Kasus Perkara Suap Summarecon Bogor KPK Geledah Kementerian ATR/BPN

- Editor

Kamis, 17 September 2026 - 14:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo

Jakarta, Mediakarya.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah sejumlah lokasi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kamis (17/9/2026).

Salah satu lokasi yang digeledah yakni ruangan Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan penggeledahan dilakukan sebagai bagian dari penyidikan perkara dugaan korupsi di lingkungan ATR/BPN. Penyidik mencari serta melengkapi alat bukti dalam perkara yang bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) pada 14 September 2026.

“Dalam lanjutan penyidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Kementerian ATR/BPN, hari ini Kamis (17/9), penyidik memulai kegiatan penggeledahan,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).

Ia menyebut penggeledahan berlangsung di sejumlah lokasi di lingkungan kantor Kementerian ATR/BPN. Salah satunya merupakan ruangan Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN.

“Penggeledahan dilakukan di sejumlah lokasi di lingkungan kantor Kementerian ATR/BPN, salah satunya ruangan Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN,” ujarnya.

Menurut Budi, tindakan tersebut dibutuhkan penyidik guna memperoleh alat bukti tambahan yang berkaitan dengan perkara.

“Kegiatan penggeledahan tersebut dibutuhkan penyidik untuk mencari dan melengkapi alat bukti dalam penyidikan perkara yang bermula dari peristiwa tertangkap tangan ini,” jelasnya.

Dia mengatakan proses penggeledahan masih berlangsung. KPK akan menyampaikan perkembangan kegiatan tersebut secara berkala.

“Saat ini kegiatan masih berlangsung, kami akan update terus perkembangannya sebagai bentuk transparansi dalam proses hukum di KPK,” ujarnya.

Perkara ini bermula dari OTT KPK di wilayah Jabodetabek pada 14 September 2026. Dalam operasi tersebut, KPK mengamankan sejumlah pejabat ATR/BPN dan pihak swasta terkait dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor.

Baca Juga:  LMAN-Pemprov DKI Berkoordinasi Soal Pemindahan Aset ke IKN Nusantara

KPK kemudian menetapkan delapan tersangka. Mereka yakni Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN Lampri; Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I Sontang Coin Manurung; Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Adrianto Pitojo Adhi; Rizal Pahlevi; serta Arif Sugiyanto, Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, Erwin, dan Muhammad Fakhry.

Dalam konstruksi perkara yang dipaparkan KPK, pihak Summarecon diduga meminta bantuan Erwin guna mengurus pembukaan blokir sejumlah SHGB serta proses pemecahan HGB. Permintaan tersebut kemudian dikomunikasikan kepada Sontang selaku Kepala Kantah Kabupaten Bogor.

KPK menduga Sontang melalui Erwin meminta fee pengurusan senilai Rp2 miliar. Pihak Summarecon disebut hanya menyanggupi Rp1,5 miliar.

Pada 27 Agustus 2026, Adrianto diduga menyerahkan Rp1,5 miliar melalui pihak perantara kepada Erwin. Dari uang tersebut, Rp200 juta kemudian diduga diserahkan Erwin kepada Sontang sebagai fee terkait pembukaan blokir dan pemecahan HGB.

Selain perkara Summarecon, penyidik juga menemukan dugaan penerimaan lain di lingkungan ATR/BPN. KPK menyebut dugaan tersebut berkaitan dengan layanan pertanahan serta penerimaan yang melibatkan sejumlah tersangka. Penyidik masih menelusuri asal-usul, peruntukan, dan aliran uang tersebut.

KPK juga menemukan uang sekitar Rp8 miliar yang dikaitkan dengan Lampri. Uang tersebut ditemukan dalam sembilan koper. Penyidik masih mendalami keterkaitan penerimaan tersebut dengan perkara yang sedang ditangani.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo
Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi
Musda Golkar Nias Selatan Ke-VI: Momentum Satukan Kekuatan Demi Membesarkan Partai
Negara Harus Hadir Lindungi 233 Ribu Anggota KSP Kopdit Swastika Sari NTT
Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres
Ketum PMPRI Joker: PAW Beda Kelas dengan KDM, Satu Kerja Nyata Satu Kerja Buat Algoritma
Riset INDEF: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Sentimen Positif Netizen Anjlok dari 38,1% Jadi 29,9%
Dua Kandidat Mendaftar, Hanya Petahana Yang Lolos Verifikasi Balon Ketua Golkar Nias Selatan

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:52 WIB

Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:25 WIB

Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:07 WIB

Musda Golkar Nias Selatan Ke-VI: Momentum Satukan Kekuatan Demi Membesarkan Partai

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Negara Harus Hadir Lindungi 233 Ribu Anggota KSP Kopdit Swastika Sari NTT

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:57 WIB

Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres

Berita Terbaru