KOTA BEKASI, Mediakarya – Dana bantuan Rp100 juta dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk setiap RW mulai dirasakan manfaatnya di lingkungan. Hal ini diungkap oleh Lurah Jatimurni, kecamatan Pondok Melati, Mochamad Sunaryadi saat ditemui media, pada Selasa (30/6/26).
Kelurahan Jatimurni yang terdiri dari 8 RW mengaku antusias memanfaatkan dana yang di inisiasi oleh Walikota Bekasi Tri Adhianto tersebut, dan dirasakan membantu pada pengolahan lingkungan. Salah satu syarat untuk dapat menerima dana Rp100 jita itu adalah diwajibkan adanya Bank Sampah.
“Jatimurni 8 RW dibentuk Pokmas, ada 88 nya bank sampah sampai saat ini aktif bahkan penimbangan sampah kita laksanakan kurang lebih ada yang dua minggu sekali, ada yang sebulan dua kali itu rata-rata umumnya dua minggu sekali,” kata Mochamad Sunaryadi atau biasa dipanggil Lurah Adi kepada media.
Pengelolaan Rp100 juta itu dilakukan oleh orang yang paham terhadap pengolahan lingkungan, pemanfaatan sampah, sehingga anggaran tersebut terserap dengan baik.
“Itu pun memang faktor yang mereka memanfaatkan 100 juta itu sangat lebih paham terhadap pengolahan lingkungan, pemanfaatan sampah yang mana sampah tadi yang tidak bermanfaat jadi bermanfaat dan bernilai uang dengan ada bank sampah,” kata dia.
Adi menambahkan, dampak baik dari tepatnya pengolahan sampah, adalah menjadi mempunyai nilai ekonomi bagi warga. Ditambah lagi dengan adanya surat edaran Walikota Bekasi berkaitan dengan biopori pengolahan sampah organik di masing-masing bank sampah.
“Masing-masing rumah diwajibkan punya biopori organik dari yang kering bermanfaat, dari yang basah bermanfaat nah itulah bagian dari manfaat termasuk pemberdayaan masyarakatnya juga. Selain itu warga masyarakat jadi tahu apa artinya bank sampah apa artinya keuntungan sampah bagian itu banyak lah yang sangat bermanfaat untuk warga kami,” ungkap dia.
Nilai manfaat dengan adanya bank sampah di samping nilai ekonomi bagi warga, pengadaan untuk lingkungan seperti CCTV maupun pembelian bank sampah juga tidak menjadi sulit dengan keuntungan dari bank sampah.
Dana Rp100 juta tersebut, oleh RW di lingkungannya tidak segan ditambahkan anggarannya mencapai Rp 200 juta untuk membeli Gardu Otomatis.
“Saking antusiasnya dia beli lagi namanya disebutnya Gardu Otomatis anggaran 100 juta ditambahin sama RW saya 80 juta 180 juta berarti apa sangat bermanfaat sangat bermanfaat dan sangat luar biasa,”pungkasnya. (Mme)











