung yang tulus menjaga aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kekuatannya, kata dia, bukan pada jabatan atau kedekatan dengan istana, melainkan pada keikhlasan mengabdi untuk umat.

“Namun hari ini wajah itu mulai kabur. NU telah menjelma menjadi penentu arah politik umat. Setiap momentum elektoral, nama NU selalu disebut, ditarik, bahkan diklaim sebagai penentu kemenangan,” ujar Syakur kepada Mediakarya di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Ia menilai, dalam realitasnya organisasi yang seharusnya menjadi rumah besar jamaah ini justru rawan disusupi oleh kepentingan politik tertentu demi meraih kekuasaan.

Syakur menyoroti panggung-panggung NU yang kerap dipenuhi bukan oleh gagasan keumatan, melainkan kalkulasi kekuasaan.

Baca Juga:  Pengajuan RPTRA ke Pemprov DKI Tak Kunjung Terealisasi, Warga Mengadu ke Neneng Demokrat

“Jabatan, proyek, akses, dan konsesi politik menjadi bahasa baru yang lebih fasih dibicarakan ketimbang soal akhlak, pendidikan pesantren, atau kemiskinan nahdliyin di akar rumput,” katanya.

Akibatnya, lanjut dia, NU tak lagi sepenuhnya tampil sebagai benteng aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

NU telah disulap menjadi organisasi pencari panggung kekuasaan, di mana simbol-simbol keagamaan digunakan untuk legitimasi politik, sementara ruh perjuangan pendirinya yang zuhud perlahan ditinggalkan.

“Inilah yang paling berbahaya. Ketika umat melihat NU bukan lagi sebagai pelayan, melainkan sebagai pemain. Ketika kiai bukan lagi menjadi penuntun moral yang independen, melainkan menjadi bagian dari gerbong pragmatisme,” tegasnya.

Karena itu, Syakur mendorong kaum nahdliyin untuk kembali ke khittah, yakni kembali pada tujuan awal berdirinya NU tahun 1926 untuk memperjuangkan kepentingan umat, bukan kepentingan elit.

“Jika NU ingin tetap dicintai umat, ia harus berani melepaskan diri dari pelukan kuasa yang terlalu erat. Karena kebesaran NU tidak pernah dibangun di atas kedekatan dengan penguasa, tetapi di atas kedekatan dengan umat,” pungkasnya. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Takziah SBY ke Rumah Duka Guruh Soekarno Putra Dinilai Jadi Sinyal Rekonsiliasi Politik
Syarat Domisili dan Satu Periode Kepengurusan Jadi Sorotan, Ranny Fahd Arafiq Terancam Tak Lolos Bursa Ketua Golkar Kota Bekasi
IPPS: Tepuk Tangan Kader PAN untuk Prabowo Sebut ‘Pakar Goblok’ Jadi Bumerang di Mata Anak Muda
Kabar Duka, Politiso PDIP dan Seniman Besar Guruh Soekarnoputra Tutup Usia
Desak Trah Soeharto Selamatkan Golkar, GNK: Jika Dibiarkan Bisa Jadi Partai Gurem Seperti PPP
DPP Golkar Dinilai Kebobolan, Jabatan Strategis Diisi Mantan Residivis Korupsi
Denny Indrayana Ungkap Bawaslu Dihalangi Akses Dokumen Gibran, Hanya Bermodal Surat Keterangan Kemendikbud
Dinilai Politisi Prematur, Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq Maju Ketua Golkar Kota Bekasi Dipertanyakan

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 08:32 WIB

GNK: Kebesaran NU Dibangun dari Kedekatan dengan Umat, Bukan Penguasa

Senin, 28 September 2026 - 16:59 WIB

Takziah SBY ke Rumah Duka Guruh Soekarno Putra Dinilai Jadi Sinyal Rekonsiliasi Politik

Minggu, 27 September 2026 - 15:44 WIB

Syarat Domisili dan Satu Periode Kepengurusan Jadi Sorotan, Ranny Fahd Arafiq Terancam Tak Lolos Bursa Ketua Golkar Kota Bekasi

Sabtu, 26 September 2026 - 17:24 WIB

IPPS: Tepuk Tangan Kader PAN untuk Prabowo Sebut ‘Pakar Goblok’ Jadi Bumerang di Mata Anak Muda

Sabtu, 26 September 2026 - 08:45 WIB

Kabar Duka, Politiso PDIP dan Seniman Besar Guruh Soekarnoputra Tutup Usia

Berita Terbaru