Bungkam Ucapan Panji Gumilang, Direktur Prabu Foundation Dungkung Pernyataan KDM

- Editor

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Prabu Foundatiion, Asep Muhargono (Foto: dok. Mediakarya)

Ketua Umum Prabu Foundatiion, Asep Muhargono (Foto: dok. Mediakarya)

BANDUNG, Mediakarya – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespon pernyataan pimpinan pondok Pesantren Al-Zaytun, Abdussalam alias Panji Gumilang yang menyebut bahwa panggilan “Bapak Aing” merupakan sebutan kasar.

Dalam potongan video pidato yang beredar, sosok yang kerap dikaitkan dengan pimpinan Negara Islam Indonesia (NII) dan mantan terpidana kasus pemalsuan surat serta terpidana kasus Tindak Pidana Pencucian uang (TPPU) itu menilai penggunaan kata “aing” dalam bahasa Sunda berasal dari bahasa Banten yang memiliki konotasi kasar.

Pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu membantah pernyataan Panji Gumilang. Dia menegaskan bahwa “aing” bukan sekadar kata kasar, melainkan simbol kesetaraan dalam budaya Sunda.

Menurut Dedi kata “aing” mencerminkan hubungan setara antarmanusia. Ia juga mengaitkan kata ini dengan sejarah penyebaran Islam di Tatar Sunda, misalnya pada tokoh “Baing Yusuf” yang berarti “Bapak Aing” sebagai bentuk kedekatan pemimpin spiritual dengan umat.

Dedi juga menyebut konsep undak-usuk basa (tingkatan bahasa) baru muncul setelah pengaruh Kerajaan Mataram, dan “aing” adalah salah satu bentuknya yang digunakan sesuai situasi dan lawan bicara.

Menanggapi polemik ungkapan “aing” yang disebut oleh Panji Gumilang itu merupakan panggilan kasar, Direktur Eksekutif Prabu Foundation Asep Muhargono mengaku tidak kaget dengan statment pimpinan pondok pesantren Al-Zaytun tersebut.

Asep mengaku tidak terkejut dengan pernyataan Panji Gumilang, selain bukan ahli sejarah, sosok kontroversi yang kerap dikait-kaitkan dengan tokoh NII itu juga bukan orang sunda, sehingga wajar jika mulutnya itu asal berucap, meski harus menuai kontrovesri.

Baca Juga:  Kemendagri Dukung DKI Ganti Dokumen Penduduk Usai Ubah Nama Jalan

“Panji Gumilang itu orang Jawa Timur, kebetulan saja (Panji) memang beristrikan orang Banten. Namun demikian bukan berarti kata “aing” yang disebut kasar itu melekat dengan perilaku. Orang Banten tentu tak terima jika dirinya disebut kasar,” kata Asep kepada Mediakarya, Kamis (16/7/2026).

Asep menilai ucapan Panji Gumilang yang meresahkan masyarakat itu bukan hanya kali ini saja. Dalam hal ajaran agama Panji juga kerap melontarkan pernyataan yang cenderung ngawur dan menyesesatkan.

Belum hilang dari ingatan publik bahwa Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis pernah menjabarkan sejumlah kesesatan Panji Gumilang dalan potongan cuitan di Twitter.

“Dari salah penafsiran pada Surat Al Mujadalah ayat 11, menyebut jika Allah berbahasa Arab, nanti susah bertemu orang Indramayu, Gusti Allah nggak ngerti, hinga meyakini khotib sholat perempuan,” katanya

“Artinya, jangankan bahasa sunda, pemahaman agama yang sangat syar’i saja Panji Gumilang bisa merubahnya dengan kemauan sendiri,” imbuh dia.

Untuk itu, Asep meminta agar masyarakat tidak terjebak dengan kalimat yang disampaikan oleh Panji Gumlang.

Terkait dengan kata ‘aing” sebagai orang sunda, Asep mengaku sangat mendukung pernyataan kang Dedi Mulyadi. Karena sebutan “Bapak Aing” merupakan kalimat kesetaraaan

“Sikap feodalisme Panji Gumilang yang diterapkan di Al-Zaytun seharusnya tidak boleh diberlakukan di kelompok sosial lain karena bertentangan dengan nilai-nilai kesetaraan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia,” pungkasnya. (ded)

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dinilai Rendahkan Profesi Wartawan, Ketua Dewan Pers Kecam Pernyataan Oknum Politisi Demokrat
RUU Perampasan Aset Segera Disahkan, Pejabat Korup Bersiap Jatuh Miskin
Renungan Kemerdekaan: Masa Depan Demokrasi dan Hukum
Pernyataannya Kerap Blunder, Prabowo Diprediksi Bakal Ditinggal Pendukungnya Pada Pilpres 2029
OT Peduli Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa M 7,7 Nagekeo NTT
Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, IPPS Sebut Saatnya Jauhkan Prabowo dari Mikrofon
Peringatan Perdamaian Aceh Berujung Pengibaran Bendera Bulan Bintang
81 Tahun Indonesia Merdeka, LPKAN Tagih Kerja Nyata Aparatur Negara: Jangan Cuma Pandai Berjanji

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Dinilai Rendahkan Profesi Wartawan, Ketua Dewan Pers Kecam Pernyataan Oknum Politisi Demokrat

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:16 WIB

RUU Perampasan Aset Segera Disahkan, Pejabat Korup Bersiap Jatuh Miskin

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:25 WIB

Renungan Kemerdekaan: Masa Depan Demokrasi dan Hukum

Senin, 17 Agustus 2026 - 20:55 WIB

Pernyataannya Kerap Blunder, Prabowo Diprediksi Bakal Ditinggal Pendukungnya Pada Pilpres 2029

Minggu, 16 Agustus 2026 - 18:53 WIB

OT Peduli Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa M 7,7 Nagekeo NTT

Berita Terbaru

Daerah

Patriot Merdeka Cup Sajikan Padel Meriahkan HUT RI

Selasa, 18 Agu 2026 - 19:13 WIB