Kabinet Prabowo Dinilai Masih Lebih Ramping Dibanding Pemerintahan AS

- Editor

Minggu, 20 Oktober 2024 - 05:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi (Ist)

Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Presiden terpilih Prabowo Subianto telah memanggil dan memberikan pembekalan terhadap 108 orang calon menteri, wakil menteri dan kepala badan/lembaga yang diproyeksikan bakal mengisi kabinetnya.

Dengan calon sebanyak itu, jumlah kementerian dan lembaga pada kabinet Prabowo diprediksi mencapai 44 sampai 49.

Sejumlah pihak lantas menyoroti kabinet Prabowo. Tidak hanya dianggap lebih gemuk dari kabinet Jokowi yang hanya 34 kementerian, tapi juga lebih tambun dibanding negara maju seperti Amerika Serikat dengan 15 kementerian.

Menanggapi hal itu, Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai, tidak ‘apple to apple’ membandingkan kabinet Indonesia dengan kabinet Amerika Serikat.

Meskipun sama-sama negara demokrasi dengan wilayah yang luas dan penduduk yang banyak, Indonesia dan Amerika Serikat memiliki karakteristik yang berbeda.

“Tidak apple to apple. Indonesia negara kesatuan, sedangkan Amerika Serikat negara federal,” kata R Haidar Alwi, Sabtu (19/10/2024).

Ia menjelaskan, di Indonesia, kekusaan sesungguhnya berada di tingkat pusat. Sementara di Amerika Serikat kekuasaan sesungguhnya ada pada negara bagian.

Baca Juga:  Dinilai Coreng Penilaian 100 Hari Kinerja Kabinet Prabowo, LMND Desak Presiden Copot Mendiktisaintek

“Karena itu, Indonesia di pusatnya gemuk tapi di provinsinya ramping. Sebaliknya di Amerika Serikat pusatnya ramping tapi negara bagiannya gemuk,” ungkap R Haidar Alwi.

Dirinya menyebut, rata-rata provinsi di Indonesia hanya memiliki 22 dinas. DKI Jakarta dan Jawa Timur misalnya. Jika ditambah satuan kerja lainnya, jumlah masing-masingnya adalah 42 dan 56.

Bandingkan dengan dua negara bagian terbesar di Amerika Serikat, yaitu California dan Texas yang masing-masing jumlah departemennya mencapai 200 dan 237.

“Jadi kalau dilihat lebih dalam, pemerintahan Amerika Serikat itu justru jauh lebih gemuk dari Indonesia,” terang R Haidar Alwi.

Oleh karena itu menurutnya, penambahan jumlah kementerian kabinet Prabowo masih wajar dan masuk akal. Mengingat karakteristik bangsa dan negara yang besar dan beragam, kebutuhan serta tantangan yang dihadapi ke depannya.

“Lagi pula kabinet itu hak prerogatif Presiden. Selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ya sah-sah saja. Jangan buru-buru menghakimi, tunggu. Kasih kesempatan untuk bekerja, setelah itu baru dievaluasi,” pungkas R Haidar Alwi.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Ayah Oet Desak Polemik Legalitas Bendera Bulan Bintang Tuntas Sebelum 4 Desember 2026
Pakar Sebut Gerindra-PDIP Makin Mesra, Jokowi-Gibran Justru Terpinggirkan Menuju 2029
Prabowo Puji Pramono Anung di Peresmian LRT Jakarta: Saya Akui Gubernur Hebat, Orang Baik, Meski Bukan dari Partai Saya
Elektabilitas Dedi Mulyadi Terancam Tergerus, Pramono Anung Jadi Pesaing Utama
Sestama BNPB Bungkam Usai Diperiksa KPK
Pembentukan Pansel KPU Bawaslu DPR Tawarkan Dua Skema
Kemensos Pastikan 15 Juta Data Terdaftar di Perlinsos
Musda ke-XI Golkar Nias Selatan: Pendaftaran Bakal Calon Ketua DPD Masa Bakti 2025–2030 Resmi Dibuka

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:55 WIB

Ayah Oet Desak Polemik Legalitas Bendera Bulan Bintang Tuntas Sebelum 4 Desember 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Prabowo Puji Pramono Anung di Peresmian LRT Jakarta: Saya Akui Gubernur Hebat, Orang Baik, Meski Bukan dari Partai Saya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 05:42 WIB

Elektabilitas Dedi Mulyadi Terancam Tergerus, Pramono Anung Jadi Pesaing Utama

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Sestama BNPB Bungkam Usai Diperiksa KPK

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:49 WIB

Pembentukan Pansel KPU Bawaslu DPR Tawarkan Dua Skema

Berita Terbaru

Ilustrasi

Daerah

IKD Di Kota Bekasi Masih Minim Partisipasi ASN

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:23 WIB