Megawati Peringati Peristiwa Berdarah Kudatuli

- Editor

Senin, 27 Juli 2026 - 19:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : (Banteng Muda Indonesia)

Foto : (Banteng Muda Indonesia)

Jakarta, Mediakarya – “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Monumen Kudatuli ini atau peristiwa 27 Juli pada 30 tahun yang lalu, saya resmikan,” kata Megawati. Kudatuli hingga kini dikenang sebagai sejarah kelam di akhir kepemimpinan Presiden kedua RI, Soeharto. Peristiwa itu dipicu oleh dualisme kepemimpinan PDI (PDIP kala itu) antara Megawati dan Soerjadi sebagai proksi pemerintah.

Presiden kelima RI itu menilai Monumen Kudatuli di kantor PDIP sebagai buah dari kesabaran revolusioner. “Apa arti kesabaran revolusioner? Adalah kalau kita terbentur oleh penghalang, maka kita tidak jangan berdiam diri. Kita pergilah perlahan-lahan untuk menghindarinya. Kesemuanya itu sebenarnya harus diajarkan kepada para rakyat kita di mana pun mereka berada,” katanya.

Monumen Kudatuli yang berdiri di halaman depan Kantor DPP PDIP menampilkan sosok seorang perempuan dengan mulut terbuka seolah sedang berteriak, sembari memeluk sejumlah orang sebagai simbol perjuangan, solidaritas, dan perlawanan. Sebelum peresmian, PDIP menggelar aksi teatrikal untuk mengenang Tragedi Kudatuli 27 Juli 1996 sekaligus mengingatkan kembali sejarah yang melatarbelakangi perjalanan partai tersebut.

Baca Juga:  Dosen University of Sydney Nilai Demokrasi di Era Jokowi Menurun

Berdasarkan hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Tragedi Kudatuli menyebabkan lima orang meninggal dunia, 149 orang mengalami luka-luka, 23 orang dinyatakan hilang, serta menimbulkan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai Rp100 miliar.

Dalam kesempatan itu, Megawati mengajak seluruh masyarakat untuk menengok para pejuang yang dimakamkan di TMP Kalibata. Kata dia, banyak pejuang yang dimakamkan tanpa nama. Presiden ke-5 RI itu lantas menyinggung generasi muda saat ini. Menurut dia, apa yang dirasakan generasi muda sekarang ini merupakan hasil perjuangan dari para pejuang bangsa di masa lalu.

“Lalu setelah merdeka sampai sekarang, bulan depan kita akan merayakan 17 Agustus 2026. Apakah kalian tidak akan insaf bahwa kalian bisa menjadi seperti ini itu karena apa? Darah para pejuang, darah anak-anak muda yang waktu itu pun seperti kalian yang ada di sini sekarang. Kalian mau jadi apa? Masa tidak malu?” ungkapnya.

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo
Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi
Musda Golkar Nias Selatan Ke-VI: Momentum Satukan Kekuatan Demi Membesarkan Partai
Negara Harus Hadir Lindungi 233 Ribu Anggota KSP Kopdit Swastika Sari NTT
Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres
Ketum PMPRI Joker: PAW Beda Kelas dengan KDM, Satu Kerja Nyata Satu Kerja Buat Algoritma
Riset INDEF: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Sentimen Positif Netizen Anjlok dari 38,1% Jadi 29,9%
Dua Kandidat Mendaftar, Hanya Petahana Yang Lolos Verifikasi Balon Ketua Golkar Nias Selatan

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:52 WIB

Dua Pekan Penentu: Agus Wahid Sebut Solusi Kenegaraan Ada di Tangan Prabowo

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:25 WIB

Politisi PDIP Semprot Mendagri dan Kepala BGN: Jangan Main Ancam Pemda Soal Satgas MBG, Ini Pemerasan Administrasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:07 WIB

Musda Golkar Nias Selatan Ke-VI: Momentum Satukan Kekuatan Demi Membesarkan Partai

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Negara Harus Hadir Lindungi 233 Ribu Anggota KSP Kopdit Swastika Sari NTT

Jumat, 30 Oktober 2026 - 06:57 WIB

Direktur Etos: Jangan Remehkan Pergerakan Masif PSI, Bisa Dominasi Pileg dan Pilpres

Berita Terbaru