Mantan Loyalis Jokowi Ini Sekarang Sudah Mulai Mengkritisi Soal Politik Dinasti

- Editor

Senin, 4 Desember 2023 - 08:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ferdinand Hutahaean mengkritisi Anies Baswedan lewat kicauannya. (Instagram/@ferdinand_hutahaean)

Ferdinand Hutahaean mengkritisi Anies Baswedan lewat kicauannya. (Instagram/@ferdinand_hutahaean)

JAKARTA, Mediakarya – Pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan batas usia capres/cawapres yang berhasil meloloskan putra sulung presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai cawapres pendamping Prabowo Subianto, kian menguatkan bahwa Jokowi tengah membangun politik dinasti.

Namun adanya persepsi publik terkait politik dinasti yang diduga tengah dibangun oleh rezim yang saat ini berkuasa, langsung dibantah oleh Ade Armando yang merupakan loyalis Jokowi.

Ade Armando menyebut bahwa sejatinya politik dinasti ada di Yogyakarta. Pasalnya, pemerintahan yang ada di daerah Gudeg itu tidak dipilih melalui proses pemilu melainkan karena garis keturunan. Baginya, itulah yang disebut politik dinasti.

Pernyataan Ade pun langsung ditanggapi keras oleh politisi PDI Perjuangan (PDI-P) Ferdinand Hutahean yang juga mantan loyalis Jokowi.

Ferdinand menyebut Ade bodoh. Sebab, membandingkan sistem pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Indonesia.

“Kebodohan akut orang ini semakin parah membandingkan keistimewaan Jogja dgn negara ini,” ungkap Ferdinand seperti dikutip dari fajar.co.id, Senin (4/12/2023).

Apalagi, kata Ferdinand, bukan pertama kalinya Ade mempersoalkan hal demikian. Ia menyebut kader PSI itu pernah mempersoalkan beberapa isu di Jogja.

“Sudah berkali-kali juga orang ini mengusik Jogja dari berbagai isu,” ujarnya.

Ferdinand pun berspekulasi. Sekiranya PSI memang memang sengaja menyerang Jogja.

“Kenapa ya, apakah kader dan caleg @psi_id ini sengaja menyerang Jogja?” tandasnya.

Diketahui sebelumnya, Ade Armando melalui unggahannya di X mempertanyakan kritik politik dinasti yang selama ini dilontarkan para mahasiswa.

Baca Juga:  Ketua KPI Tanggapi Soal Saipul Jamil, Apa Kabar Kasus Pelecehan Karyawannya?

“Ini ironis sekali karena mereka justru sedang berada di sebuah wilayah yang jelas-jelas menjalankan politik dinasti dan mereka diam saja,” kata Ade Armando menyindir mahasiswa di Yogyakarta.

Ade Armando mengatakan, Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X tidak dipilih melalui pemilu melainkan karena garis keturunan. Baginya, itulah yang disebut politik dinasti.

“Anak-anak BEM ini harus tahu dong, kalau mau melawan politik dinasti, ya politik dinasti sesungguhnya adalah DIY. Gubernurnya tidak dipilih melalui pemilu,” jelasnya.

Seperti diketahui, Ferdinand merupakan mantan loyalis Jokowi. Direktur Eksekutif Indonesia Police Monitoring ini kerap membela Jokowi jika ada yang menyudutkannya.

Salah satunya saat sejumlah kalangan mempersoalkan keabsahan ijazah Jokowi yang diduga palsu. Bahkan dirinya menyatakan keinginannya agar semua pihak yang terkait dengan penyebaran tuduhan tersebut supaya ditangkap dan diproses hukum.

Akan tetapi setelah PDI-P pecah kongsi dengan Jokowi setelah putra sulungnya didorong maju sebagai cawapres, konstalasi politik di internal PDI-P berubah.

Sejumlah kader PDI-P yang selama ini puja puji terhadap kinerja dan sosok Jokowi kini berubah mengkritisinya.Hal itu seiring dengan keputusan Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres 2024.

Jokowi dalam hal ini sebagai kader PDI-P dinilai tidak fatsun terhadap keputusan partai, lantaran lebih memilih mendorong anaknya sebagai cawapres ketimbang mendukung Ganjar Pranowo.(red)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Komisi III DPR Kebut RUU Perampasan Aset, Koruptor Mulai Ketar-Ketir
PLN UID Jakarta Raya Borong Predikat Platinum Indonesia Green Awards 2026 Lewat Konservasi Pulau Sabira
Belum Sepekan, Pakuwon Mall Bongkar Kembali Padar Besi Setinggi 2 Meter
Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026
Komjen Pol (Purn) Oegroseno Telah Beri Teladan: Datang, Jelaskan Fakta, dan Percaya pada Kebenaran
Miliki Basis Massa Akar Rumput, Partai Gerakan Rakyat Kini tak Lagi Dipandang Sebelah Mata
IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria
Menanti Status Hukum Djan Faridz dalam Kasus Harun Masuku

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:46 WIB

Komisi III DPR Kebut RUU Perampasan Aset, Koruptor Mulai Ketar-Ketir

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:38 WIB

PLN UID Jakarta Raya Borong Predikat Platinum Indonesia Green Awards 2026 Lewat Konservasi Pulau Sabira

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Belum Sepekan, Pakuwon Mall Bongkar Kembali Padar Besi Setinggi 2 Meter

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Komjen Pol (Purn) Oegroseno Telah Beri Teladan: Datang, Jelaskan Fakta, dan Percaya pada Kebenaran

Berita Terbaru

Foto: Istimewa

Ekonomi & Bisnis

Kebocoran Devisa Terbongkar: Mengubah Peta Hubungan RI-Singapura 

Selasa, 4 Agu 2026 - 21:55 WIB

Warga berunjuk rasa di Kantor Kepala Desa Burangkeng dan mendesak BPD bertindak tegas terhadap Panitia Pilkades yang dinilai bekerja tidak profesional.

Daerah

BPD Bekukan Panitia Pilkades Burangkeng usai Didemo Warga

Selasa, 4 Agu 2026 - 21:45 WIB