Riset INDEF: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Sentimen Positif Netizen Anjlok dari 38,1% Jadi 29,9%

- Editor

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Logo INDEF (Ist)

Logo INDEF (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Riset terbaru Continuum INDEF bertajuk “Dua Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo di Mata Netizen” mengungkap fakta mengejutkan. Persepsi dan dukungan publik di media sosial terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran mengalami penurunan tajam.

Berdasarkan analisis 635 ribu perbincangan di empat platform, X, YouTube, TikTok, dan Threads, yang dibagikan dan di-retweet sebanyak 17,3 juta kali selama periode Januari-September 2026, sentimen positif netizen anjlok.

Jika pada evaluasi satu tahun pemerintahan pada Oktober 2025 sentimen positif masih di angka 38,1%, maka di tahun kedua ini hanya tersisa 29,9%. Turun 8,2 poin persentase dalam setahun.

Riset yang dilakukan Peneliti INDEF Data Scientist Wahyu Tri Utomo dan Ekonom INDEF Eko Listiyanto ini menggunakan perangkat berbasis machine learning dengan teknik web scraping/crawling, setelah dibersihkan dari duplikasi, konten tidak relevan, dan akun robot.

MBG dan KDMP.Jadi Biang Kerok Sentimen Negatif 

Dari delapan program utama yang dianalisis, enam di antaranya mengalami penurunan sentimen positif.

Penurunan paling tajam terjadi pada program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang anjlok sekitar 38 poin persentase. Program ini bersama Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi dua program yang paling disorot dan memiliki sentimen negatif paling tinggi, selain isu pemberantasan korupsi.

Untuk MBG, kritik netizen sangat tajam dan spesifik: kasus keracunan makanan, keamanan pangan, kekhawatiran penyalahgunaan anggaran, dan kapasitas penyelenggara yang dinilai tidak siap.

“Persoalan pokoknya bukan semata-mata tujuan program, melainkan kualitas pelaksanaannya,” ungkap Peneliti INDEF Data Scientist, Wahyu Tri Utomo, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (29/10/2026)

Sementara untuk Koperasi Desa Merah Putih, kritik bermuara pada proses rekrutmen manajer yang bermasalah, lokasi koperasi yang tidak tepat, potensi persaingan tidak sehat dengan warung dan pedagang kecil, serta risiko pemborosan anggaran.

Program Swasembada Pangan Diapresiasi, Tapi Harga Masih Melambung

Baca Juga:  Faisal Harris Bantah Terlibat Korupsi Bansos

Di tengah anjloknya sentimen, ada satu program yang justru mendapat apresiasi tinggi: Swasembada Pangan dengan 73,4% sentimen positif. Netizen mengapresiasi peningkatan stok beras, peran Bulog, dan upaya memperkuat ketahanan pangan.

Namun, ada catatan kritis: engagement perbincangan terkait kritik Swasembada Pangan 5,5 kali lebih tinggi daripada perbincangan positif. Artinya, isu mahalnya harga beras dirasakan sangat luas oleh masyarakat dan menjadi keluhan yang viral.

Penanganan Bencana dan Krisis Energi Jadi Isu Paling Negatif

Di luar delapan program utama, ada dua isu yang sentimen negatifnya hampir sempurna: penanganan bencana dengan 95,2% sentimen negatif dan krisis energi dengan 95,1% sentimen negatif.

Penanganan bencana dikritik terkait prioritas anggaran dan lambatnya respons pemerintah. Sementara krisis energi disorot karena kelangkaan BBM, gangguan listrik, dan buruknya tata kelola sektor energi.

Pelajaran Penting: Legitimasi Bukan dari Janji, Tapi dari Pelaksanaan

Riset ini memberikan tiga pelajaran penting: Pertama, legitimasi kebijakan semakin bergantung pada pelaksanaan, bukan sekadar janji program. Pemerintah bisa mendapat perhatian lewat peluncuran program, tapi kepercayaan butuh hasil yang terbukti.

Kedua, kritik netizen sudah bergerak dari kekhawatiran desain kebijakan menuju persoalan implementasi di lapangan yang berantakan.

Ketiga, tata kelola menjadi persoalan lintas program. Kekhawatiran korupsi, transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pengelola muncul di hampir semua program, terutama MBG dan KDMP.

“Riset Big Data ini memberikan sinyal bahwa kritik terhadap implementasi sejumlah program prioritas pemerintah semakin menonjol dalam percakapan media sosial pada 2026,” benernya.

Stop Pidato dan Perkuat Pengawasan

INDEF menyarankan pemerintah perlu mengalihkan penekanan dari pidato mengenai program dan perluasannya, menuju penguatan kualitas pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi dampak.

“Program beranggaran besar seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih membutuhkan transparansi serta mekanisme pertanggungjawaban yang dapat diuji secara independen,” pungkasnya. (Mame)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dua Kandidat Mendaftar, Hanya Petahana Yang Lolos Verifikasi Balon Ketua Golkar Nias Selatan
PDIP: Wacana MBG Masuk Kurikulum Cuma Pengalihan Isu Keracunan 50 Ribu Anak
Ayah Oet Desak Polemik Legalitas Bendera Bulan Bintang Tuntas Sebelum 4 Desember 2026
Pakar Sebut Gerindra-PDIP Makin Mesra, Jokowi-Gibran Justru Terpinggirkan Menuju 2029
Prabowo Puji Pramono Anung di Peresmian LRT Jakarta: Saya Akui Gubernur Hebat, Orang Baik, Meski Bukan dari Partai Saya
Elektabilitas Dedi Mulyadi Terancam Tergerus, Pramono Anung Jadi Pesaing Utama
Sestama BNPB Bungkam Usai Diperiksa KPK
Pembentukan Pansel KPU Bawaslu DPR Tawarkan Dua Skema

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:41 WIB

Riset INDEF: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Sentimen Positif Netizen Anjlok dari 38,1% Jadi 29,9%

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Dua Kandidat Mendaftar, Hanya Petahana Yang Lolos Verifikasi Balon Ketua Golkar Nias Selatan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:50 WIB

PDIP: Wacana MBG Masuk Kurikulum Cuma Pengalihan Isu Keracunan 50 Ribu Anak

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:55 WIB

Ayah Oet Desak Polemik Legalitas Bendera Bulan Bintang Tuntas Sebelum 4 Desember 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Pakar Sebut Gerindra-PDIP Makin Mesra, Jokowi-Gibran Justru Terpinggirkan Menuju 2029

Berita Terbaru