Direktur SDR Kritik KPK Soal Kasus Blueray: Jangan Hanya Tangani Kasus Kecil

- Editor

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Heri Purwanto (kanan)

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Heri Purwanto (kanan)

JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Heri Purwanto, melontarkan kritik terhadap penanganan dugaan kasus korupsi yang melibatkan perusahaan Blueray dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang saat ini tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurutnya, lembaga antirasuah itu diduga temgah melakukan kriminalisasi hukum dalam. Padahal pengusutan perkara tersebut seharusnya dilakukan secara menyeluruh dengan mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat, bukan hanya berfokus pada satu perusahaan atau hanya menargetkan Dirjen Bea Cukai.

Dalam keterangannya, Heri mempertanyakan alasan KPK yang dinilainya hanya menjadikan satu pihak sebagai target penyelidikan, sementara perusahaan lain yang diduga memiliki keterkaitan belum tersentuh proses hukum.

“Kenapa hanya Blueray? Kenapa 20 perusahaan lain itu tidak diungkap?” ujar Heri.

Ia juga menyinggung kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang menurutnya berhasil meningkatkan penerimaan negara dalam satu tahun terakhir. Karena itu, Heri mempertanyakan apakah terdapat kepentingan tertentu di balik proses hukum yang sedang berjalan.

“Pertanyaan saya sederhana, ada yang terganggu dalam permainan ini? Atas kinerja dari dirjen sendiri?” katanya.

Heri kemudian mengkritisi peran KPK yang menurutnya mulai bergeser dari tujuan awal pembentukannya sebagai lembaga independen pemberantas korupsi. Ia mengingatkan bahwa KPK dibentuk karena rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap penegakan hukum pada masa lalu.

Menurutnya, apabila KPK hanya menangani perkara secara selektif dan tidak menyentuh dugaan korupsi yang lebih besar, maka lembaga antirasuah tersebut berpotensi kehilangan kepercayaan masyarakat.

Baca Juga:  Hasyim Asy'ari Minta Jajarannya Bekerja Profesional dan Transparan

“Kalau hari ini KPK secara kinerja hanya bermain-main kasus, saya mengajak teman-teman, mari bubarkan KPK. Karena ternyata cuma jadi alat politik, alat penyanderaan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Heri juga mengaitkan kritiknya dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyatakan bahwa pemberantasan korupsi harus dimulai dari akar persoalan.

Menurut Heri, KPK semestinya berani mengusut dugaan korupsi yang lebih besar dan tidak berhenti pada perkara yang dinilainya memiliki dampak relatif kecil terhadap penerimaan negara.

Ia juga menilai KPK perlu menunjukkan capaian kinerja yang lebih signifikan mengingat lembaga tersebut menggunakan anggaran negara yang berasal dari pajak masyarakat.

“Kalau KPK mau bertindak, bertindaklah sekalian. Berburu itu berburu gajah besar, jangan hanya kasus kecil,” katanya.

Selain itu, Heri mempertanyakan mengapa dugaan praktik under invoicing baru menjadi perhatian belakangan ini. Menurutnya, apabila memang terdapat indikasi pelanggaran, seharusnya pengusutan dilakukan sejak awal pemerintahan sehingga memberikan efek jera bagi pelaku.

Di akhir pernyataannya, Heri kembali menegaskan pandangannya bahwa penegakan hukum di sektor kepabeanan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk membongkar dugaan praktik mafia yang beroperasi di kawasan pelabuhan.

“Hari ini cerminan kasus di Bea Cukai itu cuma dagelan. Hanya untuk menyelamatkan kelompok-kelompok hitam mafia yang bermain di pelabuhan. Seruan saya cuma satu, mari kita mulai revolusi dari pelabuhan,” tegasnya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

KPK Konfirmasi Panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Pekan Ini Terkait Kasus HGB Rp106,3 Miliar
Setahun Lebih Mandek, Kasus Perusakan dan Pencurian Properti Milik Asep Awaludin Masuki Babak Gelar Perkara Khusus
Negara Darurat Cognitif Reselience
Patroli Sat Samapta Polres Nias Selatan, Ciptakan Kamtibmas Kondusif
GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka
Amnesty International Kecam Kekerasan Terhadap Fungsionaris BEM UI, Desak Kapolri Usut Tuntas

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:52 WIB

KPK Konfirmasi Panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Pekan Ini Terkait Kasus HGB Rp106,3 Miliar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:28 WIB

Setahun Lebih Mandek, Kasus Perusakan dan Pencurian Properti Milik Asep Awaludin Masuki Babak Gelar Perkara Khusus

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:15 WIB

Negara Darurat Cognitif Reselience

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Patroli Sat Samapta Polres Nias Selatan, Ciptakan Kamtibmas Kondusif

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:04 WIB

GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN

Berita Terbaru

Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre) & Agus Rizal (Ekonom Strukturalis di Nusantara Centre)

Headline

Negara Darurat Cognitif Reselience

Rabu, 7 Okt 2026 - 05:15 WIB