Dugaan Korupsi Kuota Haji, KPK Didesak Segera Tersangkakan Adik Ketum PBNU

- Penulis

Kamis, 13 November 2025 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Merah Putih Komis Pemberantasan Korupsi (Foto: Istimewa)

Gedung Merah Putih Komis Pemberantasan Korupsi (Foto: Istimewa)

JAKARTA, Mediakarya- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mendapat sorotan dari berbagai pihak. Kinerjanya terkait Mantan petinggi negara menjadi salah satu pemicunya.

Salah satu kasus yang kini menjadi perhatian publik ialah dugaan korupsi di Kementerian Agama era Gus Yaqut yang merupakan adik kandung Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf itu belum juga tuntas dan tak ada penetapan tersangka. Hal ini disampaikan oleh mantan Komisioner KPK Saut Sitomorang.

Menurutnya, kasus tersebut sudah jelas siapa pelaku dan yang harus bertanggung jawab atas masalah itu. Saut menyebut dalam hal tersebut adalah Gus Yaqut, sebagai Menteri Agama pada tahun 2024 itu.

Menurut undang-undang, kata Saut, yang bertanggung jawab adalah menterinya (Gus Yaqut). Jadi, itu sudah sangat transparan.

“Tidak mungkin eselon 1 berani memutuskan itu sendiri, karena tanggung jawabnya jelas di undang-undang, 92% untuk umum, 8% untuk khusus. Itu tanggung jawab menteri,” katanya kepada media, Rabu (12/11/25).

Saut kembali menjelaskan bahwa Mantan Menteri Agama tersebut harus dimintai keterangan. Menurutnya, sebagai pimpinan ia seharusnya mengetahui permasalahan tersebut secara detail.

“Bukan berarti langsung tersangka, tapi dimintai penjelasan dulu. Karena dia yang bertanggung jawab. Kalau ada kerugian negara, uang dikembalikan, dan sebagainya, ya harus dijelaskan,” tambahnya.

Rencana KPK yang akan melakukan investigasi ke Arab Saudi dalam mencari informasi terkait kasus korupsi kuota haji tersebut, Saut menilai itu adalah hal yang tidak perlu.

“Kalau KPK ke Arab Saudi, mungkin hanya untuk mencari informasi tambahan, misalnya soal penginapan, kontraktor luar negeri, atau perusahaan tenaga kerja. Tapi peristiwanya terjadi di dalam negeri, jadi sebenarnya cukup di sini,” katanya.

Saut menyatakan, kasus korupsi kuota haji tersebut adalah kasus yang sebenarnya sederhana. Dan KPK sangat mudah untuk menentukan siapa sosok yang harus tersangka dalam kasus yang merugikan banyak masyarakat tersebut.

Baca Juga:  Dipanggil KPK, Ustad Khalid Basalamah Ikut Terseret Dalam Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

“Kalau begitu, kenapa belum juga naik ke penyidikan? Padahal, logika dan informasi itu sudah dimiliki publik. Kecuali kalau gelap banget, baru bisa dimaklumi. Tapi kalau sudah sejernih ini, ya seharusnya bisa cepat diproses,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam kasus ini, dugaan korupsi kuota haji ini terungkap dari penyelidikan KPK. Mereka memantau distribusi kuota haji tambahan, sebesar 20 ribu orang, dari pemerintah Arab Saudi untuk Indonesia pada musim haji 2024.

Indonesia mendapat tambahan kuota itu karena masa tunggu jemaah haji reguler mencapai puluhan tahun. Setelahnya, Kementerian Agama membagi kuota tambahan tersebut, 50% untuk kuota haji regular dan 50% untuk kuota haji khusus.

Pembagian itu mereka sahkan lewat Surat Keputusan Menteri Agama 130/2024. Surat keputusan ini menjadi salah satu barang bukti penting KPK dalam pengusutan dugaan korupsi kuota haji

KPK menilai surat keputusan itu bertentangan dengan UU 8/2019. Beleid itu mengatur bahwa pembagian kuota haji regular dan khusus tidak boleh sama besar. Regulasi itu mengatur agar pembagian kuota regular sebanyak 92% dan 8% untuk kuota khusus.

KPK kini tengah menelisik orang yang mengawali kebijakan membagi kuota tambahan dari Arab Saudi itu menjadi sama rata yakni 50%-50% antara kuota haji reguler dan khusus.

Salah satunya yakni Gus Yaqut. Beberapa bulan lalu, KPK telah membuat aturan untuk melarang Gus Yaqut pergi ke luar negeri. KPK pun juga sudah melakukan penggeledahan di rumah pribadi dari mantan Menteri Agama itu di Jakarta Timur. (Red)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra
Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat
“Color Me Confident” Jadi Ruang Eksplorasi Fashion dan Beauty di ARTOTEL Harmoni Jakarta
Polres Metro Bekasi Kota Gelar OKJ, Sasar Pelaku Kejahatan Jalanan
Jakarta 22 Satukan Komunitas Kreatif Sambut Jakarta 500 Tahun
Politisi PDIP Sebut Banyak Kades Tak Paham Soal Mekanisme KDMP
Pengungkapan Kasus Dugaan Korupsi Pompanisasi Mandek, ETOS: Siapa di Belakang Kepala Dinas SDA Pemprov DKI?
Membahas Dualisme dan Atlet Dilarang Bertanding
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 16:48 WIB

DPR dan Pemerintah Bahas Percepatan Huntap Korban Bencana Aceh dan Sumatra

Senin, 25 Mei 2026 - 14:29 WIB

Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, BGN Koordinasi Dengan Polri Diperkuat

Senin, 25 Mei 2026 - 08:09 WIB

Polres Metro Bekasi Kota Gelar OKJ, Sasar Pelaku Kejahatan Jalanan

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:26 WIB

Jakarta 22 Satukan Komunitas Kreatif Sambut Jakarta 500 Tahun

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:16 WIB

Politisi PDIP Sebut Banyak Kades Tak Paham Soal Mekanisme KDMP

Berita Terbaru

Anies Baswedan (Foto: Ist)

Daerah

Gerakan Rakyat Lebih dari Sekadar Partai Politik

Senin, 25 Mei 2026 - 12:21 WIB