JAKARTA, Mediakarya – Analis politik Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Nurul Julyana menilai Partai Amanat Nasional (PAN) berpotensi ditinggalkan oleh pendukungnya pada Pemilu 2029 mendatang, khususnya generasi Z, buntut dukungannya terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “pakar goblok”.
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Prabowo saat menghadiri perayaan HUT ke-28 PAN di Jakarta baru-baru ini, ketika menyinggung kritik para pengamat.
Nurul menyoroti sikap kader PAN dalam acara tersebut. Menurutnya, kader yang selama ini diklaim dekat dan didukung anak muda justru bertepuk tangan seolah memberikan dukungan saat Prabowo menyebut “pakar goblok”.
Tidak hanya kader di bawah, Ketum PAN Zulkifli Hasan juga menunjukkan gestur seolah mendukung pernyataan tersebut.
“Padahal PAN lahir dari rahim reformasi yang menjunjung tinggi kritik dan kebebasan berpendapat,” ujar Nurul dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Nurul, gestur tersebut menjadi preseden buruk bagi partai berlambang matahari terbit itu. PAN yang dulu dikenal sebagai partai reformis kini dinilai telah menjelma menjadi partai yang sangat pragmatis.
“PAN sudah tidak lagi sebagai partai reformis, melainkan menjelma menjadi partai pragmatis yang hanya mengejar kekuasaan. Padahal kritik pakar itu adalah vitamin bagi demokrasi,” tegasnya.
Nurul menambahkan, sikap permisif PAN terhadap narasi anti-kritik akan menjadi bumerang elektoral. Generasi Z yang kritis, melek literasi, dan menjunjung kebebasan berekspresi dinilai tidak akan mentolerir partai yang anti terhadap kritik kaum intelektual.
“Tak pantas generasi muda atau Gen Z mendukung partai tersebut pada pemilu mendatang. Mereka akan mencari partai yang lebih menghargai akal sehat,” katanya.
Lebih jauh, Nurul menyebut PAN saat ini lebih tepat digambarkan sebagai partai yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan bisnis.
“PAN lebih tepat sebagai partai yang mencari ladang bisnis dari kekuasaan. Bukan lagi partai yang memperjuangkan amanat rakyat seperti cita-cita awal reformasi,” pungkasnya. (Ugy)











